Bogor, Gontornews — Haul ke-1 almarhum KH Helmy Abdul Mubin Lc menjadi momentum untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan pendiri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mendoakan almarhum, tetapi juga mengingatkan para santri, alumni, dan masyarakat tentang pentingnya menjaga nilai perjuangan serta kualitas pendidikan yang telah diwariskan.
KH Helmy Abdul Mubin merupakan muassis atau pendiri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor yang berlokasi di Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Semasa hidupnya, Kiai Helmy dikenal sebagai guru, teladan, dan mursyid bagi para santrinya.
Ulama asal Madura tersebut merupakan alumnus Pesantren Darussalam Gontor dan lulusan Madinah. Berbekal tekad yang kuat, ikhtiar, dan doa, KH Helmy mendirikan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor dengan cita-cita membangun lembaga pendidikan yang mampu mencetak generasi berilmu dan bertakwa.
Menariknya, perjalanan KH Helmy dalam membangun pesantren tidak berangkat dari latar belakang keluarga ulama. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi tekadnya untuk membangun pendidikan pesantren. Kisah perjalanan dan perjuangannya sebelumnya telah ditulis dalam buku Mudiruna karya Dr KH Saiful Falah MPd.I, yang kini menjadi Pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor.
Mengenang Perjuangan Sang Pendiri
Haul ke-1 KH Helmy Abdul Mubin digelar di Basemen Masjid Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Putera. Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah kubur, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh dan tausiah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor Dr.KH Saiful Falah MPd.I, perwakilan keluarga Madura KH Ahmad Fauzi SAg, Wakil Bupati Bogor H Ade Ruhandi SE, serta Rektor Universitas Ibnu Khaldun Prof Dr HE Mujahidin MSi.
Dalam sambutannya, Dr KH Saiful Falah MPd.I menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelenggaraan haul.
“Terima kasih kepada semuanya, apa pun yang diberikan oleh Bapak Ibu semuanya menjadi amal jariyah yang akan dibalas pahalanya baik di dunia maupun di akhirat.”
Bagi sebuah lembaga pendidikan, keberadaan pendiri bukan hanya bagian dari sejarah. Nilai, gagasan, dan cita-cita yang diwariskan menjadi fondasi yang perlu terus diterjemahkan oleh generasi penerus sesuai dengan perkembangan zaman.
Keteguhan dalam Merintis Pendidikan
Perwakilan keluarga Madura, KH Ahmad Fauzi SAg, mengenang KH. Helmy Abdul Mubin sebagai sosok yang memiliki tekad kuat dan memegang teguh nilai-nilai pesantren, terutama pada masa awal perintisan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor.
“ketika awal merintis pesanatren ummul quro saya merasakan dan mengalami untuk dilaksanakan sehingga kami melaksanakan hal yang sama untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada santri-santri awal Pesantren Ummul Quro al Islami. Beliau juga memberikan kebebasan dalam mengelola pesantren ini sehingga kami mendapatkan kedewasaan dalam menjalankan pendidikan di Pesantren.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa membangun pendidikan bukan hanya soal mendirikan bangunan atau menyusun kurikulum. Pendidikan juga membutuhkan kepercayaan kepada para pengelola dan pendidik agar mampu bertumbuh, mengambil tanggung jawab, serta menjalankan amanah dengan penuh kedewasaan.
Sementara itu, Wakil Bupati Bogor H Ade Ruhandi SE turut mengenang kedekatannya dengan almarhum KH Helmy. Ia mengatakan hubungan silaturahim dengan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami telah terjalin sejak lama.
“Saya masih ingat waktu itu Bupati pertama ingin silaturahim dengan Al-Marhum KH Helmy. Beliau mengeluarkan al-Qur’an lama, lalu menjelaskannya kepada kami. Dari situ sampai sekarang al-hamdulillah silaturahim saya khususnya ke pesantren ini masih terjaga.”
Kisah tersebut menggambarkan pentingnya hubungan antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat. Pesantren tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem sosial dan pembangunan daerah.
Menjaga Warisan Pendidikan
Rektor Universitas Ibnu Khaldun, Prof Dr HE Mujahidin MSi, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kualitas lembaga pendidikan yang menjadi warisan perjuangan KH Helmy Abdul Mubin.
“Pesantren Modern Ummul Quro al Islami Bogor dan Universitas Islam Bogor merupakan warisan beliau yang harus senantiasa dijaga kualitasnya.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sebuah lembaga pendidikan tidak cukup hanya dengan mempertahankan nama dan sejarahnya. Generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan lembaga dalam menjawab tantangan zaman.
