pesanan-majalah-edisi-khusus
34 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 7 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home News Nasional

Imam Shamsi Ali: Dewan Gereja New York Ingin Ahok Jadi Pemimpin Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
9 October 2016
in Nasional
0

New York, Gontornews — Imam Shamsi Ali memberikan tanggapan terkait pernyataan kontroversial Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tentang Surah Al-Maidah ayat 51. Pria asal Sulawesi yang bermukim di Amerika Serikat itu menyampaikan analisanya terkait adanya penistaan agama ucapan Ahok ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu itu.

Berikut pandangan Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc, yang dilansir dari laman facebooknya, Sabtu (8/10):

Ketika kita berada dalam suasana tertentu seringkali rasa sensitivitas manusia meninggi. Aksi dan reaksi terhadap sebuah isu seringkali tidak terkontrol. Termasuk tentunya ketika kita sedang berada dalam musim kampanye. Amerika dalam hal ini tidak terkecuali. Demikian pula rencana pemilihan gubernur DKI Jakarta di tahun 2017 mendatang.

Pernyataan Ahok tentang Surat Al-Maidah di Kepulauan Seribu adalah satu bukti bahwa sikap itu menunjukkan “sensitivitas” yang tinggi. Diakui atau tidak kegerahan umat Islam atas berbagai sikap dan pernyataannya selama ini mulai disadari “mengancam” posisinya pada pemilihan yang akan datang.

BACA JUGA

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

GIHES 2026: Mencerdaskan Bangsa Melalui Pengembangan Pendidikan Holistik

Perasaan terancam inilah yang menjadikannya melontarkan ungkapan yang seharusnya sensitif karena menyangkut emosi orang banyak. Menyatakan bahwa umat Islam dibohongi oleh Kitab Sucinya adalah pernyataan konyol, angkuh, dan merendahkan.

Ada dua kemungkinan kenapa Ahok harus menyampaikan pernyataan seperti itu. Pertama, mungkin karena itu memang karakternya. Di mana dia selalu berbicara tanpa memikirkan sensitivitas orang lain. Kedua, apa yang dia sampaikan merupakan penggambaran apa yang ada dalam hatinya.

Dan sudah pasti keduanya adalah kepribadian yang sangat tidak pantas bagi seorang pemimpin publik. Seorang pemimpin publik harus sensitif dengan lingkungan sekitarnya. Dia tidak bisa menutup mata terhadap realita yang sensitif, termasuk isu agama. Dan kalau ternyata dalam hati Ahok ada kebencian kepada keyakinan rakyat mayoritas yang dipimpinnya maka ini juga sangat berbahaya.

Isu SARA?

SARA itu pasti. Setiap orang punya tendensi untuk memosisikan diri pada posisi kelompok terdekatnya. Artinya seorang etnis Bugis alaminya ingin melihat etnis Bugis berhasil. Atau dalam konteks pemilihan ingin melihat yang terpilih dari kalangan etnisnya. Itu sunnatullah, hukum alam yang tidak dapat dipungkiri.

Kelompok agama juga demikian. Di mana saja setiap orang ingin melihat kelompoknya berhasil. Betapa banyak umat Islam ingin melihat suatu hari seorang Muslim menjadi walikota New York misalnya. Salahkah ini? Tidak sama sekali karena itulah yang disebut “solidaritas sosial” manusia.

Yang salah adalah keinginan kelompok kita menang itu menjadi dasar untuk membenci orang lain. Dalam Islam keinginan untuk kelompok kita berhasil itu tidak dilakukan dengan cara negatif. Misalnya dengan kebencian, menjelekkan, apalagi dengan kekerasan. Sebaliknya dilakukan dengan cara positif. Yaitu melalui “kompetisi sehat” untuk menampilkan calon dan program terbaiknya.

Oleh karenanya pernyataan Ahok itu di satu sisi salah. Tapi di sisi lain justeru memberikan ruang kepada umat ini untuk melakukan introspeksi. Kembali mempertanyakan di mana solidaritas sosial yang harusnya terbangun di atas asas “innamal mu’minuuna ikhwah“?

Isu dewan gereja New York

Hampir dua tahun ini beredar tulisan atas nama saya jika Ahok dipersiapkan oleh Dewan Gereja Dunia untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Saya pun dibanjiri pertanyaan apakah itu tulisan saya?

Saya sudah mengklarifikasi minimal tiga kali bahwa tulisan yang beredar itu bukan tulisan saya. Tapi tulisan orang yang mengatas namakan saya. Walaupun saya akui adanya sebagian dari tulisan saya, dan juga menjadi bagian dari substansi dari tulisan yang pernah saya tulis.

Pernyataan atau tepatnya harapan ketua Dewan Gereja New York untuk Ahok menjadi pemimpin Indonesia itu benar adanya. Saya mendengar langsung dalam acara penganugerahan penghargaan kepada beberapa orang yang dianggap berjasa dalam dunia gereja.

