Tulangbawang, Gontornews — Rawa Pitu adalah nama Kota Mandiri. Kawasan ini berjarak Β± 180 km dari Kabupaten Tulang Bawang dengan luas wilayah 11.995 ha. Rawa Pitu merupakan pemekaran wilayah yang berasal dari sebagian Kecamatan Penawar Tama dan sebagaian dari Kecamatan Rawajitu Selatan yang disahkan dalam Perda No. 7 Tahun 2005.
Ketua Himpunan Wirausaha Transmigrasi Kecamatan Rawa Pitu Lampung Nurhadi bercerita, pada tahun 2011, Rawa Pitu resmi sebagai Kawasan Terpadu Mandiri yaitu sebuah konsep pembangunan wilayah yang diinisiasi Kementerian Desa Daerah Tertinggal untuk membangun sebuah kawasan transmigrasi agar menjadi kawasan yang lebih maju yang didukung program kota terpadu mandiri.
Secara pelan dan pasti, daerah ini memulai transformasi dari desa menjadi kota, dimana semua akses yang ada di kota seperti bank, lembaga keuangan, pasar, infrastruktur dan alat produksi modern diterapkan di desa dengan nuansa kota tersebut.
βRawa Pitu menuju kawasan pedesaan modern dengan nuansa kota,β paparnya.
Nama Rawa Pitu berasal dari daerah yang berupa Rawa dan Pitu diambil dari Sungai Pidada dan Sungai Tulang Bawang yang mengapit Rawa Pitu. Rawa Pitu terdiri dari 9 desa diantaranya Ds Sumber Agung, Ds Batanghari, Ds Panggung Mulyo, Ds Rawa Ragil, Ds Andalas Cermin, Ds Dutayoso Mulyo, Ds Kedung Jaya, Ds Bumi Sari dan Ds Mulyo Dadi.
Mayoritas penduduknya petani padi, tapi untuk Ds Batanghati sebagian warganya sempat beralih ke perkebunan kelapa sawit. Karena gejolak harga kelapa sawit pun tidak menentu, sebagian warga beralih menanam singkong dan jagung.
Program KTM yang menjadi program pemerintah telah mengangkat derajat para petani lebih tinggi dari pekerja kantoran. Nyatanya dengan didukung alat pertanian modern serta sarana transportasi yang memadai, para petani semangat mengolah dan mengelola hasil pertanian dan perkebunan.
βPemerintah melalui program KTM berhasil membangun pasar induk KTM Rawapitu serta menyediakan alat pengolahan padi terintegrasi yang canggih dengan kapasitas mencapai 3 ton per jam,β tuturnya.
Andalkan Hasil Alam
Nurhadi menjelaskan, sejak kawasan ini bertransformasi dari pedesaan menuju perkotaan, Rawapitu mulai dikenal sebagai pusat pengembangan pertumbuhan ekonomi berbasis agribisnis pertanian dan perkebunan, serta berpilar pada kegiatan ekonomi sekunder berupa industri dan perdagangan. Warga desanya juga bahu membahu membangun agrobisnis dengan memperhatikan kelestarian sumber daya alam, sosial dan budaya.
KTM Rawa Pitu, lanjut Nurhadi memiliki luas lahan pertanian 10.120 Ha yang terdiri dari persawahan seluas 8.319 Ha dan lahan kering seluas 1.801 Ha. Rata-rata, lahan seluas 1.025 Ha mampu menghasilkan padi 44.294 Ton/ tahun, lahan 464 Ha menghasilkan jagung 1.767 Ton/ tahun, lahan 170 Ha menghasilkan ubi jayu 3.318 Ton/ tahun, lahan 6 Ha menghasilkan ubi jalar 49 Ton/ tahun dan lahan 8 Ha menghasilkan kacang kedelai 9,60 Ton/ tahun.
Di sektor perkebunan, Rawa Pitu juga mampu berproduksi 9,10 ton tanaman karet per tahun diatas lahan 218 Ha. Sedangkan tanaman kopi dengan lahan 33,50 Ha menghasilkan produksi 6,95 ton / tahun, dan tanaman kelapa dalem dengan luas 160 Ha berproduksi 33,75 Ton/ Tahun.
