Generasi rebahan, sebuah ungkapan satire bagi para pemuda yang malas untuk bergerak, malas untuk beraktifitas dan malas untuk mengembangkan diri. Dalam teori sosial, instrumen ‘kemalasan’ ditandai dengan angka NEET (Not in Education, Employment or Training) atau jumlah pemuda yang tidak sekolah, tidak bekerja atau tidak mengikuti program pelatihan atau workshop.
Survei yang dilakukan oleh JakPat yang melibatkan 1.155 responden, pemuda kelahiran 1997-2012, mengungkap 63 persen dari mereka memanfaatkan waktu kosong untuk menggulirkan (scroll) sosial media di gadget mereka. Tidak hanya itu, dalam survei yang dilaporkan pada Desember 2024 itu, 37 persen Gen Z mengalami anxiety disorder atau perasaan gelisah, cemas, khawatir, risau atau emosi yang ditandai dengan keadaan yang tidak menyenangkan akibat kekacauan batin.
Pertanyaannya: Apa yang terjadi pada mereka? Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Dr Abdul Mu’ti MEd, menjawabnya dengan lugas karena mereka generasi Strawberi, generasi yang tampak indah tapi layu manakala terkena sinar matahari.
“Sekarang ini kita menghadapi tantangan yang saya sebut dengan fragile generation, generasi yang ringkih. Dalam bahasa Al-Qur’an, generasi yang dha’if, generasi yang lemah. Terutama lemah mental, lemah spiritual walaupun secara fisik generasi sekarang ini lebih hebat dari generasi masa saya,” ungkapnya saat tampil pada Scout Wisdom Forum dalam perhelatan World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 di Bumi Perkemahan Cibubur, 12 September 2025.
Tetapi, pria yang juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2022-2027 itu juga memberikan sejumlah masukan dan solusi agar generasi muda menjadi generasi Agile, generasi yang kuat fisik dan kuat mental guna menyongsong Indonesia Emas 2045 mendatang.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, yang hadir dalam pertemuan tersebut berhasil merangkum pidato Prof Abdul Mu’ti dan merangkainya dalam format tanya-jawab. Berikut ulasannya!
Bagaimana Anda melihat perhelatan World Moslem Scout Jamboree (WMSJ) 2025 di Jakarta?
Saya merasa berbahagia dan bergembira bisa hadir di sini, di forum yang sangat penting, forum pramuka, generasi Muslim dunia yang diselenggarakan dan diprakarsai oleh Pondok Modern Gontor Ponorogo. Ini dalam rangkaian 1 Abad Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjadi peletak dasar pondok modern di Indonesia.
Program ini sangat penting dan sangat sesuai dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang berusaha untuk menunaikan amanat konstitusi dan melaksanakan kebijakan Presiden Prabowo untuk membangun generasi yang berkarakter, generasi yang sehat, generasi yang kuat dan generasi yang berdedikasi tinggi dalam membangun bangsa dan negaranya.
Program seperti ini sangat penting di tengah tantangan kita, ketika banyak generasi muda kita menjadi generasi, yang sering ulang-ulang, generasi stroberi. Stroberi itu indah dipandang, tapi begitu terkena sinar matahari langsung layu.
Selain generasi stroberi, kita sedang menghadapi tantangan generasi fragile. Apa yang Anda maksud?
Sekarang ini kita menghadapi tantangan yang saya sebut dengan fragile generation, generasi yang ringkih. Dalam bahasa Al-Qur’an, generasi yang dha’if, generasi yang lemah. Terutama lemah mental, lemah spiritual walaupun secara fisik generasi sekarang ini lebih hebat dari generasi masa saya. Tetapi kita juga melihat hasil tes yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan atau Kementerian Kesehatan yang karena habit (kebiasaan) gaya hidup (lifestyle), mereka ternyata physically not really healthy.
Secara fisik, mereka juga tidak cukup sehat karena beberapa sebab: Pertama, kebiasaan untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat, banyak makanan yang kita sebut junk food, makanan yang maybe delicious but not nutritious. Nah, more seriously it is neither nutritious nor delicious. Enak juga kagak, bergizi juga kagak. Tapi itu yang banyak dikonsumsi anak-anak kita.
Junk food, makanan yang mungkin ladzid, mungkin delicious, tapi tidak sehat untuk jasmani, tidak sehat untuk fisik generasi bangsa kita ini. Mengonsumsi minuman dengan kadar gula yang tinggi. Sehingga dari hasil tes kesehatan itu, banyak mereka yang berusia muda, masih kepala dua, tapi sudah mengalami diabetes dan lain-lain. Itu karena nutrisi.
Bagaimana Anda mendefinisikan niraktivitas pada pemuda yang sering kita sebut mager?