Tapi salahkah pernyataan dan harapan itu? Tidak sama sekali. Itulah tendensi SARA yang menginginkan kelompoknya untuk berhasil. Yang justeru aneh adalah ketika pemimpin gereja menghendaki sebuah negara mayoritas Kristen dipimpin oleh seorang Muslim. Tentu sikap seperti ini layak dipertanyakan oleh khalayak ramai komunitasnya.

Yang saya sayangkan dari beberapa pihak di Tanah Air adalah mengubah tulisan saya, mempoles dan menambah, lalu menyebarkan tanpa seizin dari saya. Saya menilai ini ketidakjujuran atas nama perjuangan. Bahkan saya melihatnya sebagai pengkhianatan intelektualitas.

Solidaritas sosial

Sekali lagi isu SARA itu alami. Karena setiap kelompok manusia memiliki kecenderungan membela dan/atau memenangkan kelompoknya. Kisah Musa membela komunitasnya di Mesir dengan memukul seorang warga Mesir asli hingga meninggal satu dari contoh al-Qur’an.

Kecenderungan membela kelompok dalam segala nuansanya, keagamaan ternasuk di dalamnya, adalah wajar bahkan alami. Saya kira hanya kepura-puraan semata, bahkan kemunafikan, jika ada manusia yang tidak cenderung membela atau menginginkan yang terbaik bagi kelompoknya. Termasuk di dalamnya keinginan untuk kelompoknya menjadi pemimpin bagi keseluruhan manusia.

Oleh karena itu ketika mendengar pernyataan ketua Dewan Gereja New York itu, saya tidak terkejut, apalagi marah. Karena sejatinya itu adalah hak mereka yang terbangun di atas dasar “solidaritas sosial”.

Justeru yang mengejutkan sekaligus saya pertanyakan adalah ketika ada orang Islam yang lebih cenderung memilih non-Muslim di saat ada calon Muslim. Di mana letak solidaritas sosial keagamaannya? Atau dalam bahasa agama di mana letak sentimen “ukhuwah imaniyah” di hatinya?

Pernyataan yang sering kita dengarkan adalah pemimpin non-Muslim yang adil lebih baik dari pemimpin Muslim yang tidak adil. Pernyataan ini sangat misleading dan berbahaya. Pertama karena seolah jika calon itu Muslim pasti tidak adil. Dan sebaliknya seolah kalau calon itu non Muslim pasti adil. Kedua, seolah di negara ini tidak ada lagi calon Muslim yang baik. Sehingga rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim itu kehilangan kepercayaan kepada calon-calon dari kalangan mereka.

Oleh karenanya menyikapi pernyataan Ahok dan menyambut pemilihan gubernur DkI Jakarta umat harus kembali menyadari dua hal.

Satu, SARA dalam nuansa positifnya, yaitu membangun solidaritas di atas asas kelompok tidaklah salah. Yang salah kalau kecenderungan kepada kelompok itu diekspresikan dalam bentuk kebencian dan kekerasan. Oleh karenanya umat perlu kembali menghayati makna “ukhuwah” dan juga makna “wilayah” yang semuanya merupakan basis solidaritas keumatan kita.

Dalam hal ini saya hormati posisi saudara-saudara Kristiani saya untuk menaruh harapan, doa, bahkan membantu kelompoknya untuk menang. Itu kita lihat di berbagai daerah yang mayoritas Kristen, tentu wajar kalau yang berkuasa adalah orang yang beragama Kristiani.

Dua, Indonesia sudah sepakat mengadopsi demokrasi sebagai sistem kehidupan bermasyarakatnya, dan dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya hanya ada satu pilihan dalam realita ini. Yaitu siap berkompetisi secara sehat dengan berbagai elemen atau kelompok masyarakat lainnya. Karenanya umat harus mampu mengedepankan yang terbaik bagi DKI, baik calon maupun program yang akan ditawarkan.

Pada akhirnya terlepas dari perbedaan penafsiran tentang ayat-ayat kepemimpinan dalam al-Qur’an, tidak ada perbedaan penafsiran tentang “solidaritas sosial” kemanusiaan itu. Karena itu naluri alami manusia. Hanya manusia yang kebal rasa, atau kurang waras, yang tidak ingin kelompoknya berhasil atau menang. Termasuk di dalammnya keberhasilan atau kemenangan politik. Wallahu a’lam!

New York, 7 Oktober 2016.

[Ahmad Muhajir]

Tags: AhokDewan Gereja New YorkImam Shamsi Ali
Share21Tweet13Send
Previous Post

Masjid Kotagede, Peninggalan Kerajaan Mataram

Next Post

BNI Syariah Ikut Serta Dalam Event GATF

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

30 August 2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

0
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

0
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

0
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

0
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

6 September 2026
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

6 September 2026
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

6 September 2026
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

6 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
â–²
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result