Malang, Gontornews — Majunya pembangunan fisik dan SDM di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, diakui oleh mantan Rektor Prof Dr H Imam Suprayogo, sebagai hasil penerapan sistem pendidikan yang terinspirasi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Prof Suprayogo mengugkapkan, dulu ketika membangun UIN Malang tahun 1997, ia berpikir keras bagaimana membuat format pendidikan yang ideal di perguruan tinggi. Ketika itu bayangannya tertuju pada pesantren terbesar di Jawa Timur yang dikembangkan Trimurti Gontor: KH Imam Zarkasyi, KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fanani.
“Kami terinspirasi oleh Gontor sehingga pesantren kita masukkan dalam bagian universitas,” terang Guru Besar UIN Maliki Malang kepada Gontornews.com.
Untuk memasukkan sistem pesantren ke UIN Malang, lanjutnya, ia langsung menemui Pimpinan Pondok Modern Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA, bagaimana cara mengembangkan bahasa Arab, aktivitas pendidikan, organisasi dan semua kegiatan Gontor.
Maka di UIN Malang diterapkan model pengajaran bahasa Arab selama 5 jam dari pukul14.00 sampai 20.00 WIB. Tidak hanya itu, banyak alumni Gontor yang direkrut untuk menjadi tenaga pengajar bahasa Arab di UIN Malang.
“Selama setahun hasilnya mahasiswa bisa berbahasa Arab,” beber pria yang telah memimpin UIN Maliki Malang selama 16 tahun ini.
Pria yang ditunjuk sebagai kurator Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ini menambahkan, yang jauh lebih penting dari sistem tersebut adalah nilai-nilai Pondok Modern Gontor yang sesungguhnya bisa diadopsi untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Seperti nilai perjuangan, kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan. Bagi Gontor, estafet bukan hanya alih kepemimpinan melainkan juga regenerasi, kaderisasi dan transformasi nilai-nilai yang mutlak ditradisikan di lembaga pendidikan modern. “Sesungguhnya kalau semua nilai ini diadopsi bangsa ini akan luar biasa,” tuturnya.
Sekarang ini, ujarnya, hampir tak ada nilai-nilai perjuangan yang ada hanya transaksional, apa saja menggunakan uang. Berjuang tanpa berkorban, lanjutnya, sama seperti makelar dan dunia makelar tidak ada yang maju.
Oleh karena itu, imbuhnya, kalau bangsa ini tidak mengadopsi nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan, sampai kapan pun bangsa ini tak akan maju bahkan yang banyak hanya konflik. Dan inilah ciri khas masyarakat makelar, bukan masyarakat pejuang.
“Coba ini direnungkan agar bangsa tidak terlalu berat seperti saat ini dan tidak pernah ada gegeran tapi semua berjalan maksimal dengan keikhlasan, kebersamaan, kejuangan, kesederhanaan dan kemandirian,” pungkasnya. [Ahmad Muhajir/Rus]






















