Pembentukan akhlak mulia harus dimulai dengan pembersihan hati dan membutuhkan integrasi yang solid dari semua pihak. Pendidikan dalam keluarga memang penting, tapi sekolah, lingkungan dan pemerintahan, semua harus ikut ambil bagian. Manusia terbaik yaitu para sahabat yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW. Secara fisik, sahabat Rasulullah sama dengan kita manusia zaman sekarang. Namun, mereka bisa menjadi golongan manusia terbaik sepanjang masa karena ditempa dengan pendidikan hidup yang luar bi asa. Apalagi gurunya tiada lain sang manusia istimewa, Nabi Muhammad SAW.
Sang guru yang mengajarkan kaumnya dengan kurikulum terbaik sepanjang masa. Rasulullah merupakan teladan terbaik dalam akhlak mulia. Karena beliau memang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan mampu menghasilkan orang-orang berakhlak mulia.
Dr Adian Husaini MSi, cendekiawan Muslim, dalam webinar bertema “Membangun Generasi Berkarakter Melalui Pendidikan Islami” yang digelar Nurul Iman Al Azhary menjelaskan bahwa pendidikan kita hanya sebatas ilmu tanpa hikmah, maka itu sudah kuno alias ketinggalan zaman. Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa akhlak itu kondisi jiwa yang sudah kokoh atau stabil, yang melahirkan perbuatan tanpa berpikir.
Karena itu, dalam mendidik anak kita harus melampaui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). “Yaitu mendidik hati anak kita,” ujar Pendiri Pesantren At Taqwa Depok itu kepada Majalah Gontor, Sabtu (17/5/2025).
Misalnya, bersegera membantu pembangunan masjid atau bersedekah ke anak yatim, itu belum tentu akhlaknya baik. Karena ternyata modusnya kampanye untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg). “Tapi jika orang akhlaknya baik, otomatis dia akan membantu tanpa tapi, keluar dari hati yang bersih. Itu baru akhlak mulia,” tegas Dr Adian.
Karena itu, Rasulullah SAW diutus untuk melakukan tiga perkara, yaitu membacakan ayat-ayat suci Allah (tilawah), menyucikan jiwa kita (tazkiyah), dan mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah (ta’lim).
Jadi, selain harus dekat dengan Al-Qur’an, kita juga perlu senantiasa membersihkan hati. Karena akhlak yang baik bermula dari hati yang bersih.
Kunci sukses membentuk akhlak mulia pada anak tidak hanya bergantung pada diri anak itu sendiri. Sebab orangtua, guru, dan pemerintah pun harus baik akhlaknya. Itu baru bisa sukses. Ini tantangan kita bersama.
“Jadi, terintegrasi dari rumah, lingkungan, sekolah, pemerintahan, dan semuanya,” ujar Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini.
Berikut ini lima jurus terbaik membentuk akhlak mulia anak: Pertama, harus dicontohkan. Perlu keteladanan dari orang-orang sekitar, terutama orangtua dan guru di sekolah.
Kedua, harus dibiasakan. Ada pepatah mengatakan, bisa karena terbiasa.
Ketiga, beri motivasi. Menceritakan kisah-kisah teladan dinilai mampu menjadi motivasi yang sangat bagus untuk anak.
Keempat, disiplin dalam penegakan aturan. Anak yang melanggar atau taat dalam menjalankan aturan bisa diberikan sanksi dan reward.
Kelima, didoakan. Hasil pendidikan anak kita bukan sebab akibat dari pendidikan itu sendiri, namun ini anugerah dari Allah SWT. [] Edithya Miranti























