Islam merupakan satu-satunya agama yang di dalam Kitab Sucinya, Al-Qur’an, membahas tentang waktu. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah atas waktu. Maka akan banyak ditemukan dalam Surat-surat Al-Qur’an yang membahas tentang waktu, seperti Wal ‘Ashr, Wadh Dhuhaa,Wal Laili, dan sebagainya.
Islam dengan Al-Qur’an ini sangat menekankan waktu. Ibadah-ibadah khusus dalam Islam seperti shalat, puasa, haji, yang ada dalam rukun Islam itu, semua berhubungan dengan waktu. Misalnya, shalat dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Lalu kapan memulai puasa, kapan awal Ramadhan dan mengakhirinya di awal Syawal, semua itu berhubungan dengan waktu. Maka betapa waktu itu teramat penting.
Waktu yang sudah lalu tidak akan kembali dan waktu yang saat ini akan menjadi masa lampau dan waktu yang akan datang akan menjadi waktu sekarang, dalam ungkapan bahasa Arab “Lan tarjial ayyamu lati madhatz.”
Tidak hanya itu, waktu juga menentukan ajal seseorang dan manusia tidak ada yang hidup selamanya di dunia. Semua memiliki batas waktu untuk hidup di dunia.
Sementara itu ada peribahasa asing yang berbunyi “Times is money” yang menunjukkan ungkapan terlambat bukan ungkapan manusia modern yang ada saat ini. Mereka hanya menganggap bahwa waktu adalah uang atau emas. Ungkapan itu terlalu rendah maknanya.
Jauh dari itu, Al-Qur’an justru mengartikannya menjadi makna yang lebih penting, yaitu waktu akan terus berputar dan tidak akan pernah berhenti, maka berhati-hatilah untuk terus mengisinya.
Jika perumpamaan “Times is money” itu hanya sebatas materi yang memiliki batasannya, maka Islam mengartikan waktu jauh lebih penting dari itu.
Ada perbedaan mendasar antara waktu menurut Islam dan waktu menurut pandangan Barat. Islam memahami bahwa dalam waktu terdapat dimensi ibadah, karena waktu dalam filsafat Islam merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, berasal dari-Nya.
Waktu yang dikenal oleh manusia, mulai dari abad, dasawarsa, tahun, bulan, hari, jam, menit, hingga detik merupakan hidayah dan hadiah dari Sang Mahakuasa yang harus diisi dengan sebaik mungkin. Sebab, siapa saja yang dapat memanfaatkan waktu, menghargainya dengan melakukan hal-hal yang baik untuk kepentingan dunia dan akhiratnya, maka mereka merupakan orang-orang yang beruntung.
Selain itu, kesuksesan seseorang juga tidak terlepas dari waktu yang digunakan dan dimanfaatkan. Terdapat peribahasa Arab yang artinya “Waktu itu bagaikan pedang, jika tidak dimanfaatkan maka akan memotong kita.”
Artinya, jika manusia tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik, maka manusia akan tergerus sebab waktu tidak akan pernah kembali dan waktu tidak akan berhenti walaupun sedetik.
Orang sukses ialah orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ia menghargai setiap waktu yang ada untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif, baik untuk kesuksesan dunianya maupun akhiratnya.
Demikian juga sebaliknya, orang-orang yang tidak pernah berhasil dan jauh dari kesuksesan yaitu mereka yang tidak bisa memanfaatkan serta menghargai setiap waktu yang diberikan oleh Allah. Padahal waktu merupakan hadiah dan hidayah.
Orang-orang yang kerap menemukan kegagalan yaitu orang-orang yang mengisi waktunya dengan hal-hal yang negatif, sehingga tidak ada manfaatnya, baik untuk dunia maupun akhiratnya.
Tidak hanya itu, waktu yang dianugerahkan Allah kepada manusia juga harus dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Adz Dzariyat ayat 56 yang artinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Ibadah kepada Allah memiliki waktu khusus, yang harus diketahui oleh setiap hamba-Nya. Sebab, ketika orang mengetahui waktu-waktu khusus tersebut, maka mereka akan mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Wallahu a’lam bish shawab. []


















