Banyuwangi, Gontornews — Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani membuka Festival Kitab Kuning yang digelar di Masjid Kiai Saleh Lateng, Kelurahan Lateng, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (10/6/2023).
Pameran yang merupakan bagian dari Banyuwangi Festival (B-Fest) itu, menampilkan seratusan kitab peninggalan KH Kiagus Muhammad Sholih Syamsudin atau yang dikenal sebagai Kiai Saleh Lateng (1862-1952).
Kitab-kitab yang dipamerkan bukan hanya hasil tulisan Kiai Saleh. Mayoritas justru kitab-kitab pengetahuan berbahasa Arab dan bertuliskan Jawa Pegon hasil tulisan ulama-ulama besar Tanah Air.
Sebut saja di antaranya kitab tulisan KH Abdul Wahab Hasbullah yang dibuat sebelum pendirian Nahdlatul Ulama (NU), naksah kuno tulisan tangan Raden Asnawi Kudus dan kitab-kitab langka lainnya.
Bupati Ipuk mengatakan, pameran Festival Kitab Kuning diharapkan bisa menggaungkan kembali budaya mempelajari kitab kuning sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan di kalangan para santri.
“Festival ini sebagai upaya merestorasi keilmuan hasil karya para ulama dari berbagai macam bidang ilmu pengetahuan,” kata Bupati Ipuk.
Menurutnya, banyak anak muda saat ini lebih memilih belajar keilmuan dari rujukan buku-buku yang ditulis oleh para pemikir barat.
Tren tersebut perlu diimbangi dengan budaya membaca ilmu pengetahuan dari kitab-kitab Kuning.
Sebab, kitab kuning bukan hanya berisi tentang ilmu-ilmu agama, melainkan juga hal-hal lain yang berkaitan dengan sejarah dan pemikiran para tokoh besar.
“Ilmu-ilmu yang ada di kitab kuning harus kembali dihadirkan. Karena sekarang sudah jarang sekali orang mengikuti kegiatan pengajian yang membahas kitab kuning,” sambungnya.
Dengan demikian, Bupati Iuik berharap, pembelajaran kitab kuning akan mencetak generasi-generasi muda yang kuat keimanan dan keilmuannya.
Kurator Pameran Festival Kitab Kuning, Ayung Notonegoro menambahkan, kitab-kitab yang dipamerkan merupakan koleksi Kiai Saleh yang tersimpan puluhan tahun dalam lemari.
Kitab-kitab itu dieksplorasi dan dikaji ulang untuk menghidupkan kembali khazanah peninggalan Kiai Saleh.
“Semoga cara ini akan menjadikan sumber amal jariyah bagi Kiai Saleh dan para ulama lain yang menuliskan karyanya. Juga mengukuhkan khazanah pengetahuan Islam Nusantara yang telah ditorehkan oleh para ulama tersebut bertahun-tahun silam,” kata Ayung.
Sekadar untuk diketahui, Kiai Saleh adalah ulama besar Banyuwangi. Ia juga intelektual Islam terkemuka sekaligus pejuang yang gigih.
Kiai Saleh juga disebut sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, sekaligus pernah menjadi Mustasyar PBNU pada 1928. [Fath]





















