Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sebentar lagi tiba. Bagi masyarakat Indonesia, Ramadhan merupakan bulan yang sangat berkesan dan penuh dengan memori indah. Mengapa? Rupanya Indonesia memiliki ragam acara penyambutan unik dan khas kedatangan bulan penuh keberkahan dalam Islam tersebut.
Kedatangan bulan Ramadhan tidak cukup dengan ‘penyambutan’ semata tetapi juga perlu disikapi dengan tepat, dengan ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu, seseorang akan terombang-ambing dalam kebingungan. Tanpa keberkahan ilmu, ibadah terasa tidak khidmat dan hanya sekadar menggugurkan kewajiban saja. Tentu saja, ibadah berkualitas yang selalu kita harapkan saat bulan Ramadhan tiba.
“Bagi saya yang paling penting kesiapan mental dan spiritual untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri,” ujar Prof Dr Susiknan Azhari, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kepada Majalah Gontor.
Founder Galeri Astronomi Islam itu mengakui, mayoritas Muslim di Indonesia merindukan kebersamaan dalam memulai dan mengakhiri Ramadhan. Jika terjadi perbedaan dan belum ada titik temu, maka perlu dikembangkan sikap saling menghormati dan terus berikhtiar mencari titik temu agar bisa mengawali dan mengakhiri Ramadhan secara bersama.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai guru besar alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu seputar cara masyarakat Muslim di Indonesia menyikapi kedatangan bulan Ramadhan. Simak penuturannya:
Bagaimana Anda melihat masyarakat Muslim di Indonesia menyambut kedatangan bulan Ramadhan?
Sepanjang pengamatan saya, masyarakat Muslim di Indonesia punya tradisi yang sangat kaya dan penuh keceriaan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Ada nuansa kegembiraan kolektif yang khas, mulai dari kegiatan bersih desa, padusan, berziarah ke makam, tabuh bedug, dugderan, hingga tradisi saling bermaafan. Semua ini menunjukkan Ramadhan bukan hanya peristiwa ibadah individual, tapi juga perayaan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Indonesia memiliki kemampuan unik memadukan ajaran agama dengan budaya lokal sehingga suasana Ramadhan terasa hangat, akrab, dan penuh harapan.
Apa yang mereka siapkan menjelang kedatangan bulan Ramadhan?
Sepanjang pengamatan saya, biasanya masyarakat menyiapkan dua hal: pertama, kesiapan spiritual seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, atau memperbaiki niat dan hubungan sosial; dan kedua, kesiapan praktis seperti kebutuhan pangan, pengaturan waktu kerja dan sekolah, serta kegiatan keluarga. Namun bagi saya, yang paling penting kesiapan mental dan spiritual untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri. Di sinilah pentingnya para takmir masjid melakukan kegiatan persiapan menyongsong bulan Ramadhan dengan memfokuskan aspek ruhani sebagai bekal menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Apakah tradisi penyambutan yang lumrah terjadi di Indonesia juga terjadi di luar negeri?
Ketika saya berada di luar negeri, suasana penyambutannya sangat berbeda. Di beberapa negara, Ramadhan lebih bersifat personal dan tidak semeriah di Indonesia. Tidak banyak tradisi sosial seperti di sini. Hal ini bisa dimaklumi karena kultur masyarakat yang berbeda. Namun saya merasakan kualitas ibadah yang lebih tenang dan fokus karena aktivitas lebih sederhana. Di Saudi Arabia, musim Ramadhan “musim bersedekah” yang berlimpah. Di manapun tempat tersedia makanan untuk berbuka, bahkan dalam perjalanan mobil diberhentikan dan diberi makanan dan lainnya. Alhamdulillah tradisi yang baik ini terbawa ke Indonesia. Saat ini hampir setiap masjid di Indonesia menyiapkan buka bersama. Hal ini memberi pengalaman berharga bahwa ekspresi keberagamaan dapat berbeda-beda, tetapi esensi Ramadhan tetap sama: memperkuat kedekatan kepada Allah dan sesama manusia.
Bagaimana Anda melihat perkembangan ilmu falak di Indonesia dalam 10 tahun terakhir?
Alhamdulillah wa Syukrulillah. Perkembangan ilmu falak di Indonesia dalam satu dekade terakhir sangat menggembirakan. Instrumen astronomi Islam berupa observatorium bertambah, penelitian meningkat, dan kajian akademik semakin kuat. Lembaga pemerintah, ormas, dan perguruan tinggi mulai bersinergi. Selain itu, perkembangan teknologi digital membuat akses data astronomi makin mudah sehingga kualitas hisab dan rukyat meningkat tajam. Berbagai pesantren telah memiliki observatorium. Pesantren Assalam Surakarta merupakan pesantren pertama yang memiliki observatorium. Saya berharap ke depan Pondok Modern Gontor juga memiliki observatorium dan planetarium yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan sains. Selain itu, berdiri berbagai Program Studi Ilmu Falak di Perguruan Tinggi Keagamaan di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Apakah banyak kalangan muda (Gen-Z) tertarik dengan ilmu falak?
