Bogor, Gontornews — Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menjadikan halaman sekolah dan sport center sebagai ruang belajar kewirausahaan. Para siswa, khususnya kelas 3 dan 4, berjualan, melayani pembeli, dan bertransaksi dalam kegiatan Insantama Market Day (IMD), Rabu (16/9/2026).
Pembelajaran di luar kelas dengan tagline “Berniaga ala Rasulullah, Raih Hidup Lebih Berkah” ini, dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang praktik jual beli yang sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.
Namun, IMD kali ini tidak hanya berbicara tentang jual beli. Mengangkat tema “Lestarikan Budaya Sunda”, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal dan menampilkan kembali budaya lokal yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman.
Suasana Sunda bahkan terasa sejak pembukaan. Di hadapan para undangan dan wali murid, para siswa menyuguhkan sejumlah tampilan dan permainan tradisional. Lagu Manuk Dadali dan Cingcangkeling menggema, diselingi penampilan kaulinan (permainan) Sunda.
Permainan tradisional itu sengaja dihadirkan untuk memperkenalkan kembali khazanah budaya Sunda kepada generasi yang sehari-hari semakin dekat dengan perangkat digital.
Ketua Yayasan Amanah Insantama Leuwiliang, Ir H Ahmad Soim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar kegiatan jual beli di lingkungan sekolah.
“Dengan IMD, anak-anak belajar jual beli sesuai syariat Islam. Ini sekaligus menjadi kegiatan P5, yaitu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” kata Ahmad Soim.
Menurutnya, IMD menjadi bagian akhir dari rangkaian pembelajaran P5. Produk-produk yang dihasilkan dalam kegiatan P5 itu juga ikut dijual dalam IMD ini. “Pada IMD ini juga dijual produk-produk hasil karya siswa selama pembelajaran P5,” ujarnya pada IMD yang dibuka oleh Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Leuwiliang, Irma Cahyani SPd SD.
Dalam IMD kali ini, siswa kelas 3 dan 4 mendapat peran sebagai penjual. Sekitar 230 siswa dari dua jenjang tersebut terlibat langsung dalam kegiatan perdagangan. Sementara siswa dari kelas lainnya berperan sebagai pembeli.
Pembagian peran itu membuat siswa berhadapan langsung dengan situasi yang selama ini lebih sering mereka lihat sebagai konsumen. Mereka harus menawarkan produk, berkomunikasi dengan calon pembeli, melayani transaksi, dan mempertanggungjawabkan barang yang dijual.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran kewirausahaan. Siswa tidak hanya belajar konsep melalui buku atau penjelasan guru, tetapi juga mengalami sendiri proses jual beli dalam suasana yang dirancang sebagai kegiatan pendidikan.
Kearifan Lokal Masuk Ruang Belajar
Tema “Lestarikan Budaya Sunda” memberikan warna berbeda dalam pelaksanaan IMD kali ini. Kegiatan ekonomi yang menjadi inti Market Day dipadukan dengan pengenalan budaya lokal.
Lagu Manuk Dadali dan Cingcangkeling menjadi bagian dari pertunjukan pembukaan. Para siswa juga memainkan sejumlah kaulinan Sunda yang kini semakin jarang ditemui dalam keseharian anak-anak.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang mengubah cara anak belajar dan bermain, pengenalan permainan tradisional menjadi salah satu cara untuk menjaga agar budaya lokal tetap dikenal oleh generasi muda.
Melalui IMD, SDIT Insantama Leuwiliang memadukan beberapa pengalaman belajar sekaligus: kewirausahaan, nilai-nilai Islam, kreativitas, kerjasama, dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Halaman sekolah pun berubah menjadi ruang pembelajaran terbuka. Di satu sisi, siswa belajar bagaimana sebuah produk ditawarkan dan diperjualbelikan. Di sisi lain, mereka belajar bahwa pendidikan juga dapat berlangsung melalui pengalaman budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bagi siswa kelas 3 dan 4 yang menjadi penjual, hari itu bukan sekadar hari berjualan. Mereka belajar bahwa berniaga membutuhkan keterampilan berkomunikasi, tanggung jawab, dan nilai-nilai Islam yang menjadi landasan dalam melakukan transaksi. []





















