pesanan-baju-kaos
31 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 5 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Oleh Ahmad Madani, Alumni PMDG 2001, Praktisi Pemasaran & Pendidikan Vokasi

Mohamad Deny Irawan by Mohamad Deny Irawan
5 October 2026
in Kolom
0
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Ahmad Madani, Praktisi Pemasaran & Pendidikan Vokasi, Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor 2001.

Branding untuk pesantren bukan soal menjual agama, tetapi memastikan agar kebaikan bisa menyebar secara luas alih-alih ‘terjebak’ di balik pagar pesantren.

Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika saya melihat perkembangan pesantren hari ini. Mengapa ada pesantren yang sebenarnya sangat baik, pengasuhnya kuat, sistem pendidikannya bagus, alumninya berkualitas, tetapi tidak banyak orang mengetahuinya? Sementara ada lembaga lain yang mungkin lebih muda, namun jauh lebih mudah ditemukan di internet dan lebih cepat dikenal masyarakat.

Sebagai orang yang bekerja di dunia pemasaran, saya melihat bahwa kualitas dan visibilitas merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah lembaga bisa memiliki kualitas yang sangat baik, tetapi jika tidak mampu ‘menjelaskan dirinya’ dengan baik kepada publik, masyarakat di luar lingkarannya tentu tidak akan pernah benar-benar mengenalnya.

Tentu saja, pesantren bukan produk komersial. Pesantren mempunyai misi pendidikan, dakwah dan pembentukan manusia. Tetapi ada satu prinsip komunikasi yang tetap relevan: kebaikan yang tidak dikomunikasikan dengan baik sering kali hanya diketahui oleh orang-orang yang sudah mengenalnya.

BACA JUGA

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

Pengalaman Gontor Mendidik Santri Terampil Komunikasi

Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

100 Tahun Gontor: Saatnya Mengubah Warisan Nilai Menjadi Kebaikan

Di Bawah Asuhan Gontor

Karena itu, menurut saya pembicaraan tentang branding pesantren tidak perlu selalu dicurigai sebagai upaya untuk “jualan”. Branding bukan berarti membuat pesantren terlihat lebih hebat dari kenyataan. Sebaliknya, branding yang baik harus dimulai dari kejujuran. Branding itu harus menjelaskan siapa kita, nilai apa yang diperjuangkan, bagaimana santri dididik, apa yang mereka pelajari, dan seperti apa proses pendidikan berlangsung.

Saya sering mengatakan, branding pesantren bukan menjual agama. Branding adalah ikhtiar agar kebaikan lebih mudah ditemukan.

Keyakinan itu semakin kuat ketika saya ikut membantu penguatan komunikasi digital Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo, Ponorogo. Pondok ini sebenarnya sudah memiliki banyak hal yang layak diceritakan. Aktivitas pendidikan berjalan, nilai-nilai hidup, santri berkembang, dan berbagai kegiatan terus berlangsung. Tantangannya bukan kekurangan cerita, melainkan bagaimana cerita itu bisa sampai kepada masyarakat.

Branding Pesantren di Dunia Maya

Kami kemudian mulai melihat jejak digital pondok. Apa yang ditemukan orang ketika mencari nama pondok di Google? Apakah masyarakat bisa memahami pola pendidikannya dari media sosial? Apakah kegiatan santri hanya berakhir sebagai dokumentasi di grup WhatsApp, atau bisa menjadi cerita yang memperlihatkan nilai pendidikan pesantren?

Dari situlah mulai digunakan berbagai kanal. TikTok untuk memperlihatkan kehidupan pesantren secara lebih dekat, LinkedIn untuk membawa cerita pesantren ke ruang pendidikan dan profesional, Kompasiana untuk tulisan yang lebih panjang, serta website sebagai rumah informasi utama. Kami juga melibatkan siswa SMKN 1 Ponorogo dari konsentrasi Bisnis Digital agar keahlian digital yang mereka pelajari bisa digunakan dalam kolaborasi nyata.

