Saya pernah menerangkan tentang keikhlasan, bahwasanya secara umum keikhlasan orang-orang sekarang termasuk mereka yang imannya kuat sangat tipis dibandingkan mereka yang dahulu. Sekarang tentang rasa malu. Rasa malu ini sekarang malah lebih tipis lagi dibandingkan dahulu. Entah dengan alasan jumlah orang dahulu sedikit atau bagaimana.
Kalau Pak Zar (yakni KH Imam Zarkasyi) itu tidak pernah terlihat menggendong putranya. Beliau sangat tidak suka melihat seorang ayah menggendong putranya sendiri. Beliau lebih banyak memperhatikan santri-santrinya daripada putra-putrinya sendiri.
Saya di Gontor ini sejak tahun 1963, namun saya belum tahu seperti apa rupanya Bu Zar (istri KH Imam Zarkasyi). Karena dulu itu kita tidak pernah melihat seperti apa istri seorang kiai itu. Kalau sekarang santri-santri itu tahu yang mana Bu Syamsul, karena pernah melihatnya. Saya belum pernah melihat Pak Zar berjalan bersama dengan Bu Zar.
Pada zaman dahulu, suami-istri itu memang tidak pernah terlihat berjalan berdua dilihat orang-orang karena rasa malu orang-orang zaman dahulu itu sangatlah tinggi. Sampai-sampai, tatkala pergi ke Pasar Legi yang jaraknya ribuan meter pun dengan berjalan kaki, suami-istri akan berjalan jauh-jauhan. Walaupun mereka berjalan bersama-sama, tapi suami berjalan di depan dengan jarak 10 meter dari istrinya di belakang. Seperti itulah rasa malu pada zaman dahulu. Sangat tinggi.
Kalau dahulu wanita dilamar seorang pria, diamnya itu tanda setuju. Tapi, sekarang malah kebalikannya, kalau diam itu tidak menunjukkan persetujuannya. Kalau ingin mengetahui persetujuannya, harus dengan ungkapan yang terang-terangan. Jadi, rasa malu itu dibandingkan dengan dulu dan sekarang sangat berbeda jauh.
Dulu, kalau seorang putri berjalan dan terlihat oleh laki-laki, maka mereka akan menjauh dan bersembunyi supaya tidak terlihat oleh pria yang duduk-duduk.
Dahulu, suami yang membonceng w nita di depan umum dianggap kurang beradab, meskipun wanita itu istrinya sendiri. Membonceng istri sendiri saja itu malunya bukan main. Sekarang, membonceng bukan istri saja seolah-olah bangga. Tidak malu sama sekali. Itulah saya katakan rasa malu orang-orang zaman sekarang tidak seperti zaman dahulu lagi.
Pergaulan bebas itu kan dimulai dari kota. Dimulai dengan adanya sekolah yang berangkat bersama-sama. Kalau dahulu di desa berjalan bersama-sama tidak baik dan sangat memalukan. Tidak lama setelah beredarnya televisi dan alat elektronik lainnya memicu hilangnya rasa malu. Dahulu, sampai penari pun tidak sampai memperlihat kan auratnya, mereka juga berpakaian dengan pantas, tidak buka-bukaan. Mereka masih sangat sopan. Sekarang?
Sekarang, perkenalan antara pria dan wanita sangat bebas sekali. Hingga, mereka berboncengan melewati batas. Begitulah kata Pak Hasan, yang memiliki rasa malu itu sekarang sudah tidak banyak lagi.
Keikhlasan pun semakin tipis, tidak seperti dahulu lagi. Padahal rasa malu itu termasuk ciri orang beriman. Sabda Rasulullah SAW: al-haya’ minal iman (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga berpesan: “Jika engkau tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu” (idza lam tastahi fa ishna‘ ma syi’ta —HR al-Bukhari).
Rasa malu kini sudah banyak berkurang dan bahkan mulai hilang. Dahulu para penyanyi pun masih bersopan-sopan bicaranya maupun busananya.
Pak Zar berpesan, walaupun di luar dunia terbakar, Gontor jangan sampai terbakar. Mudah-mudahan pondok kita ini selalu terjaga, walaupun keadaan di luar sudah di luar batas. []
* Disampaikan di Masjid Pusaka pada 29 Januari 2014.























