Sahabat Ibnu Abbas RA pernah menjawab mengapa di dalam Al-Qur’an banyak disebutkan kisah-kisah masa lalu, kisah para Nabi, kisah para raja, kisah kaum-kaum yang shalih dan talih, yang taat maupun maksiat. Mengapa di dalam Al-Qur’an banyak disebutkan kisah-kisah dan bahkan satu daripada nama surat dalam Al-Qur’an ialah Al-Qashas yang merupakan jama’ dari qisshah. Kata Ibnu Abbas RA, lianna al-qisshata jundun min junudillah, karena yang namanya kisah itu bisa menjadi pasukan-pasukan Allah yang menguatkan umat Islam supaya istiqamah, supaya terus bersemangat untuk membela ajaran agama, supaya kemudian mengetahui kalau mereka memperjuangkan agama dengan benar maka Allah akan menolongnya, dan contohnya sudah sangat banyak, supaya mereka tidak maju mundur, tidak takut, supaya mereka tetap terus berani. Sebaliknya, untuk mengingatkan, kalau sampai Antum tidak istiqamah, kalau sampai Anda kemudian kufur, apalagi Anda sampai murtad, apalagi Anda sampai mendukung musuh-musuh Allah, ujungnya jelas, Anda bukan hanya kalah di dunia tapi habis juga di akhirat.
Begitulah kita semuanya, belajar dari sejarah, termasuk sejarah bangsa dan negara kita Indonesia. Mengapa ini saya sampaikan? Karena, bahkan founding fathers dan founding mothers, dari 65-an anggota BPUPKI, ada dua yang wanita: satu seorang wanita Muslimah, beliau sarjana hukum pertama Indonesia yang nanti aktif di ormas Islam, namanya Mathla’ul Anwar, Mr Maria Ulfah Santoso. “Mr” bukan karena dia laki-laki tapi itu gelar sarjana hukum pada masa Belanda. Yang kedua, dari Kraton namanya Roro Sukaptinah. Inilah dua tokoh yang membersamai tokoh-tokoh umat lain yang mendirikan Indonesia.
Mereka, melalui panitia ad hoc yang dibentuk dan menghadirkan kesepakatan 22 Juni menghadirkan Piagam Jakarta, yang tadinya dipersiapkan menjadi surat yang akan dibacakan, mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Karenanya, di alinea ketiganya berbunyi: “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan, berkebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Mari kita lihat, ungkapan-ungkapannya sangat dalam. Ini juga menunjukkan bagaimana pengaruh dari tokoh-tokoh umat Islam dalam mempersiapkan Indonesia yang merdeka, di dalam beriteraksi dengan tokoh bangsa yang beragam itu. Panitia Sembilan terdiri dari sembilan orang: empat orang dari tokoh kebangsaan; ada Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Yamin, Mr Ahmad Soebarjo, satu dari kalangan nonmuslim, Mr AA Maramis, kemudian empat dari kalangan umat Islam: dua dari ormas, satu dari NU KH Wahid Hasyim, satu dari Muhammadiyah KH Kahar Muzakkir; dua dari partai Islam: H Agus Salim dan Abikusno Tjokrosujoso. Jadi, Indonesia dimerdekakan dengan melibatkan ormas Islam dan partai Islam.
Bahkan, sebelumnya, kalau melihat pada BPUPKI, selain NU dan Muhammadiyah ada juga yang latar belakangnya dari Persatuan Umat Islam (PUI), ormas Islam terbesar di Jawa Barat. Bahkan nanti juga melibatkan seperti Persis (Persatuan Islam) Muhammad Natsir. Dari PUI, ada KH Ahmad Halim dan KH Ahmad Sanusi. Mereka ini kemudian membersamai tokoh-tokoh bangsa yang lain dan melakukan dialog serta mempersiapkan Indonesia merdeka. Mereka bisa meyakinkan agar kemerdekaan Indonesia bukan kemerdekaan yang atheis, bukan kemerdekaan yang komunis, bukan kemerdekaan yang liberalis, kemerdekaan yang sekularis, tapi kemerdekaan yang “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan, berkebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” []





















