Jakarta, Gontornews — Azhariyat Indonesia menyelenggarakan Bedah Disertasi dan Riset – Seri 1 bertajuk “Bumi Adalah Ibuku: Ketika Iman, Perempuan, dan Ekologi Bersatu dalam Perjuangan Kartini Kendeng”. Acara itu pun digelar pada Jumat (11/9/2026), secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.
Kepada Gontornews.com, Dr Hj Shofiah Tidjani Lc MSi, Presidium Nasional Azhariyat Indonesia menjelaskan bahwa seri perdana ini menghadirkan Hj Zaimatus Sa’diyah Lc MA PhD selaku Wakil Sekjen 1 Azhariyat Indonesia dan Dosen UIN Walisongo Semarang, sebagai pemapar. Ia membagikan hasil penelitian doktoralnya di Radboud University Nijmegen, Belanda, yang berjudul The Earth is Like My Mother: Ecofeminism and Eco-Islam in the Kartini Kendeng Movement in Central Java.
Disertasi tersebut dibahas oleh Prof Hj Ai Fatimah Nur Fuad Lc MSi MA PhD, Dewan Ahli Azhariyat Indonesia sekaligus Dekan Fakultas Agama Islam UHAMKA. Acara pun dimoderatori Dr Ilda Hayati Lc MA, Dosen FSEI dan Pascasarjana IAIN Curup, serta diawali dengan sambutan dari Dr Hj Shofiah Tidjani Lc MSi, Presidium Nasional Azhariyat Indonesia.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi bidang Dakwah serta Akademisi dan Profesional Azhariyat Indonesia ini menjadi pembuka dari serial forum keilmuan yang dirancang untuk menghadirkan hasil-hasil penelitian dan pengalaman akademik para Azhariyat ke ruang publik yang lebih luas. Dalam sambutannya, Dr Shofiah menegaskan bahwa disertasi yang telah selesai tidak semestinya berhenti sebagai dokumen akademik di perpustakaan, melainkan perlu dibagikan dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang memberi inspirasi serta manfaat bagi masyarakat.
Dari Pegunungan Kendeng, Membaca Relasi Perempuan dan Bumi
Dalam pemaparannya, Dr Zaimatus Sa’diyah mengajak peserta melihat lebih dekat Gerakan Kartini Kendeng yang berkembang di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, terutama di Pati dan Rembang, Jawa Tengah.
Gerakan tersebut melibatkan perempuan-perempuan petani yang mengambil peran penting dalam aksi damai mempertahankan kawasan pegunungan, sumber air, lahan pertanian, serta ruang hidup mereka di tengah konflik agraria dan rencana penambangan batu kapur untuk industri semen. Salah satu aksi yang dikenal luas adalah ketika sembilan perempuan Kendeng menyemen kaki mereka di depan Istana Negara sebagai simbol penolakan terhadap penambangan yang mereka khawatirkan berdampak terhadap keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat.
Bagi Dr Zaimah, perjuangan tersebut menarik untuk dibaca tidak hanya sebagai gerakan lingkungan, melainkan melalui perjumpaan antara ecofeminism, eco-Islam, dan kearifan ekologis lokal.
Gerakan Kartini Kendeng sendiri melibatkan masyarakat dari beragam latar belakang agama dan kepercayaan dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). Di antara mereka terdapat komunitas Sedulur Sikep yang memiliki hubungan kuat dengan alam dan memandang bumi bukan semata sebagai objek yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan manusia.
Filosofi “Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi kang ngadili” menjadi salah satu ekspresi penting dalam perjuangan tersebut: bumi telah memberi, bumi disakiti, dan bumi akan mengadili. Ungkapan ini menggambarkan kesadaran bahwa manusia hidup dari bumi dan akan menerima konsekuensi dari cara mereka memperlakukannya.
Tauhid, Khalifah, dan Tanggung Jawab Merawat Alam
Salah satu gagasan penting dalam disertasi ini adalah pembacaan kembali konsep-konsep keislaman dalam perspektif ekologis.
Dr Zaimah menjelaskan bahwa tauhid tidak hanya berbicara mengenai hubungan vertikal manusia dengan Allah. Tauhid juga dapat melahirkan kesadaran bahwa manusia, air, tumbuhan, hewan, tanah, dan seluruh alam merupakan sesama ciptaan Allah.
Demikian pula konsep khalifah tidak semestinya dimaknai sebagai kuasa manusia yang tanpa batas atas alam. Sebaliknya, kekhalifahan mengandung mas’uliyyah atau tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kehidupan serta memelihara mizan—keseimbangan alam.
