Solok, Gontornews — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 9 Sulit Air, Solok, Sumatera Barat, Selasa (10/06/2025), menyelenggarakan lomba memasak rendang yang melibatkan masyarakat Nagari Sulit Air. Perlombaan ini merupakan upaya PMDG untuk ikut melestarikan warisan kuliner Nusantara yang penuh cita rasa nan bersejarah yakni rendang.
Wakil Pengasuh PMDG Kampus 9 Sulit Air, Ustadz Mohammad Ridwan SHI, MH, berharap generasi muda Indonesia harus terus melestarikan kuliner khas Sumatera Barat tersebut. Ia khawatir, jika tidak dilestarikan, kuliner kebanggaan Indonesia ini bisa punah atau terhapus karena perkembangan zaman.
“Kuliner luar biasa ini jangan sampai punah/terhapus karena perkembangan zaman. Maka untuk menjaganya, in syaa Allah, lomba masak ini akan kita lestarikan, termasuk di Pondok Modern Darussalam Gontor,” katanya dalam rilis yang diterima gontornews.com.
“Jangan sampai generasi muda saat ini melupakan kuliner khas Sumatera Barat karena ini merupakan budaya yang luar biasa. In syaa Allah, Gontor bersama masyarakat Sulit Air (Basamo maka manjadi) sama-sama mempererat silaturahim,” sambung alumnus PMDG 2004 tersebut.
Sekretaris Wakil Pengasuh PMDG Kampus 9 Sulit Air, Achmad Galih Pratama, melaporkan 13 kelompok di Nagari Suli Air, satu perwakilan guru dan satu perwakilan santri yang mengikuti kompetisi unik ini. Para peserta diperkenankan untuk membawa resep dari rumah masing-masing. “Tentu saja, (kompetisi ini) membuktikan bahwa tradisi kuliner bukan hanya diwariskan tetapi juga dirawat dengan penuh kebanggaan,” kata Achmad Galih kepada gontornews.com.
“Kompetisi ini menjadi ajang memperkuat identitas lokal sekaligus mempererat hubungan antarwarga Jorong di wilayah Sulit Air,” tambahnya.
Sebagai informasi, pemilihan rendang sebagai objek lomba bukan tanpa alasan karena merupakan mahakarya kuliner khas masyarakat Minangkabau. Sementara rendang khas Nagari Sulit Air dikenal karena kaya rempah serta memiliki filosofi mendalam dalam proses memasaknya.
Lomba ini menjadi wujud penghormatan terhadap kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat. Gontor Kampus 9 memandang rendang sebagai jalan dakwah budaya yang menyatukan rasa dan asa.
Situasi lomba pada Selasa (10/6/2025) siang, pondok menyulap halamannya menjadi dapur besar yang dipenuhi aroma santan, cabai dan wangi rempah. Para peserta sibuk mengaduk kuali di atas tungku api, menyatu dengan asap dan peluh yang menjadi saksi cinta mereka terhadap budaya sendiri.
“Semangat gotong royong terlihat jelas, setiap tim bekerja dengan hati-hati, teliti, dan penuh pengabdian, seolah mereka tengah menulis sejarah di atas bara,” ucap Galih.
Penilaian dilakukan oleh beberapa tokoh masyarakat Sulit Air dan juga panitia yang berpengalaman dalam dunia kuliner tradisional. Aspek yang dinilai meliputi keaslian resep, rasa, tekstur, presentasi, dan kisah di balik masakan. Setiap tim diberi kesempatan untuk menjelaskan filosofi di balik rendang mereka, menjadikan lomba ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga tentang narasi dan nilai yang hidup dalam setiap suapan.
Acara ini juga menjadi ruang silaturahmi antarmasyarakat, mempererat hubungan antarjorong, serta menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat. Para asatidz Gontor turut ambil bagian sebagai panitia dan pelaksana acara, belajar langsung bagaimana tradisi dan pendidikan dapat berjalan berdampingan. Dari rendang, mereka belajar nilai sabar, kerja keras, dan menghargai akar budaya yang menjadi bagian dari identitas diri.
Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang yang disambut meriah oleh seluruh peserta dan penonton. Para juara mendapatkan penghargaan dan hadiah menarik, namun kemenangan sejati untuk seluruh warga Nagari Sulit Air yang telah menjaga dan merayakan rendang sebagai warisan bersama. Gontor 9 membuktikan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat membangun peradaban dari dapur, dari rasa, dan dari cinta pada budaya. [Mohamad Deny Irawan]


















