Lombok, Gontornews — Para mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Bayan, Lombok Utara. Disadur gontor.ac.id bahwa kegiatan Kunjungan Akademik di Ponpes Nurul Bayan, Lombok Utara berlangsung pada (18/10/2026) dan sebanyak 47 mahasiswi semester enam mengikuti Kuliah Pakar yang menghadirkan Tuan Guru Haji Abdul Karim sebagai pemateri.
Silaturahmi bersama Pimpinan Ponpes Nurul Bayan yaitu Tuan Guru Abdul Karim, menjadi bukti estafet perjuangan para kiai kepada seluruh generasi muda. Kegiatan ini pun menjadi salah satu wujud konstribusi generasi muda terhadap perkembangan pondok pesantren di Indonesia dan sebagai wujud estafet nilai-nilai perjuangan dalam mendirikan sebuah pondok pesantren kepada generasi muda
Pesantren ini didirikan pada tahun 1991 oleh Tuan Guru Abdul Karim. Lokasinya berada di atas tanah tandus seluas 4 hektar di Desa Bayan, Lombok Utara. Memulai pesantren di tengah masyarakat awam membutuhkan seni pendekatan yang berbeda.
Dengan konsep kiai gentong, Tuan Guru tidak hanya menghadirkan bangunan sebagai sarana dan prasarana. Ia juga menghadirkan program pendidikan yang relevan dengan keadaan masyarakat sekitar.
Pendirian pondok ini memiliki tujuan yang jelas. Tuan Guru memindai permasalahan utama masyarakat, yaitu kurangnya kemampuan menerapkan nilai-nilai Islam dan rendahnya pendidikan mengaji al-Qur’an. Istiqamah dan tawakal menjadi kunci utama dalam menghadapi setiap proses.
Dikutip dari pidato Tuan Guru kala itu, “Bermaknakan sebuah sudut pandang manusia melalui dua hal.” Pertama, sudut pandang yang hanya mengandalkan kedua mata sebagai suatu objek tanpa memperhatikan substansi yang terkandung di dalamnya. Kedua, keterlibatan hati dalam suatu sudut pandang yang kemudian menghasilkan substansi yang lebih dalam dan kaya akan nilai. Sehingga hadirnya segala tantangan bukanlah suatu hal yang menghambat, namun menjadi bagian dari proses itu sendiri.
Silaturahmi bersama Tuan Guru Abdul Karim mampu membangkitkan kembali jiwa-jiwa para santriah yang mungkin sudah mulai pudar. Bentuk refleksi atas pengalaman seorang pejuang pendiri pesantren yang saat ini sudah berdiri selama 35 tahun dan menjadi sebuah pelajaran hidup bagi siapa pun yang hadir kala itu.
Kegiatan Kuliah Pakar ini menjadi salah satu kesempatan bagi mahasiswi untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperoleh pembelajaran dari pengalaman tokoh yang hadir sebagai pemateri.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para mahasiswi untuk mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, serta kehidupan bermasyarakat. Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan perjalanan pendidikan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bahwa proses belajar merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan. [Edithya Miranti]