Dari pengalaman itu saya semakin yakin bahwa pesantren sebenarnya mempunyai aset komunikasi yang sangat besar. Ada cerita pengasuh, guru, santri, alumni, kegiatan organisasi, bahasa, olahraga, prestasi, pengabdian, hingga proses seorang anak tumbuh menjadi lebih mandiri.

Masalahnya, banyak cerita itu berhenti begitu saja setelah kegiatan selesai. Acara selesai, foto masuk grup WhatsApp. Santri berprestasi, dokumentasinya tersimpan. Pengasuh menyampaikan nasihat yang baik, tetapi hanya didengar mereka yang hadir.

Padahal di era digital, satu cerita yang dikemas dengan baik bisa menjangkau ribuan orang. Satu kisah perubahan seorang santri bisa menjadi jawaban bagi orang tua yang sedang mencari lingkungan pendidikan terbaik untuk anaknya.

Dampaknya tidak selalu harus diukur dari jumlah followers atau likes. Ukuran yang lebih penting yaitu: apakah orang yang tepat akhirnya menemukan informasi yang mereka butuhkan?

Hari ini cara orang mencari pesantren juga berubah. Rekomendasi keluarga, kiai, guru, dan alumni tetap penting. Tetapi sebelum datang langsung, orang biasanya membuka Google. Mereka melihat Instagram, TikTok, YouTube, atau website.

Sekarang bahkan semakin banyak orang bertanya kepada artificial intelligence mengenai sekolah, kampus, pesantren, dan tempat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Artinya, pesantren harus hadir di ruang tempat masyarakat mencari informasi.

Kalau pesantren tidak aktif menjelaskan dirinya sendiri, identitas digitalnya bisa dibentuk oleh orang lain. Informasi lama, unggahan pihak lain, potongan video tanpa konteks, komentar di media sosial, bahkan informasi yang keliru bisa menjadi referensi utama bagi masyarakat.

Karena itu, kehadiran digital menurut saya bukan lagi sekadar urusan promosi. Ia sudah menjadi bagian dari tanggung jawab komunikasi dan pengelolaan reputasi lembaga.

Namun pesantren juga tidak perlu terjebak mengejar viralitas. Tidak semua pesantren harus mempunyai jutaan pengikut. Tidak semua video harus masuk ‘FYP’ (For Your Page). Yang dibutuhkan justru konsistensi dan keaslian.

Kalau santri belajar, ceritakan proses belajarnya. Kalau ada kegiatan bahasa, tunjukkan bagaimana mereka berlatih. Kalau ada organisasi, jelaskan keterampilan apa yang mereka pelajari. Kalau ada alumni yang mengabdi, ceritakan kontribusinya. Kalau pengasuh mempunyai pemikiran tentang pendidikan, dokumentasikan. Masyarakat tidak selalu membutuhkan konten yang spektakuler. Mereka membutuhkan informasi yang membuat mereka memahami siapa kita.

Dalam dunia pemasaran ada istilah trust. Kepercayaan. Bagi pesantren, kepercayaan merupakan aset yang sangat mahal. Orang tua menyerahkan anaknya bukan karena diskon atau promosi. Mereka menyerahkan masa depan anaknya.

Karena itu branding pesantren harus selalu selaras dengan kenyataan. Kalau media sosial berbicara tentang disiplin, orang tua harus melihat disiplin itu ketika datang. Kalau website berbicara tentang pendidikan karakter, proses pendidikannya juga harus mencerminkan hal yang sama.

Pada akhirnya, branding terbaik bukanlah logo yang bagus, video yang sinematik, atau jumlah pengikut yang banyak. Branding terbaik merupakan pengalaman nyata masyarakat terhadap lembaga tersebut.

Pesantren sebenarnya tidak kekurangan cerita. Yang dibutuhkan kesadaran untuk mendokumentasikan, mengemas, dan menyampaikannya secara konsisten. Dan pekerjaan ini tidak harus menjadi tugas admin media sosial semata.