Alhamdulillah, saya melihat peningkatan minat yang signifikan. Banyak anak muda, terutama Gen-Z, tertarik karena ilmu falak atau astronomi Islam sekarang dikemas lebih modern: menggunakan aplikasi, teleskop digital, fotografi hilal, hingga konten edukatif di media sosial. Mereka melihat bahwa ilmu falak tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga bagian dari sains dan peradaban Islam. Di sinilah peran para guru dan dosen sangat penting untuk memasyarakatkan astronomi Islam. Untuk itu, para guru dan dosen harus kreatif-inovatif dalam pembelajaran. Hilangkan kesan ilmu falak sulit. Tumbuhkan ilmu falak mudah dan mengasyikkan.
Bagaimana cara Rasulullah SAW menentukan awal bulan hijriah?
Rasulullah SAW menentukan awal bulan hijriah dengan rukyat, yaitu melihat hilal secara langsung, dan apabila tidak terlihat maka dilakukan istikmal, menyempurnakan bulan menjadi 30 hari. Di kalangan sahabat terdapat variasi praktik karena kondisi geografis dan kemampuan observasi yang berbeda. Namun prinsip dasarnya tetap sama yaitu kepastian waktu ibadah harus dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.
Bagaimana metode penetapan awal bulan hijriah di negara-negara di luar Indonesia?
Metodenya beragam. Ada negara yang murni menggunakan rukyat, seperti Saudi Arabia dan Maroko. Ada yang menggunakan hisab dengan kriteria tertentu, seperti Turki dan Singapura. Ada pula yang menggabungkan keduanya seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Keberagaman metode ini dipengaruhi faktor fikih, astronomi, paham keagamaan, dan juga politik keagamaan masing-masing negara.
Bagaimana Anda melihat ragam metode penetapan awal Ramadhan di Indonesia?
Menurut pemahaman saya, dalam menentukan awal Ramadhan sebetulnya tidak bisa dipisahkan dengan bulan-bulan lainnya. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam QS At-Taubah ayat 36. Ayat ini menjelaskan bahwa satu tahun terdapat 12 bulan (Muharram hingga Dzulhijjah), mengapa umat Islam terfokus pada bulan Ramadhan dan Syawwal? Hal ini merujuk pemahaman tekstual terhadap hadis-hadis rukyat. Jika hal ini dilakukan terus-menerus maka sulit untuk mencari titik temu. Masing-masing pihak merasa metode yang digunakan paling sesuai dengan pesan Nabi SAW. Dalam kamus Lisanul ‘Arab disebutkan kata ru’yat memiliki tiga makna, yaitu ru’yat bil aini (rukyat dengan mata), ru’yat bil ilmi (rukyat dengan ilmu), dan ru’yat bil qalbi (rukyat dengan hati). Ketiganya dipraktikkan di Indonesia. Rukyat dengan mata (Nahdlatul Ulama), rukyat dengan ilmu (Muhammadiyah), dan rukyat dengan hati (Thariqat Naqsyabandiyah).
NU menggunakan rukyat, Muhammadiyah menggunakan hisab, dan pemerintah menggunakan hisab-rukyat sebagai jalan tengah. Bagaimana pendapat Anda?
Dalam konteks ini tergantung pendekatan yang digunakan. Perlu diketahui usaha memadukan hisab dan rukyat sudah lama dilakukan oleh pemerintah, yaitu pada era Abdul Mukti Ali sebagai Menteri Agama Republik Indonesia ditandai berdirinya Badan Hisab Rukyat yang diketuai Sa’adoeddin Jambek. Berbagai kegiatan dilakukan dan berdampak positif bagi usaha mempertemukan pengguna hisab dan rukyat. Sayangnya dalam perjalanan berikutnya ada perubahan kebijakan. Misalnya pada era Lukman Hakim Saifuddin sangat intensif membangun silaturahim dengan melakukan kunjungan ke ormas Islam mencari titik temu dengan membentuk Tim Unifikasi Kalender Hijriah Indonesia. Kebijakan ini tidak dilanjutkan pada era Gus Yaqut dan diganti Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia dengan pendekatan moderasi beragama.
Bagaimana perkembangan dan progres unifikasi kalender Hijriah saat ini?
