pesanan-baju-kaos
29 °c
Pecenongan
Wed
Thu
Tuesday, 29 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Kuatkan Akidah sebagai Fondasi Kejar Jabatan dan Kedudukan Dunia

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
28 July 2024
in Tafsir
0
Kuatkan Akidah sebagai Fondasi Kejar Jabatan dan Kedudukan Dunia

Foto: Republika

Landasan Teologis

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًاۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Qashash: 83)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Transaksi Terbaik Orang Beriman dengan Allah

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam Tafsir Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir disebutkan makna (negeri akhirat itu) yakni kemuliaan, kedudukan, dan kenikmatan yang ada di sana yang diberikan di surga. Isyarat dengan tilka yaitu untuk memuliakan dan mengagungkan balasan di surga, berbanding terbalik dengan penghinaan terhadap kenikmatan dunia yang diberikan kepada Qarun dan orang-orang semisalnya.

Makna (kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi) yakni angkuh dan sombong terhadap orang-orang beriman.

Makna (dan berbuat kerusakan) yakni melakukan kemaksiatan kepada Allah di dunia.

Adapun berbuat kerusakan telah jelas itu dilarang dalam keadaan apa pun. Sedangkan derajat yang tinggi itu dilarang jika berupa kesombongan dengan meremehkan orang lain dan menzalimi mereka. Adapun keinginan untuk meraih derajat yang tinggi dalam kebenaran dan agama atau rasa suka kepada pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal yang bagus tidak termasuk dalam larangan ini.

Dalam Tafsir Ash-Shaghir disebutkan negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah SWT menyebutkan bahwa akhirat dan kenikmatan yang kekal yang tidak berubah dan tidak lenyap, Dia menjadikannya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan merendah, yaitu mereka yang tidak menghendaki bersikap angkuh di muka bumi, yaitu tidak bersikap angkuh, sombong, sewenang-wenang, dan menimbulkan kerusakan kepada makhluk Allah. Sebagaimana yang dikatakan Ikrimah bahwa makna “al-uluwwu” adalah menyombongkan diri.

Sa’id bin Jubair berkata bahwa “al-uluwwu” adalah sewenang-wenang.

Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri meriwayatkan dari Manshur, dari Mus­lim Al-Bathin, bahwa makna yang dimaksud adalah menyombongkan diri tanpa alasan yang dibenarkan dan berbuat kerusakan dengan mengambil harta tanpa alasan yang dibenarkan.

Ibnu Juraij berkata tentang firman-Nya: (orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi) yaitu bersikap angkuh dan bertindak sewenang-wenang (dan tidak pula berbuat kerusakan) yaitu mengerjakan perbuatan maksiat.

Dalam Tafsir Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan, setelah Allah SWT menyebutkan Qarun dan kesenangan dunia yang diberikan kepadanya serta kesudahan yang diperolehnya, maka Allah SWT mendorong manusia agar mengutamakan akhirat (surga) serta menyebutkan sebab yang dapat menyampaikan ke sana. Yang dimaksud negeri akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat.

Mereka tidak memiliki keinginan agar berada di atas hamba-hamba Allah, bersikap sombong kepada mereka (dengan merendahkannya) dan kepada kebenaran (dengan menolaknya). Jika mereka tidak berkeinginan seperti itu, maka berarti keinginan mereka tertuju kepada Allah dan kepada negeri akhirat, keadaan mereka tawadhu’ kepada hamba-hamba Allah, serta tunduk kepada kebenaran dan beramal shalih.

Nilai-Nilai Pendidikan

QS Al-Qashash ayat 83 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, mendidik hamba-Nya menjadi pribadi yang takwa serta beriman kepada Allah dengan akidah yang kuat.

Kedua, mengajarkan hamba-Nya agar menjauhi sikap menyombongkan diri, angkuh, sewenang-wenang dan zalim serta menjauhi perbuatan maksiat.

Ketiga, mengajarkan hamba-Nya agar menjadi hamba yang berakhlak mulia, beramal shalih dan berbuat kebaikan untuk bekal di akhirat yang abadi.

Keempat, mendidik hamba-Nya agar tidak tertipu kenikmatan dunia sesaat dan yang merugikan kelak di akhirat serta bersyukur atas segala karunia.

