Doha, Gontornews – Terpilihnya Ismail Haniya sebagai pemimpin baru Hamas mendapat respon positif para pengamat Timur Tengah (Timteng).
Azzam Tamimi, penulis “Hamas: Bab yang Tidak Ditulis”, menggambarkan pemimpin baru ini sebagai tokoh politik “karismatik” dan berpengalaman. Haniya adalah wakil pemimpin Hamas dan menjabat sebagai Perdana Menteri Gaza pada tahun 2007 – 2014.
“Dia naik dalam jajaran kepemimpinan selama bertahun-tahun, dia tahu peran dan tugasnya,” katanya seperti dikutip Aljazeera. “Namun, jika keadaan tidak dapat membantu, dia tidak akan bisa membuat mukjizat.”
Tamimi mengatakan, Hamas tidak berfungsi dalam ruang hampa dan tunduk pada tekanan regional. “Oleh karena itu, ini bukan hanya masalah siapa yang memimpin, ini adalah masalah konteks dan keadaan di mana pemimpin baru memimpin.
Menurut Tamimi, tidak ada tanda-tanda bahwa Israel dan Barat akan mengubah sikap kritis mereka terhadap Hamas dengan terpilihnya Haniya.
“Tapi saya pikir Hamas telah memberi isyarat dan Ismail Haniya adalah orang yang terbuka, dia bersedia untuk bertemu dan berdialog.”
Sementara itu Belal Shobaki, kepala Departemen Ilmu Politik Universitas Hebron, mengatakan terpilihnya Haniya menunjukkan bahwa pusat pengaruh Hamas telah pindah ke Gaza.
“Ini berarti bahwa tidak mungkin negara-negara di wilayah tersebut mencapai pemahaman dengan Hamas tanpa menemukan solusi komprehensif untuk krisis Gaza,” kata Shobaki seperti dikutip Aljazeera.
“Beberapa kekuatan regional, terutama Iran, perlu mengubah retorika mereka terhadap Hamas. Iran, misalnya, baru-baru ini menyalahkan Meshaal karena bermasalah dengan Hamas,” tambahnya. [Rusdiono Mukri]





















