Ponorogo, Gontornews — Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid mengaku kagum alumni Gontor terus berkarya di bidang masing-masing dengan tetap mempertahankan ajaran dari Gontor. Menurutnya, sekarang sudah ada ikatan doktor alumni Gontor yang semuanya karunia luar biasa.
“Ini karena keunggulan, kemuliaan dan keberkahan yang Allah berikan kepada Gontor melalui pendirinya,” paparnya dalam acara Reuni Akbar dalam Rangka Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Gontor, di Ponorogo, Sabtu (3/9).
Ketika tahun 1977, lanjutnya, Hidayat melihat secara langsung KH Ahmad Sahal (alm) berkeliling pondok, membawa kursi melihat program pembangunan pesantren.
Tahun 1977 ia juga masih diajar KH Imam Zarkasyi (alm), yang saat itu pimpinan dan kader pondok baru pulang dari Mesir. Menurutnya, keteladanan langsung dari Trimurti ini termasuk pelajaran perjuangan.
Pondok, menurutnya, juga mengenalkan nilai-nilai perjuangan yang luar biasa. Salah satunya melalui cara sederhana memaknai Hymne Pondok.
Dari lagu wajib itu, lanjutnya, semua santri akan memahami selain ibu biologis ada dua ‘ibu kandung’ yaitu negara Indonesia dan Pondok.
“Gontor yang mengajarkan bahwa pesantren adalah ibuku, Indonesia adalah ibuku, maka tak mungkin kita durhaka kepada ibu kita,” tuturnya.
Gontor sejak awal memberikan pilar yang kokoh terkait kepondokan, keumatan dan keindonesiaan. Ketika banyak tokoh menyebut Indonesia darurat narkoba, di Gontor tidak ada narkoba. Indonesia dinyatakan darurat kejahatan perempuan dan perlindungan anak, darurat kebakaran hutan dan darurat lainnya, Gontor juga tidak terlibat.
Hidayat berkeyakinan penyelesaian masalah global pendekatannya adalah lokal. Di sini maksudnya bagaimana mengangkat keunggulan di tingkat lokal yang disambungkan gerakan besar.
“Gontor ada ikatan alumni, menjadi pimpinan ormas Islam, ketua Ikatan Dai Indonesia, ketua MIUMI, ada juga yang menjadi ahli hadis dan banyak kepercayaan publik ada pada alumni Gontor,” paparnya.
Maka menurutnya, Gontor dengan jaringannya yakin bisa menjadi bagian dari yang mengestafetkan nilai-nilai perjuangan. “Dengan demikian Gontor memberikan pijakan yang kuat bagi perjuangan, tidak seperti tuduhan yang salah bahwa pesantren sarang terorisme,” paparnya. [Ahmad Muhajir]



















