Bogor, Gontornews — Acara puncak Language Festival (LAFEST) 2025 berlangsung meriah meski sempat diwarnai hujan deras yang mengguyur area pesantren. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Bagian Bahasa Pondok Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor ini menjadi ajang penutup seluruh rangkaian lomba kebahasaan yang digelar selama Oktober.
Awalnya, acara direncanakan di lapangan utama pesantren. Namun, kondisi cuaca memaksa panitia memindahkan lokasi ke lantai dasar.
“Tantangan besar mungkin cuaca, karena awalnya acara direncanakan di lapangan. Qodarullah, keputusan dewan asatidz memindahkan ke basement merupakan keputusan terbaik. Kami para panitia pun bisa bekerjasama, bahu membahu, dan bertanggung jawab demi suksesnya acara,” ujar M. Adhitya, Ketua Panitia Grand Closing LAFEST 2025 di Bogor, Sabtu (1/11/2025).
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, LAFEST kali ini digabung dengan peringatan Hari Santri Nasional, karena adanya percepatan pergantian pengurus bagian. Namun, panitia tetap menggelar Grand Closing tersendiri agar nilai kebahasaan tidak hilang.
“Kami bagian bahasa mengusulkan agar Grand Closing tetap dibuat secara khusus agar tidak kehilangan esensi kebahasaannya,” jelas Adhitya.
Selain pembagian hadiah untuk para pemenang lomba, acara juga menampilkan berbagai drama berbahasa Arab dan Inggris yang memukau penonton. “Penampilannya tidak kaku dan lebih realistis,” ungkap Nadhif, anggota Language Community.
Kegiatan ini ditutup dengan tausiyah Dr KH Syamsul Rizal, yang menegaskan pentingnya kesadaran berbahasa di lingkungan pesantren.
“Bahasa adalah mahkota. Setiap santri perlu memiliki kesadaran dan kemauan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa demi masa depan,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras panitia, Grand Closing LAFEST 2025 berhasil menjadi momentum yang membangkitkan gairah santri dalam berbahasa — menjadikan PMUQI terus unggul sebagai pesantren yang menjunjung tinggi budaya bahasa. [Bayu}


















