Bagi santri Gontor, istilah muhadharah atau keterampilan berbicara adalah sesuatu yang ‘horor’. Maju di hadapan kawan di kelas dan keharusan untuk berbicara dengan sistematis dan terstruktur telah menyebabkan santri minder dan ngeri mengikuti latihan berpidato tersebut.
“Muhadharah bukan sekedar latihan berpidato, muhadharah adalah latihan berkomunikasi dengan lawan bicara,” jelas Heppy Chandrayana kepada Gontornews.com saat ditemui dalam acara Syawwal Fair di Pondok pesantren Darul Hijrah Putri, Cindai Alus-Martapura, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.
Persinggungan pertamanya dengan dunia ‘master of ceremony’ (MC) adalah saat dirinya menjabat sebagai bagian penerangan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Darussalam Gontor. Bagi, mantan bagian penerangan OPPM Gontor ini, memegang mic merupakan sebuah keharusan.
Bahkan, penugasan-penugasan seperti menyampaikan pengumuman, membaca surat keputusan hingga pemanggilan ke bagian-bagian OPPM yang lain, jadi makanan sehari-harinya. Pun demikian dengan Heppy, yang yakin bahwa menjadi MC adalah bagian dari perjalanan hidupnya di masa mendatang.
“Suatu hari kamu akan menjadi MC besar, nak,” kata orangtua Heppy, Entis Sutisna Senjaya ,sebagaimana ditirukan Heppy.
Pernyataan ayah Heppy itu terlontar saat pria kelahiran Tasikmalaya ,14 April 1981 itu, untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan sebagai MC di acara desa. Alih-alih mendapatkan tepuk tangan, Heppy justru mendapat cemoohan dari kepala desa karena membawakan acara dengan suara keras layaknya orang yang sedang marah-marah.
“Kamu marahin saya?,” kata si kepala desa dengan logat medan yang khas. Heppy pun merasa minder sebelum akhirnya disemangati oleh ayahnya.
Selain mengajar dan kuliah, Heppy, oleh pimpinan pondok Gontor, diamanati sebagai kru radio Suara Gontor (Suargo) FM. Di tempat tersebut skil broadcasting-nya meningkat drastis. Berbagai jinggle, rekaman lagu, rekaman mahfudzat hingga menjadi penyiar radio harian dikerjakan olehnya.
Karena ditempatkan di Suargo FM, Heppy lantas ditampuk sebagai MC utama dalam acara-acara pondok baik internal maupun eksternal. Pada 2006, Heppy mengisi tidak kurang dari 35 acara rentetan peringatan 80 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Itu pengalaman berharga buat saya,” kata alumnus Gontor 2001itu.
Masih dalam suasana 80 Tahun Gontor, Heppy ditunjuk oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, pimpinan Pondok Gontor, sebagai MC dalam pertemuan pimpinan PMDG dengan Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
Potensinya sebagai MC semakin terlihat. Pria yang kerap mengisi voice over (narator) di berbagai iklan di televisi swasta itu sempat dikritik oleh Tantowi Yahya karena cara penyampaiannya sebagai MC belum sesuai standar yang berlaku.
Menurut Heppy, format MC di pesantren terkesan formal dan ‘saklek’ dengan konsep yang sudah disiapkan sebelum acara. Baginya, yang dibutuhkan seorang MC adalah bagaimana cara mereka menyampaikan informasi dengan baik sekaligus menghibur tamu yang hadir.
“Bahkan, dalam acara kenegaraan sekalipun, tamu undangan tidak mau suasana acaranya serius dan dianggap membosankan,” kata Direktur Chandra Production Management (CMP) itu.
“MC yang baik adalah mereka yang paham betul how to transfer knowledge dan how to entertaint audience,” tambahnya.
Pertemuannya dengan Tantowi Yahya tersebut lantas makin membuatnya semangat dalam menyebarkan semangat muhadharah di kalangan santri pondok pesantren.
Setali tiga uang, latar belakang pesantren yang dimiliki suami dari Eva Falahiya Chandra itu mendorong Tanthowi untuk membuatkan badan hukum yang kini jadi profesinya tersebut. Di bawah payung hukum CPM, Heppy mulai mengembangkan sayapnya menyampaikan ilmu MC yang dipelajarinya.
Kini beragam pesantren dengan kultur, corak dan lingkungan yang berbeda pernah dilakoninya mulai dari Aceh hingga Papua.
Pernah suatu ketika, Heppy menerima telepon dari sebuah pondok pesantren yang terdapat di Lhoksemauwe, Aceh. Entah karena alasan tertentu, ayah Ghibran Vandra Munggaran itu membatalkan jadwal MC di sebuah tempat dan memutuskan untuk berangkat ke Lhoksemauwe.
Tidak seperti seorang pemateri kebanyakan, Heppy dijemput menggunakan becak motor menuju pondok yang memakan waktu 4 jam perjalanan dalam keadaan hujan. Tanpa ada bayangan sedikit pun, Heppy tidak tahu jika pondok yang ditujunya adalah pondok yang menampung 5 anak yatim korban tsunami. Mushola yang ada di pesantren tersebut bahkan tidak layak untuk digunakan.
Namun, Heppy tidak merasa minder dan tetap menatar kelima santri itu secara intensif ‘eye to eye’. Setelah acara selesai, Heppy mendapatkan honor yang tidak dikiranya yaitu doa anak-anak yatim yang jadi peserta pelatihannya kala itu.
“Saya terharu gara-gara kejadian itu. Coba bayangkan, mereka ditanya sama kiainya ‘kamu mau doakan apa ke Ustadz Heppy?’ Anak-anak bilang, ‘saya mau Ustadz Heppy lancar karirnya, panjang rezekinya,” papar putra dari pasangan Entis Sutisna Senjaya dan Neneng Hertini itu.
Doa anak-anak yatim lalu dikabulkan oleh Allah SWT. Selepas acara itu, Heppy kebanjiran panggilan sebagai pemateri dengan Lombok menjadi destinasi pertama setelah meninggalkan Lhoksemauwe. Setelah seminggu penuh mengisi acara di berbagai tempat, Heppy memutuskan untuk memberikan sebagian hasil pendapatannya sebagai pemateri kepada pesantren di Lhoksemauwe untuk dibangunkan mushala dan lapangan futsal.
Kini, dengan popularitas yang diperolehnya dia merasa bahwa doa para kiai Pondok Modern Gontor mengambil andil besar dalam perjalanan karirnya sebagai seorang MC. Baginya, tugas menjadi MC adalah tantangan yang harus dihadapi ke depan.
“Kalau dulu kita kenal istilah ruh seorang guru lebih penting dari seorang guru, maka saya ubah redaksinya, ruh seorang MC lebih penting daripada MC itu sendiri,” pungkas pengisi suara ‘Bioskop trans tv segera dibuka’ dan ‘Tv One, memang beda’ itu. [Mohamad Deny Irawan/Rus]



