Setengah Abad lebih upaya penyatuan kalender Islam telah dilakukan. Pertemuan pertama dilaksanakan di Kuwait pada 23–28 Muharram 1393/26 Februari–3 Maret 1973, dihadiri lima negara yaitu Qatar, Mesir, Aljazair, Tunisia, dan Kuwait. Pertemuan kedua berlangsung di Istanbul, Turki, pada 26–29 Dzulhijjah 1398/27–30 November 1978, yang dihadiri 19 negara, termasuk Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Sudan, Maroko, dan Arab Saudi. Salah satu keputusan yang penting penetapan kriteria imkanur rukyat dengan tinggi hilal minimal 5° dan elongasi 8°. Perubahan besar terjadi pada 1437/2016 ketika Turki menginisiasi Konferensi Kalender Islam Global yang dihadiri oleh para astronom, ulama, dan perwakilan resmi 60 negara. Untuk pertama kalinya, sebuah model kalender dirumuskan dengan metodologi ilmiah yang jelas, kriteria astronomi yang terukur, dan konsensus luas. Hasil konferensi tersebut menjadi tonggak sejarah modern, karena untuk pertama kalinya umat memiliki model kalender global yang lengkap: kriteria ijtimak, awal bulan universal, dan struktur penanggalan hingga puluhan tahun ke depan. Turki berhasil memadukan khazanah fikih klasik dengan sains modern, sehingga layak dijadikan model utama dalam penyatuan kalender Islam global. Banyak negara dan organisasi internasional semakin menyadari pentingnya kalender Islam global, terutama untuk kepentingan ibadah dan sosial ekonomi. Di Indonesia, wacana Kalender Hijriah Global Turkiye (KHGT) makin menguat dengan adanya dialog antarormas dan dukungan akademik. Kini, tanggung jawab berpindah ke pundak negara-negara Islam, lembaga fikih, dan masyarakat Muslim untuk menggunakan Kalender Hijriah Global Turkiye sebagai simbol persatuan umat. Jika langkah ini diambil, maka dunia akan menyaksikan kebangkitan baru peradaban Islam yang tegak di atas ilmu, harmoni, dan visi global. Saatnya umat Islam bersatu melalui kehadiran Kalender Hijriah Global Turkiye. Mā lā Yudraku Kulluhu Lā Yutraku Kulluhu.
Apa sikap yang perlu dimiliki masyarakat Indonesia dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan atau Syawwal?
Sepanjang pengamatan saya, masyarakat Muslim di Indonesia mayoritas merindukan kebersamaan dalam memulai dan mengakhiri Ramadhan. Jika terjadi perbedaan dan belum ada titik temu sikap yang perlu dikembangkan saling menghormati dan terus berikhtiar mencari titik temu agar bisa mengawali dan mengakhiri Ramadhan secara bersama. Perbedaan metode penetapan merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Jangan sampai perbedaan teknis ini merusak ukhuwah. Kita perlu menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. Perbedaan hal biasa. Persatuan luar biasa.
Apa pesan Anda untuk santri, masyarakat, ormas Islam, dan pemerintah?
Pesan saya, mari menjadikan ilmu sebagai landasan dalam beragama. Santri harus memperdalam astronomi Islam dan sains modern. Masyarakat perlu lebih bijak menyikapi informasi. Ormas Islam hendaknya terus berdialog dan mencari titik temu dengan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi maupun organisasi. Pemerintah harus mengambil peran strategis sebagai pemersatu umat. Sebagai negara besar yang penduduknya mayoritas Muslim tidak ada salahnya mengambil peran dalam upaya mewujudkan kalender hijriah pemersatu. Pilihan Kalender Hijriah Global Turkiye (KHGT) untuk dijadikan pedoman bersama merupakan jalan tengah terbaik. Tidak ada pihak yang dimenangkan atau dikalahkan.
Kegagalan selama ini dalam upaya penyatuan kalender hijriah Indonesia, salah satunya karena sulit menerima pandangan di luar organisasinya. Misalnya, Hisab Wujudul Hilal digunakan sebagai acuan nasional, ormas di luar Muhammadiyah sulit menerima. Begitu pula sebaliknya. Kalender Hijriah Global Turkiye menjadi contoh nyata hasil ijtihad kolektif modern yang tidak hanya melibatkan para ahli fikih, tetapi juga astronom, akademisi, dan representasi berbagai negara Muslim. Konggres Istanbul Turki 1437/2016 merupakan pertemuan internasional yang paling banyak dihadiri perwakilan yakni 60 negara. Kehadiran KHGT menjadi “penengah” bagi semua pihak. Dengan mengacu KHGT dijamin kebersamaan memulai dan mengakhiri Ramadhan di Tanah Air dapat terwujud. Sekiranya masih ada kekurangan. Tidak ada salahnya diperbaiki bersama agar konsep dan implementasi KHGT lebih sempurna dan tidak menimbulkan keragu-raguan dalam beribadah. []






















