Sumenep, Gontornews — Prof KH Abdus Somad Lc MA DESA PhD pada Senin (21/7/2025) tengah mengunjungi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Pada rangkaian kunjungannya tersebut, ustadz yang biasa disapa UAS itu pun turut mengisi Kuliah Shubuh di Masjid Al-Amien Prenduan.
Kepada Gontornews.com, Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Al-Amien Prenduan menjelaskan bahwa UAS turut menyampaikan beberapa poin terkait kunci sukses belajar di pesantren.
Pertama, tentukan arahmu, Allah SWT pasti menolongmu. Seperti, target, mau jadi apa? Maka, sangat penting ada yg mengarahkan. Memahami urgensi Haul Ulama/leluhur guna menceritakan perjuangan mencari ilmu dan berdakwah, agar dapat ditiru atau diteladani. “Ajaran Islam yaitu: 1) tentukan arah target, 2) tentukan strategi untuk mencapainya, 3) bertawakal kepada Allah,” terang sang da’i.
Kedua, Serius. Sungguh-sungguh dalam belajar. Lakukan cara-cara belajar yang baik, cari teknik-teknik memberi tanda pada buku bacaan agar mempermudah menguasainya. “Kenapa harus serius? Kalau main-main maka merugikan diri dan orangtua,” tekan UAS.
Ketiga, Cita-cita. UAS pun menjelaskan bahwa cita-cita utama UAS adalah membahagiakan orang tua. Maka, UAS mengejar ijazah S1, S2, S3 agar bisa mengajar lebih banyak, berdakwah lebih luas sampai luar negeri. Kenapa UAS bertekad mengajar di luar negeri yakni agar bisa mendapatkan honor dolar kemudian bisa menghajikan orangtua.
Ibu kita tidak minta apa-apa, hanya berharap anak-anaknya menjadi qurrata a’yun. Kalau sudah tua, yang membahagiakan orangtua yaitu anaknya yang dekat agama, rajin tahajud. “Mengapa target membahagiakan ibu tiga kali lebih utama? Karena ibu mengandung, melahirkan, dan menyusui,” terang UAS.
Keempat, Jangan sendirian, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sesama santri, mahasiswa, harus saling menolong.
Jangan pernah lupakan kawan. Jagalah hubungan baik.
Kelima, doa adalah senjata orang beriman. Sesukses apa pun kalian, kembali ke pondok, ingat berapa banyak air yangg kalian minum. “Mintakan doa ke orang shalih, ke guru, ke orang alim,” pungkasnya. [Edithya Miranti]






