Makna Akidah

Istilah “Aqidah” atau sering dieja “akidah” berasal dari kata bahasa Arab: al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti “ikatan”, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti “kepercayaan atau keyakinan yang kuat”, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya “mengokohkan” atau “menetapkan”, dan ar-rabthu biquwwah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti “mengikat dengan kuat”.

Arti akidah menurut Islam adalah landasan iman bagi umat Muslim. Kemudian, pemahaman terhadap akidah yang benar dianggap penting untuk menjalani kehidupan sebagai Muslim.

Akidah sebagai Fondasi

Semakin dalam akidah ini tertancap dalam jiwa dan kian kuat terpendam dalam hati sanubari, maka hal itu menjadi pendorong untuk melakukan segala kebaikan dan penolong bagi mereka yang ingin meraih segala kesuksesan, keshalihan dan istiqamah. Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit. (QS Ibrahim: 24)

Ayat di atas menjelaskan tentang perumpamaan orang yang memiliki akidah atau keimanan itu layaknya sebuah pohon yang tumbuh subur, yang akarnya kuat menghunjam ke bawah sedangkan cabang dan dahannya kokoh tinggi menjulang, dia kokoh dan kuat tidak mudah roboh diterpa angin, dan tidak akan tumbang dihantam badai, dia akan tetap berada pada tempatnya, sangat mustahil berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain maka itulah pohon yang baik sebagai perumpamaan dari akidah yang kuat.

Jadikanlah akidah itu hakikat kehidupan hati, asas fondasi pertumbuhan amalan, keistiqamahan budi pekerti, serta baiknya manhaj dan jalan hidup. Akidah harus diperkuat dalam menjalani kehidupan agar tidak menyimpang dari pokok ajaran.

Lima Dasar Islam sebagai Fondasi

Rasulullah SAW bersabda:

(بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Mencari kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta tanpa fondasi akidah yang kuat sangatlah berbahaya karena akan menghalangi nikmat akhirat dan kemuliaannya. Allah SWT berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًاۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Qashash: 83)

Nabi SAW bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ …

“Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat…” (HR Bukhari: 7148)

Nabi SAW juga bersabda mengenai mereka yang berambisi terhadap harta dan kehormatan:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan.” (HR Ahmad, Nasa’, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.

Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.

Ambisi akan jabatan dan kekuasaan juga berbahaya jika tanpa akidah yang kuat karena menyebabkan pelakunya jauh dari Allah, Rasulullah SAW bersabda:

وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنَ السُّلْطَانِ دُنُوًّا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا

“Tidaklah seseorang semakin dekat kepada penguasa kecuali akan semakin jauh dari Allah.” (HR Ahmad, Abu Daud No. 4860)

Waspadalah dalam urusan hati, beramalah dengan niat yang ikhlas, dan ketahuilah sudah dekat waktunya bahwa perkara yang diinginkan oleh seseorang pasti berakhir apabila meninggal dunia.

Demikian cinta harta dan kedudukan serta ambisi terhadap keduanya dapat merusak agama dan fondasi akidah seorang Muslim habis tak bersisa, kecuali Allah berkehendak lain. Akar dari cinta kepada harta dan kemuliaan mengikuti hawa nafsu.

Wahab bin Munabbih berkata: “Mengikuti hawa nafsu akan melahirkan cinta kepada dunia, cinta kepada dunia akan melahirkan cinta kepada harta dan kemuliaan, dan cinta kepada harta dan kemuliaan melahirkan sikap menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah.”

Apabila seseorang lebih mengutamakan sesuatu yang fana dan tidak sempurna, maka itu merupakan indikasi ketidaktahuannya terhadap sesuatu yang lebih utama atau jika dia tahu maka itu merupakan indikasi dia tidak menginginkan sesuatu yang lebih utama tersebut. Kedua hal ini menunjukkan lemahnya iman, akal, dan hatinya. Sebab, orang yang mengejar dunia, berambisi terhadapnya, dan lebih memprioritaskannya daripada akhirat. Tapi jika ia percaya namun tidak lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, maka ia merupakan orang yang akalnya rusak dan tidak pandai memilih yang terbaik bagi diri sendiri.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.

Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; kecapaian (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.

