Exeter, Gontornews – Penelitan gabungan yang dilakukan oleh University Exeter, Rothamstad Research dan Bayer AG menemukan sebuah enzim pada lebah madu atau tawon, bernama Cycotrome P450s, yang mampu membedakan bunga mana yang terkena dan tidak terkena pestisida neonikotinoid .
Meski demikian, lebah madu dan tawon memiliki perbedaan dalam hal kepekaan dalam membedakan pestisida jenis neonikotinoid. Dalam penelitian ini, periset ingin mengembangkan pestisida yang tidak beracun bagi para lebah dan tawon.
Selanjutnya peneliti memecah enzim tersebut sembari mengidentifikasi subfamili enzim-enzim yang terdapat pada lebah.
“Proses identifikasi enzim menjadi kunci dalam membuat alat yang mampu menyaring pestisida baru yang mampu dihancurkan oleh lebah,” ungkap Profesor Chris Bass dari Universty Exeter.
“Diperlukan waktu 10 tahun dan $ 260 Juta Dollar AS untuk mengembangkan satu pestisida sehingga informasi ini dapat membantu kita dalam menemukan pestisida dengan tingkat keracunan lebah yang lebih rendah,” tambah Chris Bass sebagaimana dilansir Science Daily.
Sementara itu, pakar racun serangga, Dr Ralf Nauen, menambahkan bahwa pengetahuan tentang mekanisme pembuatan pestisida yang ‘ramah’ lebah sangat membantu regulator dan pemangku kebijakan tentang sejauh mana batas racun yang dapat ditoleransi serta tidak mempengaruhi kesehatan lebah.
“pengetahuan dari penelitian ini digunakan untuk memprediksi dan mencegah potensi efek berbahaya yang tidak disengaja oleh pestisida tertentu ataup kombinasi dari pestisida,” kata Ralf.
“Setiap insektisida perlu mempertimbangkan risiko dan manfaat,” pungkas Ralf. [Mohamad Deny Irawan]






















