Stres atau depresi ternyata bisa juga dialami anak. Hal itu bisa dilihat ketika anak tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap dan perilaku secara drastis dan tidak seperti biasanya.
Setiap orangtua tentu selalu menginginkan anaknya hidup bahagia. Namun, tidak semua anak bisa melewati masalahnya dengan baik dan tenang. Karenanya, ketika orangtua mendapati anak yang dilanda depresi, orangtua harus segera mengenali gejala, faktor penyebab, dan mencari solusinya.
Sebagai orangtua, perubahan perilaku anak secara drastis tidak boleh disepelekan, seperti sering merasa cemas, sedih, pikiran kosong, mudah capek, sulit konsentrasi, kehilangan minat beraktivitas, mudah marah, atau mengalami perubahan nafsu makan. Jika beberapa tanda ini terjadi, besar kemungkinan anak sedang mengalami depresi.
Ada dua faktor utama penyebab stres. Pertama, faktor psikologis, yakni sumber masalah yang menjadi pencetus, pola pikir dalam menyikapi atau menanggapi faktor pencetus, dan karakter kepribadian anak.
Kedua, faktor biologis, yakni faktor keturunan dan ketidakseimbangan zat-zat kimiawi dalam otak. Anak dalam masa tumbuh kembangnya belum mempunyai banyak pengalaman dalam mencari solusi, bahkan masalah yang kecil sekalipun. Seperti saat anak sering diejek dan dikucilkan temannya. Anak belum siap untuk menghadapi konflik di kala ia harus bersosialisasi dengan sesamanya.
Namun, ada juga faktor stres yang disebabkan perilaku orangtuanya sendiri. Perilaku yang banyak tidak disadari orangtua yang justru bisa menimbulkan tekanan pada anak. Misalnya, selalu melarang, memarahi, membedabedakan, menuntut, atau membuat peraturan kaku di rumah tanpa memberi tahu alasannya kepada anak.
Oleh karena itu, orangtua tidak boleh sembarangan memperlakukan anak. Mereka memiliki hak yang sama seperti orang dewasa—hak untuk mengeksplorasi kemampuan diri, hak untuk didengarkan, dan banyak lagi. Orangtua harus segera mencari cara agar stres pada anak tidak berlarut lama.
Pertama, berikan kasih sayang yang penuh kepada anak. Saat stres, anak sangat membutuhkan dukungan emosional berupa sentuhan dan pelukan orangtua. Dengan begitu, ia tidak merasa sendiri saat menghadapi masalah.
Kedua, bantu anak untuk memahami masalahnya. Cobalah untuk dapat mengorek akar permasalahan anak. Bantulah ia untuk mengenali faktor penyebab dari semua itu. Dengan demikian, anak bisa belajar mengevaluasi diri dan berusaha untuk tidak jatuh di lubang yang sama di kemudian hari.
Ketiga, bawalah anak ke tempat yang menyenangkan. Ajaklah ia ke dalam suasana baru yang bisa menenangkan hati dan membangkitkan semangat hidupnya. Biasanya suasana nyaman juga dapat memudahkan seseorang untuk lebih terbuka menceritakan masalah dan lebih mudah menemukan solusi.
Keempat, ajak anak untuk mengenali dan menggali potensi diri. Cara ini sangat positif agar anak tidak merasa tertekan secara terus-menerus dan merasa lebih percaya diri terhadap kemampuan dirinya.
Kelima, latihlah anak untuk selalu berpikir positif akan takdir Allah SWT. Tidak ada masalah yang diberikan di luar batas kemampuan manusia. Inilah kesempatan besar bagi orangtua untuk mengisi ruang ruhaniah anak. Akhirnya, suasana hati anak menjadi lebih rileks dan tenang. Itu akan memudahkannya bangkit dari masalah dan cerdas mencari solusi. [Edithya Miranti]
























