Manila, Filipina – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan kepada pasukan khusus Amerika Serikat (AS) untuk segera meninggalkan Mindanao, Filipina selatan. Sebab, kehadiran pasukan AS di wilayah itu hanya akan menyulut konflik.
Hanya beberapa hari setelah menyatakan, Filipina akan menerapkan kebijakan luar negeri yang bebas, Duterte mengatakan pada hari Senin (12/9) dalam pidato bertele-tele dari istana presiden, “Selama kita tinggal dengan Amerika, kita tidak akan pernah memiliki kedamaian di negeri itu [Mindanao]. Kami mungkin juga menyerah.”
“Jadi, mereka harus pergi. Mereka harus pergi. Di Mindanao, ada begitu banyak tentara Amerika. Mereka harus pergi. Kami akan reorientasi kebijakan luar negeri kami.”
Sementara itu pada hari Selasa (13/9), Perfecto Yasay, Sekretaris Urusan Luar Negeri, mengatakan kepada ABS-CBN News Channel bahwa “tidak ada pergeseran kebijakan sehubungan dengan persahabatan yang erat dengan Amerika”.
Selama beberapa dekade, Filipina menjadi pangkalan utama Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS. Namun, saat ini, sejak Duterte berkuasa, hal itu dilarang.
Perjanjian dengan presiden sebelumnya memungkinkan kunjungan pasukan AS, untuk melakukan latihan militer bersama dengan tentara Filipina.
Pada bulan Maret, sebuah perjanjian militer diumumkan yang menandai Filipina sebagai basis pasukan dan perlengkapan militer AS. Di antara lima basis militer itu adalah Bandara Lumbia di Cagayan de Oro, sebuah kota di Mindanao.
Pasukan AS juga telah lama dilaporkan hadir di bagian lain dari Mindanao, termasuk Semenanjung Zamboanga.
Tapi karena tidak ada komentar resmi dari militer Filipina dan AS, sulit untuk mengetahui berapa banyak jumlah tentara Amerika saat ini di wilayah selatan itu.
Ketika Duterte mengambil alih sebagai Presiden Filipina pada bulan Juni, ia mengkritisi kebijakan keamanan AS di Filipina.
Pada hari Senin, ia memperingatkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata bisa menargetkan pasukan Amerika.
“Saya tidak ingin ada keretakan dengan Amerika. Tapi mereka harus pergi. Ini hanya akan membuat situasi tegang,” kata Duterte dalam bahasa campuran Filipina dan Inggris.
“Jika mereka melihat tentara Amerika, mereka akan membunuhnya. Mereka akan mendapatkan uang tebusan, dan akan membunuh Anda, tak peduli Anda kulit hitam atau kulit putih, selama Anda adalah orang Amerika,” katanya.
Filipina saat ini tengah berjuang melawan kelompok Abu Sayyaf, dan Duterte telah memerintahkan pengerahan lebih dari 7.000 tentara ke pulau bagian selatan Jolo, Sulu. [Rusdiono Mukri]




