Di sektor peternakan, kawasan ini juga memiliki ternak sapi 1.227 ekor dengan produksi daging 34.452 Kg, kerbau 164 ekor, kambing 5.722 ekor dengan produksi daging 7.984,09 Kg, domba 263 ekor, ayam ras 1.500 ekor dengan produksi daging 8.066,95 Kg, ayam buras 79.743 ekor dengan produksi daging 7.589,90 Kg dan produksi telur 43.758,43 kwintal, serta itik 4.005 ekor dengan produksi daging 167,21 Kg.
βDengan meningkatkan hasil panen pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian masyarakat,β papar Nurhadi.
Selain menggali hasil pertanian dan perkebunan, KTM Rawa Pitu juga memiliki beberapa industri kecil dan kerajinan rumah tangga seperti adanya industri kayu , industri makanan dan minuman. Untuk itu pada tahun 2003 pemerintah telah membangun sarana transportasi darat untuk mengurangi transportasi air yang menjadi andalan warga saat itu. Program ini berlanjut dengan dibangunya jembatan yang menjadi penghubung Rawa Pitu dengan daerah sekitar sekaligus menjadi sarana merintis perlintasan pesisir utara di Tulang Bawang.
βKita bahu membahu membangun kawasan transmigrasi agar menjadi kawasan yang maju,β kata Nurhadi menjabarkan.
Tujuan pengembangan KTM Rawa Pitu, lanjut Nurhadi adalah peningkatan skala ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Rawa Pitu, melalui percepatan kegiatan ekonomi pembentukan KTM berbasis agribisnis dengan memperhatikan kelestarian, kekayaan sumber alam dan lingkungan serta sumber daya social dan budaya.
Peran Pemuda
Peran Nurhadi di kawasan terpadu ini cukup sentral. Pria yang memiliki keturunan dari Jogjakarta, daerah asal orangtuanya, ini dikenal sebagai pemuda yang menjadi penggerak produktifitas masyarakat setempat. Ia selalu hadir memberikan arahan dan bimbingan terhadap anak-anak yang lulus sekolah agar bisa mengembangkan potensi alam pedesaan.
βKebanyakan mereka yang lulus sekolah inginnya segera mendapatkan pekerjaan di kota sehingga tak terfikir untuk kuliahm,β tuturnya.
Namun faktor biaya selalu menjadi kendala utama. Oleh karena itu Nurhadi menyiasatinya dengan mengajak berlatih menanam jamur yang hasilnya bisa untuk biaya kuliah. Nurhadi juga memanfaatkan lahan luas yang bisa digunakan sebagai sarana budidaya tanaman jamur. Selain itu Nurhadi juga membuka Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) Citra Gemilang Sejahtera yang pada tanggal 15 September 2015 telah berusia setahun.
Beberapa produk yang ditawarkan adalah pembiayaan syariah, simpanan pelajar cerdas, simpanan hari pernikahan, simpanan hari raya dan simpanan kurban masyarakat (sikurma). Memang awalnya berat, selain namanya baru, banyak cemohan yang ia terima. Berita buruk tentang koperas pun menjadi tantangan di masyarakat. Tapi dengan ketekunan dan kerja kerasnya KJKS CGS telah memiliki 1.500 anggota dengan omset sekitar 3 miliyar.
βUntuk mendukung kegiatan pemberdayaan di masyarakat kami selalu berinovasi,β tandas pria kelahiran Lampung ini.
Alhasil, beberapa produk pertanian Rawa Pitu sering tampil dalam event pameran produk nasional. Salah satu produk unggulan pertanian dari daerah Rawa Pitu yaitu Beras Hitam. Bedanya dengan beras jenis lain, beras ini memiliki kadar gula yang rendah sehingga menyehatkan dan bisa mencegah menyakit diabetes.
βProduk pertanian ini bisa menjadi salah satu alternatif pengobatan penyakit diabetes. Harga per kilonya berkisar antara 25 ribu,β papar pria yang selalu aktif di masyarakat ini. [Ahmad Muhajir/DJ]





















