Sanaa, Gontornews — UNICEF melaporkan ada 70 ribu kasus kolera di Yaman, hampir 600 orang di antaranya meninggal dunia selama bulan Mei lalu. Penyakit ini terus menyebar pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Badan PBB yang memberikan bantuan kemanusiaan kepada anak-anak dan ibu di negara-negara berkembang, itu mengatakan pada hari Jumat (2/6) bahwa situasi yang mengerikan bagi anak-anak di Yaman dengan cepat berubah menjadi bencana.
“Kolera tidak memerlukan izin untuk menyeberangi sebuah pos pemeriksaan atau perbatasan, juga tidak membedakan antara wilayah politik,” kata Geert Cappelaere, direktur regional UNICEF, setelah mengunjungi Yaman.
Dia memberi peringatan bahwa jumlah kasus kolera diperkirakan mencapai 130 ribu dalam dua minggu ke depan.
UNICEF mengatakan setidaknya 10 ribu kasus kolera dilaporkan terjadi dalam 72 jam terakhir saja.
Cappelaere menggambarkan keadaan mengerikan di rumah sakit yang dia kunjungi. Anak-anak yang hampir tidak hidup, bayi kecil dengan berat kurang dari 2kg, berjuang untuk hidup.
“Tapi mereka masih beruntung. Sebab, masih banyak anak-anak lainnya, yang tak terhitung jumlahnya di sekitar Yaman meninggal setiap hari karena sebab-sebab yang dapat dicegah atau dirawat dengan mudah seperti kolera, diare atau malnutrisi,” katanya.
Cappelaere mengatakan petugas kesehatan berlomba melawan waktu untuk mencegah kolera membunuh lebih banyak anak, meski mereka tidak menerima gaji hampir sembilan bulan.
Yaman telah terkoyak oleh konflik sejak tahun 2014, ketika pejuang Houthi, bersekutu dengan tentara yang setia kepada mantan pemimpin Ali Abdullah Saleh, menguasai sebagian besar negara tersebut, termasuk ibukota, Sanaa. [Rusdiono Mukri]




