Pengasuh mempunyai cerita. Guru mempunyai cerita. Santri mempunyai cerita. Alumni mempunyai cerita.

Bahkan menurut saya, alumni merupakan salah satu media terkuat bagi pesantren. Masyarakat melihat pesantren melalui bagaimana alumninya berbicara, bekerja, bersikap, dan memberikan manfaat. Kadang sebuah pesantren tidak membutuhkan iklan besar. Satu alumni yang membawa nilai pendidikan pondok dengan baik sudah menjadi komunikasi yang sangat kuat.

Karena itu, ketika berbicara tentang branding pesantren, kita bukan sedang berusaha membuat pesantren terlihat hebat. Kita sedang berusaha membuat kebaikan yang sudah ada menjadi lebih mudah terlihat.

Ada perbedaan besar antara terlihat hebat dan membuat kebaikan terlihat. Yang pertama bisa jatuh menjadi pencitraan. Yang kedua komunikasi. Teknologi hanya mengubah medianya. Dulu pesan disampaikan melalui mimbar, buku, dan majalah. Kemudian radio dan televisi. Sekarang melalui website, mesin pencari, YouTube, Instagram, TikTok, LinkedIn, dan artificial intelligence. Medianya berubah. Misinya tidak.

Saya percaya salah satu tantangan pesantren ke depan bukan hanya menjaga kualitas pendidikan, tetapi juga memastikan kualitas itu dapat ditemukan oleh masyarakat. Sebab di luar sana ada orang tua yang sedang mencari pesantren yang baik. Ada anak yang mungkin hidupnya berubah karena menemukan lingkungan pendidikan yang tepat. Bisa jadi pesantren yang mereka cari sebenarnya sudah ada.

Pengasuhnya baik. Gurunya baik. Sistemnya baik. Nilainya baik. Hanya satu masalahnya. Mereka belum menemukannya. Itulah mengapa saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: pesantren yang baik saja tidak cukup. Ia harus ditemukan. Bukan agar pesantren menjadi terkenal. Bukan agar viral. Tetapi agar orang yang membutuhkan kebaikan itu mempunyai kesempatan untuk menemukannya. []

Tags: Ahmad MadaniAhmarian 2001Branding PesantrenKomunitas Sales Indonesia (KOMISI)
Share7Tweet4Send
Previous Post

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

Next Post

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Mohamad Deny Irawan

Mohamad Deny Irawan

Reporter Media Online Gontornews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Sosiologi Ketahanan Gontor

Pengalaman Gontor Mendidik Santri Terampil Komunikasi

29 September 2026
Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

Prof Syamsuddin Arif: Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan dari UNIDA Gontor

29 September 2026
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

29 September 2026
Catatan Penting dari Pengukuhan Prof Akhmad Affandi Mahfudz sebagai Guru Besar UNIDA Gontor

Catatan Penting dari Pengukuhan Prof Akhmad Affandi Mahfudz sebagai Guru Besar UNIDA Gontor

1 October 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

25 September 2026
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

0
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

0
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

0
Darussalam Global Charity Resmi Berstatus LAZ Nasional

Darussalam Global Charity Resmi Berstatus LAZ Nasional

0
Regulasi dan Inovasi Menjadi Kunci Daya Saing Industri Farmasi dan Kosmetik Halal Indonesia

Sakinah Finance Bahas Ekonomi Halal di Manila Filipina

0
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

5 October 2026
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

5 October 2026
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

5 October 2026
Regulasi dan Inovasi Menjadi Kunci Daya Saing Industri Farmasi dan Kosmetik Halal Indonesia

Sakinah Finance Bahas Ekonomi Halal di Manila Filipina

5 October 2026
Tawaran Beasiswa S1 di Jepang

Beasiswa Pemerintah Swiss 2027–2028 Dibuka

5 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result