Cara Menguatkan Akidah sebagai Fondasi

Lalu bagaimana cara menguatkan akidah sebagai fondasi dalam mengejar jabatan dan kedudukan dunia yang fana? Pertama, bertakwa, berinfak dan menjauhi sifat kikir. Allah SWT berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS At-Taghabun: 16)

Rasulullah SAW bersadbda:

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Hati-hatilah kalian terhadap As-syuhh (kikir), sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena disebabkan oleh As-syuhh (kikir). As-syuhh (kikir) itu mengajak mereka untuk bakhil, maka mereka berbuat bakhil; ia itu mengajak memutuskan tali silaturrahmi, maka mereka memutuskan tali silaturrahmi; dan ia itu mengajak mereka untuk berdosa, maka mereka berbuat dosa.” (HR Abu Daud 2/324 No. 1698)

Kedua, tidak ingin dipuji. Allah SWT berfirman:

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih. (QS Ali imran: 188)

Ketiga, tidak melampaui batas dan takut terhadap kebesaran Allah serta menahan diri dari hawa nafsunya. Allah SWT berfirman:

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ ۝٣٧وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ ۝٣٨ فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ۝٣٩ وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ۝٤٠فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ۝٤١

Adapun orang yang melampaui batas. (37) Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. (38) Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggalnya. (39) Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, (40). Sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (41) (QS An-Nazi’at: 37-41)

Keempat, senantiasa beramal shalih. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS Al-Baqarah: 277)

Kelima, mencari rezeki halal. Karena memperoleh rezeki yang halal merupakan ciri kehidupan yang baik dan mereka memiliki spiritual yang kuat, maka Allah mencintai orang yang demikian sebagaimana Rasulullah bersabda:

إنَّ للهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى عَبْدِهِ تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hamba-Nya lelah dalam mencari yang halal. (HR Ad Dailami)

Keenam, senantiasa mengingat Allah. Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra’d: 28)

Ketujuh, menjaga shalat dan sabar.

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ(٤٥) الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ࣖ(٤٦)

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (45) (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (46) (QS Al-Baqarah: 45-46)

Kisah Teladan

Disarikan dari Kitab Syarhun wa Bayanun Lihaditsi: Muhammad bin Sulaiman, Gubernur Bashrah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya: “Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali saya memandangmu, saya gemetar segan kepadamu ?” Beliau menjawab: “Karena seorang alim apabila menghendaki ridha Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu.”

Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan jalan mengenal Allah, takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, selalu merasa dalam pengawasan-Nya, tawakal, ridha dengan takdir-Nya, merasa tenteram dan rindu kepada-Nya, dia akan sampai kepada-Nya dan dia tidak akan peduli dengan kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia, dan mereka hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridha Allah.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.” (QS Maryam: 96)

Dan dalam sebuah hadis yang shahih disebutkan:

Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian dia dikaruniai dengan diterimanya di muka bumi”. (HR Bukhari No. 3037, 5693, 7047 dan Shahih Muslim No. 2637)

Kesimpulannya, mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat.

Orang yang bahagia yaitu orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR Tirmidzi No. 3591) []

Tags: AkidahDuniaJabatan
Share56Tweet35Send
Previous Post

HNW Hadiri Undangan Aksi Bela Palestina dalam Rangka Hari Bermuhammadiyah

Next Post

Bobayur: Minuman Sehat nan Segar Inovasi Mahasiswa INAIS Kelompok KKN Desa Dukuh

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
al amien prenduan

Keluarga KH Moh. Tidjani Djauhari Terima ‘100th Gontor Awards’ di Peringatan Satu Abad Gontor

22 September 2026
100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

25 September 2026
Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

27 September 2026
Sosiologi Ketahanan Gontor

Sosiologi Ketahanan Gontor

24 September 2026
Ketika Menjadi ‘Setengah Santri’ di Gontor

Ketika Menjadi ‘Setengah Santri’ di Gontor

24 September 2026
Sosiologi Ketahanan Gontor

Pengalaman Gontor Mendidik Santri Terampil Komunikasi

0
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

0
Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

0
Empat Alumni KMI Gontor Resmi Menjadi Guru Besar UNIDA Gontor

Empat Alumni KMI Gontor Resmi Menjadi Guru Besar UNIDA Gontor

0
Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

0
Sosiologi Ketahanan Gontor

Pengalaman Gontor Mendidik Santri Terampil Komunikasi

29 September 2026
Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

29 September 2026
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

29 September 2026
Empat Alumni KMI Gontor Resmi Menjadi Guru Besar UNIDA Gontor

Empat Alumni KMI Gontor Resmi Menjadi Guru Besar UNIDA Gontor

28 September 2026
Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

27 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result