Anak-anak muda sekarang ini mager. Mager itu malas gerak. Lack of physical activities, tidak banyak kegiatan fisik. Yang banyak gerak, jari jempolnya. Kenapa? Mereka lebih banyak memegang gadget daripada memegang buku dan lebih banyak berinteraksi dengan mereka yang jauh tapi ‘tidak dekat’ dengan mereka yang dekat. Duduk bersebelahan tapi mengobrol, bukan dengan sebelahnya, tapi dengan mereka yang berada di belantara dunia yang berbeda. Tertawa sendiri, entah dengan siapa. Sementara di sebelahnya juga begitu.
Malas gerak itu membuat mereka physically tidak cukup sehat. Dan yang kedua, selain malas gerak, mereka malas bergaul karena mereka menghabiskan banyak waktu di depan screen. Kalau dulu screen-nya televisi, sekarang screen-nya gawai. Inilah yang sedang kita perbaiki, coba kita jawab dengan gerakan-gerakan yang kita menyebutnya gerakan “7 kebiasaan anak Indonesia hebat” dan berbagai kegiatan yang dimaksudkan agar generasi muda ini perlahan-lahan berubah from fragile generation to agile generation. Kalau fragile itu mudah patah, mudah pecah, dan banyak generasi muda kita ini mudah patah hati.
Anda juga menyebut mereka generasi barcode. Apa maksudnya?
Generasi barcode adalah sebuah generasi yang ketika sudah bucin (budak cinta), cinta buta, cinta seseorang dan patah hati, dia melukai diri sendiri sebagai tanda kalau dia sedang berduka cita dan dia kemudian bertekad untuk hidup dan mati bersama-sama. Ini juga persoalan mental yang kita hadapi.
Saya beberapa bulan lalu membaca buku judulnya ‘Beberapa Alasan untuk Tidak Setuju Bunuh Diri’. Penulisnya seorang profesor yang mencoba 10 kali bunuh diri. Profesor ini mencoba 10 kali bunuh diri dan tidak mati. Karena itu dia menulis buku itu.
Lalu apa yang perlu dilakukan agar mereka tidak mager?
Saya itu mewajibkan diri saya setiap bulan harus beli buku baru minimal 1 dan harus saya baca supaya, sebagai menteri, saya tidak ketinggalan informasi dan saya selalu meng-update ilmu-ilmu yang baru karena ini bagian dari komitmen saya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Setidaknya ada tujuh kebiasaan itu yang kalau kita gali dari ajaran Islam, kulluhum mawjudun fil qur’an wa sunnatirrasul. Bangun pagi maujud fil qur’an. Pertama, kita diperintahkan untuk bangun fajar. Wa minallayli fatahajjad bihi nafilatan laka, ‘asa an yab’atsaka rabbuka maqāman mahmūdan.
Yang kedua, beribadah. Banyak riset yang menunjukkan kebiasaan bangun pagi dan ibadah itu tidak hanya memberikan kesehatan secara spiritual tetapi juga kekuatan mental dan kesiapan menghadapi hari yang baru dengan optimisme. Yang berlalu, biarlah berlalu. Yesterday is yesterday and we are not living in yesterday. We are living in now and the future.
Yang ketiga, kebiasaan untuk senantiasa berolahraga. Tidak harus selalu berat, ringan saja karena tubuh kita ini harus bergerak. Ciri makhluk hidup itu bergerak. Jika sudah tidak bergerak, berarti tidak hidup. Kemudian, mereka harus generasi yang membiasakan diri makan sehat dan bergizi. Qur’annya, halalan thayyiban. Itulah sehat bergizi. Kemudian berikutnya, gemar belajar. Utlubil ilma minal mahdi ilal lahdi. Gemar belajar, belajar sepanjang hayat. Belajar dari siapa saja, belajar kapan saja, bahkan belajar kepada alam.
Apa pendapat Anda tentang kegiatan pramuka?
Menurut saya, nilai-nilai kepanduan ini menjadi bagian penting bagaimana kita membangun agile generation, generasi yang punya mental kuat, generasi yang memiliki kemandirian, generasi yang memiliki kesiapan untuk berbuat yang terbaik bagi sesama. Generasi, yang sering saya sebut, melaksanakan misi nubuwwah yaitu menghadirkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Dan inilah yang menjadi ciri kepanduan dan itu alasan saya mengapa pramuka saya wajibkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di semua jenjang pendidikan di Indonesia.
Pramuka menanamkan kegembiraan. Wa absyirū, bergembira kalian, semua harus bergembira. Karena itu pramuka itu cirinya kan gembira, menyapa dengan gembira. Ini yang menjadi ciri dari generasi yang punya optimisme. Dia optimis. Masalah selalu ada, tapi tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Karena itu, dia menghadapi semua masalah, semua rintangan, dengan gembira, dengan suka cita. Masalah tidak bisa diselesaikan dengan kita bermuram durja. Dan inilah yang dibangun oleh pramuka yang senantiasa positif melihat sesuatu. []





















