Jeddah, Gontornews–Organisasi Kerjasama Islam (OKI), organisasi antar-pemerintah terbesar kedua setelah PBB dengan 57 negara anggota, menggelar pertemuan darurat dari komite eksekutif menyikapi situasi yang memburuk di Aleppo Suriah.
Iyad Madani, Sekretaris Jenderal OKI mengatakan bahwa pertemuan ini digelar atas permintaan khusus dari Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kuwait Syaikh Sabah Al-Khaled Al-Hamad Al-Sabah. Komite eksekutif OKI ini berkumpul untuk menindaklanjuti perkembangan terbaru di Suriah.
Menurut Madani, rezim Suriah dan sekutunya melakukan perang habis-habisan terhadap warga sipil tak bersenjata. Tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terang-terangan pada perjanjian internasional dan aturan larangan menargetkan warga sipil. OKI mengutuk penggunaan kekuatan dan kebijakan pembunuhan sistematis warga oleh penguasa rezim.
OKI berharap masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah-langkah mendesak untuk menghentikan genosida yang diderita oleh rakyat Suriah terutama di Aleppo. Pertemuan tersebut juga untuk menegaskan komitmen negara-negara anggota OKI untuk kedaulatan, kemerdekaan, kesatuan politik dan integritas teritorial di Suriah.
“Pertemuan ini mengutuk eskalasi operasi militer dan pemboman udara melalui penggunaan sistematis dan sewenang-wenangan bom barel dan perangkat pembakar dan bom berat bunker-buster di daerah pemukiman, operasi darat di seluruh Suriah dan penggunaan melaporkan senjata kimia,” terangnya dilansir Saudi gazette (11/10).
Sekretaris Jenderal OKI menambahkan, persoalan ini harus terus dikomunikasikan lebih intensif dengan semua pihak baik internasional dan regional, termasuk dengan Sekretaris Jenderal PBB Presiden Dewan Keamanan, Presiden Majelis Umum dan anggota Dewan Keamanan hasil dari pertemuan ini.
Wakil tetap OKI dari Pakistan Asif Hassan Memon menambahkan, keadaan ini harus segera diahiri dengan negosiasi untuk menghentikan kejahatan mengerikan, pembunuhan anak-anak, perempuan dan warga sipil Suriah secara umum, serta pekerja kemanusiaan dan memaksakan gencatan senjata kemanusiaan yang mendesak setidaknya untuk waktu yang cukup.
Untuk diketahui, pertempuran sengit berlangsung di Aleppo selama beberapa bulan terakhir. Tentara Suriah dan milisi lokal tengah mengepung kelompok ekstremis yang menguasai bagian timur wilayah kota itu.
Perang sipil di Suriah sejak awal 2011 mengakibatkan korban tewas sekitar 470.000 jiwa. [Ahmad Muhajir]




