Melalui pembacaan terhadap pengalaman masyarakat Kendeng, teori ekofeminisme, serta sumber-sumber keislaman, penelitian ini mengembangkan gagasan mengenai al-arḍ al-umm, bumi sebagai ibu, dan apa yang disebut Dr Zaimah sebagai “tauhid caring”: kesadaran ketauhidan yang diwujudkan melalui tindakan merawat dan melindungi ciptaan Allah.
Gerakan Ekologis Mengubah Relasi Gender
Disertasi ini juga menemukan adanya gender shift atau pergeseran relasi gender di tengah perjuangan masyarakat Kendeng.
Ketika para perempuan harus meninggalkan rumah untuk mengikuti berbagai aksi di Semarang maupun Jakarta selama beberapa hari, bahkan lebih dari satu pekan, kehidupan keluarga menuntut adanya negosiasi baru. Para suami mengambil sebagian tanggung jawab domestik yang sebelumnya lebih banyak dijalankan perempuan.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kerja perawatan dan pekerjaan domestik bukan semata-mata tanggung jawab perempuan. Dalam perspektif caring ethics, merawat rumah, keluarga, sesama manusia, maupun alam merupakan tanggung jawab bersama.
Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa keterlibatan perempuan dalam gerakan lingkungan perlu dibaca secara kritis. Perempuan tidak semestinya ditempatkan di garis depan hanya atas anggapan bahwa mereka secara “alamiah” lebih dekat dengan alam, karena pandangan semacam itu dapat kembali menjadikan perempuan sebagai instrumen.
Bukan Menguji tetapi Memuji
Sebagai pembahas, Prof Ai Fatimah Nur Fuad mengapresiasi keberanian penelitian Dr. Zaimah yang mempertemukan agama, feminisme, dan ekologi melalui pendekatan lintas disiplin.
Dengan nada hangat, Prof Ai menyebut bahwa forum tersebut bukan tempat untuk menguji ulang sebuah disertasi yang telah melalui proses akademik panjang.
“Saya kebagiannya bukan menguji, tetapi memuji.”
Menurutnya, studi Islam perlu terus berdialog dengan persoalan nyata yang dihadapi manusia. Kesalehan tidak seharusnya berhenti pada dimensi ritual, tetapi perlu diwujudkan dalam amal saleh sosial dan ekologis, mulai dari penggunaan air dan energi secara bertanggung jawab, pengelolaan sampah, hingga keterlibatan dalam kebijakan serta gerakan yang menjaga lingkungan.
Diskusi kemudian berkembang melalui pertanyaan peserta mengenai praktik keberlanjutan, kebijakan lingkungan, pengalaman melakukan penelitian lapangan, pembangunan jejaring dalam advokasi ekologis, serta perjumpaan antara feminisme, Islam, dan kearifan lokal.
Dari Disertasi Menuju Gerakan Keilmuan
Seri Bedah Disertasi dan Riset ini menandai langkah Azhariyat Indonesia dalam membangun ruang perjumpaan akademik yang mempertemukan pengalaman studi, hasil penelitian, serta isu-isu aktual masyarakat.
Melalui program ini, Azhariyat Indonesia berharap karya ilmiah para anggotanya tidak berhenti pada kelulusan dan gelar akademik, tetapi terus dibaca, dibicarakan, dikritisi, dikembangkan, serta menginspirasi penelitian dan pengabdian berikutnya.
Sebagaimana disampaikan dalam pembukaan kegiatan, forum ini diharapkan menjadi wadah untuk menghidupkan tradisi membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, dan berbagi ilmu, sekaligus menjadi langkah awal menuju gerakan keilmuan Azhariyat Indonesia yang semakin luas.
Bedah Disertasi dan Riset Seri #1
Kegiatan ini akhirnya mengingatkan kembali satu pesan sederhana namun mendasar: menjaga bumi tidak berdiri di luar keberagamaan. Iman dapat menemukan aktualisasinya dalam cara manusia memperlakukan sesama, perempuan, air, tanah, tumbuhan, serta seluruh kehidupan yang dipercayakan Allah SWT kepadanya.
Rekaman lengkap kegiatan dapat disimak di kanal YouTube Azhariyat Indonesia — Bedah Disertasi & Riset Seri #1: Bumi Adalah Ibuku. Sedangkan untuk ragam informasi Azhariyat Indonesia juga bisa ditelusuri di Instagram: @azhariyat.indonesia. [Edithya Miranti]






