Warisan pendidikan akan tetap hidup apabila nilai perjuangan pendirinya diterjemahkan dalam kerja nyata dan inovasi yang berkelanjutan.
Haul sebagai Ruang Mengambil Pelajaran
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah dari Habib Rizieq Shihab dan alumni pertama Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor, KH Amirullah Daud S.Sos.
Dalam tausiahnya, Habib Rizieq Shihab menekankan bahwa peringatan haul memiliki nilai penting sebagai sarana mengambil pelajaran dari kehidupan orang saleh dan meneruskan perjuangannya.
“Haul itu tujuannya adalah mengambil pelajaran dari orang sholeh, karena al-Marhum KH Helmy Abdul Mubin ini adalah orang sholeh maka harus kita ambil pelajaran dari beliau terkhusus bagi para santri-santri dan alumninya untuk meneruskan perjuangan al-Marhum.”
Bagi para santri dan alumni, keteladanan pendiri pesantren dapat menjadi sumber pembelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Semangat kerja keras, keteguhan dalam berjuang, dan komitmen terhadap pendidikan dapat menjadi nilai yang terus relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Ketawadhuan, Sedekah, dan Pandangan Jauh
Alumni pertama Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor, KH Amirullah Daud turut menyampaikan sejumlah keteladanan yang dapat dipetik dari sosok KH. Helmy Abdul Mubin.
“Sosok almarhum KH Helmy Abdul Mubin Lc adalah penyemangat untuk kita semua. Pada beberapa kesempatan, beliau tidak pernah menuliskan nama beliau dengan kata kiyai atau ustadz, beliau langsung menuliskan nama beliau dengan H. Helmy Abdul Mubin karena ketawadhuan beliau. Beliau orang yang gemar shodaqoh, orang yang gigih dan visioner. Salah satu nasihat beliau adalah jangan pernah minta kepada manusia sebab engkau akan kecewa, tetapi mintalah kepada Allah karena Allah Maha Kaya.”
Keteladanan tersebut memperlihatkan sejumlah nilai penting dalam pendidikan karakter. Ketawadhuan mengajarkan kerendahan hati, kegemaran bersedekah menumbuhkan kepedulian sosial, sementara sikap gigih dan visioner menjadi modal dalam membangun masa depan.
KH Amirullah Daud juga mengingatkan para alumni agar tidak meninggalkan kebiasaan baik yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di pesantren, khususnya dalam menjaga disiplin ibadah.
“Saya mohon maaf ingin memberikan pesan kepada para alumni, ingat ketika Anda menjadi santri, Anda dididik selama enam tahun untuk bangun malam, sholat tahajud, tetapi setelah Anda lulus, Anda jarang bahkan tidak pernah tahajud lagi. Melalui kegiatan haul ini, mudah-mudahan menjadi pengingat kepada kita semua untuk lebih semangat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan disunnahkan oleh rasul-Nya.”
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan masa belajarnya. Nilai dan kebiasaan baik yang diperoleh selama menjadi santri idealnya tetap menjadi bagian dari kehidupan para alumni di tengah berbagai aktivitas dan perubahan lingkungan.
Peluncuran Buku
Haul ke-1 KH Helmy Abdul Mubin kemudian ditutup dengan peluncuran buku Napak Tilas Kiyai Helmy Abdul Mubin. Kehadiran buku tersebut diharapkan dapat menjadi dokumentasi perjalanan hidup sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi penerus.
Kegiatan haul ini dihadiri berbagai kalangan, termasuk perwakilan organisasi masyarakat Islam di Kabupaten Bogor serta jajaran pemerintah.
Peringatan haul tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang pendiri tidak seharusnya berhenti sebagai cerita sejarah. Semangat KH Helmy Abdul Mubin dalam membangun pendidikan, membina santri, serta menanamkan nilai ketakwaan menjadi warisan yang perlu terus dijaga oleh keluarga besar Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor.
Bagi santri dan alumni, melanjutkan perjuangan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menjaga nilai yang telah dipelajari, memperkuat akhlak, meningkatkan kualitas diri, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, haul bukan sekadar mengenang seseorang yang telah berpulang, melainkan menjadi momentum untuk meneruskan nilai baik yang telah ditinggalkan.[]





















