Jakarta, Gontornews — Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, M. Jusuf Kalla (JK), menyampaikan pandangan strategis mengenai arah masa depan pendidikan Islam saat memberikan sambutan dalam forum internasional. Dalam pidatonya, JK menekankan bahwa pendidikan hakikatnya berorientasi ke masa depan, bukan sekadar bernostalgia dengan sejarah masa lalu.
Dalam pidato di forum Global Islamic Holistic Education Holistic (GIHES), JK menyoroti peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai momentum penting untuk merefleksikan kembali makna kata “modern”. Menurutnya, standar dan tantangan pendidikan modern pada seratus tahun lalu sangat berbeda dengan tuntutan zaman saat ini yang berbasis pada penguasaan teknologi, ilmu pengetahuan, logika, serta pendidikan karakter yang holistik.
“Jadi masa depan, dan saya setuju apa yang dikatakan oleh Pak Kiai Hasan Abdullah Sahal, bahwa pendidikan itu berbicara ke depan, tidak ke belakang. Karena apabila berbicara ke belakang terus, artinya pendidikan itu museum, hanya museum yang berbicara ke belakang. Pendidikan berbicara ke depan. Karena itulah maka kita harus selalu melihat apa yang akan terjadi seperti dikatakan. Saya sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada Gontor atas ulang tahun yang ke-100, Pesantren Modern Gontor,” kata JK dalam pidatonya di Hotel Borobudur, Sabtu (5/9/2026).
Pendidikan holistik, lanjut JK, harus mencakup pengembangan aspek intelektual, moral, dan keterampilan kerja (head, heart, and hand). Ia mengingatkan agar lembaga pendidikan Islam tidak terjebak pada metode lama yang sebatas menghafal, melainkan harus bertransformasi membiasakan santri dan siswa berlogika serta berdiskusi.
“Modern pada 100 tahun yang lalu, 100 tahun yang lalu, tentu berbeda dengan modern pada 100 tahun pada sekarang ini. Kalau 100 tahun yang lalu, pendidikan tentu yang berubah, yang memberikan umum, tentu modern. Sekarang ini modern itu pendidikan orang berbicara banyak hal, ke komputer, IT, dan bermacam-macam, dan ilmu juga. Kalau kita berbicara holistik, artinya mendidik orang seutuhnya,” ujarnya.
JK juga mengucapkan apresiasi kepada Gontor yang saat ini telah memasuki usia ke 100 tahun. Dia berharap Gontor dapat melahirkan cendekiawan bertalenta sebagaimana para ulama seperti Al Khawarizmi hingga Al Ghazali. Dia berharap bahwa Gontor dapat mencetak sejarah demi peradaban yang lebih baik di masa depan.
“Dan sekali lagi selamat untuk Pesantren Modern Gontor, dan seperti yang tadi dikatakan Pak Hasan, bahwa yang kita buat ialah sejarah ke depan bukan masa lalu. Selalu kita bicara Ibnu Sina hebat, Al-Khwarizmi hebat, ini hebat, Al-Ghazali hebat, Umar Khayyam hebat, tapi kita sendiri harus membuat sejarah untuk hebat. Dan itulah kita membutuhkan perubahan, akal sehat, dan pendidikan yang menyeluruh,” terangnya. [Edithya Miranti]






















