Kuwait, Gontornews — Wakil Menteri Luar Negeri Khaled al-Jarallah menjelaskan, krisis yang terjadi diantara negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) apabila tidak segera diselesaikan maka akan berpengaruh pada stabilitas keamanan di kawasan.
Hal itu disampaikan al-Jarallah saat melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammad bin Abdulrahman Al Thani ketika membahas soal cara memecahkan krisis, Selasa (25/4).
Untuk itu, al-Jarallah mengatakan bahwa negara-negara anggota GCC bertekad untuk menyelesaikan krisis yang sedang berlangsung di Teluk. Sebab apabila tidak segera diselesaikan, maka akan merusak kawasan tersebut.
“Semua orang menyadari semakin lama krisis ini dibiarkan berlangsung maka akan semakin dalam luka yang menempel di badan Teluk,” katanya, kantor berita resmi KUNA.
Ia juga mengatakan krisis negara anggota jika dibiarkan tidak terselesaikan akan sangat bisa menghancurkan harapan dan impian yang selama ini dipupuk di GCC.
Salah satu krisis yang terjadi di GCC dan dibahas Kuwait dan Qatar adalah soal pemutusan hubungan diplomatik dan perdagangan Qatar oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir pada 5 Juni 2017 lalu. Dengan menuduh Doha telah mendukung aksi terorisme, sementara Qatar menolak tuduhan tersebut.
“Ketidaksetujuan ini, jika tidak diselesaikan, akan menghancurkan harapan, impian dan aspirasi para anggota negara-negara GCC dalam kohesi, persatuan, harmoni dan aksi bersama GCC untuk kepentingan negara-negara GCC,” lanjutnya.
Menurutnya, sejak perselisihan tersebut pecah, beberapa mekanisme GCC telah terganggu. Serta pertemuan dan proposal pun terhenti. Itu merupakan dampak yang disebabkan oleh kelanjutan dari perselisihan.
“Ini dapat mempengaruhi keamanan di wilayah tersebut, serta hubungan ekonomi dewan dengan blok perdagangan lainnya di seluruh dunia,” tegasnya.
Selain itu, Al-Jarallah juga memuji AS atas upaya mediasinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Ia menambahkan bahwa keadaan yang terjadi di kawasan akan menunda pertemuan gabungan antar AS-GCC.
Pertemuan puncak Teluk yang seharusnya berlangsung pada awal April di Washington, DC, telah ditunda hingga September mendatang. Devi Lusianawati.




















