Ketika silaturahim menjadi doa yang berjalan, dan kepedulian menjadi obat bagi saudara-saudara senior.
Alhamdulillāh, pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026 (1 Rabiul Awal 1448 H), sebuah perjalanan sederhana telah menjadi kisah yang begitu berarti. Sejak pukul 08.30 hingga 14.30 WIB, rombongan Penasihat IKPM Gontor Cabang Bogor menyempatkan diri menyusuri beberapa tempat untuk bersilaturahim dan menjenguk saudara-saudara alumni senior lintas angkatan yang sedang diuji dengan sakit.
Rombongan tersebut terdiri dari: Kiai Dadang Hasbullah (G.1973) sebagai ketua rombongan; Kiai Mukhlis Fathulloh Harun (G.1979), Pimpinan Majelis Ta’lim Al-Fatihah Cilendek; Kiai Badrutammam (G.1987), Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda; Kiai Saefulloh Terapis (G.1993), serta ATB.
Empat senior alumni yang menjadi tujuan silaturahim, yaitu: Kiai Iyad Supriadi (G.1980) dan Kiai Supria Jauhari (G.1978), keduanya tinggal di Kampung Nagrog, Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Bogor; Kiai Syarifuddin Husni (G.1979), Ustadz Empud, Desa Benteng, Perumahan Ciampea Asri; dan Kiai M Zein Fatal Harun (G.1986), Selabenda, Bogor.
Mereka merupakan bagian dari keluarga besar alumni yang pernah melewati lorong-lorong perjuangan, menimba ilmu, menempa diri, dan membawa nama almamater ke berbagai penjuru kehidupan.
Kini, sebagian dari mereka sedang berada pada fase kehidupan yang berbeda. Ada yang sedang berjuang melawan kolesterol, asam urat, gangguan lambung, Alzheimer/demensia, hingga saraf terjepit. Sebagian telah merasakan sakit selama dua bulan, empat bulan, bahkan lebih dari satu tahun.
Di titik seperti inilah, silaturahim menemukan maknanya yang paling dalam.
Sebab terkadang, orang yang sedang sakit tidak hanya membutuhkan obat. Ia juga membutuhkan kehadiran.
Bukan sekadar pertanyaan, “Bagaimana kabarnya?” Tetapi sebuah pesan tanpa banyak kata: “Antum tidak sendirian. Kami masih saudara. Kami masih mengingat antum. Dan kami datang karena antum tetap bagian dari keluarga besar kami.”
Barangkali kunjungan itu hanya berlangsung beberapa saat. Barangkali tidak ada yang membawa sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi seseorang yang sedang terbaring sakit, kedatangan seorang sahabat bisa terasa lebih mahal daripada sekadar bingkisan.
Di situlah indahnya persaudaraan alumni.
Waktu boleh memisahkan angkatan. Kesibukan boleh menjauhkan pertemuan. Usia boleh mengubah wajah dan langkah. Tetapi ada sesuatu yang semestinya tidak pernah berubah: rasa sebagai saudara.
Jumat kemarin menjadi pengingat bahwa persaudaraan bukan hanya tentang berkumpul ketika sehat, sukses, dan bahagia. Persaudaraan justru menemukan kemuliaannya ketika seseorang sedang lemah—dan saudaranya memilih untuk datang.
Maka perjalanan rombongan Penasihat IKPM Gontor Cabang Bogor ini sesungguhnya bukan sekadar perjalanan menjenguk orang sakit. Ini perjalanan merawat ingatan. Merawat persaudaraan. Merawat penghormatan kepada senior. Dan merawat nilai-nilai yang dahulu pernah kita pelajari bersama.
Semoga langkah kecil yang ditempuh pada Jumat penuh berkah itu menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada para senior kita.
Semoga Allah mengangkat segala penyakit mereka, menguatkan hati dan tubuh mereka, memberikan kesabaran kepada keluarga yang merawat, serta mengembalikan kesehatan dan kebahagiaan mereka.
Dan semoga kita semua kelak tidak hanya dikenal sebagai alumni yang pandai mengenang masa lalu, tetapi juga sebagai keluarga yang hadir ketika saudaranya membutuhkan. 
Karena pada akhirnya, umur boleh bertambah, rambut boleh memutih, tubuh boleh melemah, tetapi persaudaraan tidak seharusnya ikut menua.
Selama masih ada yang datang mengetuk pintu, selama masih ada yang mendoakan, dan selama masih ada yang peduli—maka persaudaraan itu belum pernah kehilangan ruhnya.
رَبَّنَا يَحْفَظْهُمْ، وَيُسْعِدْهُمْ، وَيُبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ، وَيَرْزُقُهُمُ دَوَامَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، وَيَشْفِهِمْ شِفَاءً تَامًّا، وَيَرُدَّ إِلَيْهِمْ عَافِيَتَهُمْ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
[] ATB — Komsol 89 Muharrik






















