Yerusalem, Gontornews — Keputusan Israel untuk menutup operasi Aljazeera di Yerusalem mengirimkan “pesan mengerikan bahwa pihak berwenang Israel tidak akan menolerir suara-suara kritis”, kata Amnesty International.
“Ini adalah serangan yang kurang ajar terhadap kebebasan media di Israel dan Wilayah Palestina yang Diduduki,” kata Magdalena Mughrabi, wakil direktur Timur Tengah dan Afrika Utara Amnesty, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (7/8).
Kritik tajam tersebut terjadi sehari setelah Ayoub Kara, menteri komunikasi Israel, mengusulkan penutupan kantor Aljazeera di Yerusalem, mencabut kredensial pers dari jaringan wartawan Arab dan Inggris di sana dan mematikan jaringan kabel dan transmisi satelit Aljazeera.
“Aljazeera mencela keputusan ini dibuat oleh sebuah negara yang mengklaim sebagai ‘satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah’,” kata jaringan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan itu menyebutkan, alasan yang digunakan Kara untuk membenarkan tindakan semacam itu “aneh dan bias”.
Amnesty meminta Israel untuk “menghentikan upaya-upaya membungkam media kritis”.
“Semua wartawan harus bebas melaksanakan pekerjaan mereka tanpa menghadapi pelecehan atau intimidasi,” kata kelompok hak asasi manusia tersebut. Mereka menambahkan bahwa langkah Israel adalah “tindakan keras yang menekan terhadap kebebasan berekspresi”.
Amnesty mengatakan, Israel “bergabung dengan sejumlah negara lain di kawasan ini, termasuk Arab Saudi, yang telah meminta penutupan saluran tersebut setelah terjadi perselisihan antara negara-negara Teluk dan Qatar”. [Rusdiono Mukri]





















