Ponorogo, Gontornews — Pondok Modern Darussalam Gontor menganggap stigma negatif terhadap pesantren merupakan perbuatan kaum penjajah. Tuduhan negatif terhadap pesantren seperti kolot, berpikiran sempit, hidup dalam kondisi lingkungan yang kotor hingga kesan kumuh merupakan suara dari kaum penjajah di masa lalu.
“Kalau sampai sekarang kita masih mendengar bahwa seolah-olah pesantren hanya mengurus akhirat, keagamaan dan tidak mempunyai kontribusi terhadap penanaman patriotisme, perjuangan dan lain sebagainya, maka itu sangat kita sayangkan,” kata guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor, H Ahmad Suharto, dalam acara Gontor Talk yang diseleggarakan oleh Gontor TV.
“Dulu, mereka (penjajah) sebenarnya paham tentang bahaya pesantren. Mereka menyadari bahwa pesantren adalah benteng pertahanan moral dan pertahanan akidab bangsa Indonesia sehingga meskipun Belanda menjajah lebih dari tiga setengah abad, tapi faktanya, mereka tidak berhasil memurtadkan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim,” sambungnya.
Sebaliknya, perang melawan penjajah yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro justru menunjukkan sisi patriotisme dan perjuangan para kiai dan santri dalam melawan penjajah. Sejak dulu, pesantren yang berangkat dari masyarakat akar rumput mampu bersifat fleksibel. Karena itu, para penjajah selalu kesulitan karena pesantren tumbuh tanpa memerlukan izin dari otoritas tertentu pada saat itu.
“Para penjajah tidak mampu menekan karena pesantren bersifat fleksibel, tidak memerlukan izin macam-macam. (Pesantren bisa berdiri selama) ada kiai, ada masjid, ada proses pendidikan dan pengajaran,” jelas alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 1985 tersebut.
“Akhirnya, mereka mendiskreditkan pesantren dan tidak mengakui pendidikan pesantren,” ujarnya.
“Mereka menganggap atau membangun citra jelek pesantren: santri itu gudigen, santri itu hidup di balik bilik-bilik yang sempit, tidak higienis, makanannya tidak sehat, kolot, pakaiannya kumuh, tidak mengerti pengetahuan umum, pembawa kemunduran. Jadi, sebenarnya itu bagian dari pencitraan negatif yang dibangun oleh penjajah,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]























