Jakarta, Gontornews — Sepanjang sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, sosok kepemimpinan seorang ulama memang sudah lama mendarah daging dan mendapat sambutan hangat di mata masyarakat.
Pasalnya, sebelum mengenal apa yang dinamakan pemimpin, Islam terlebih dulu mengenalkan apa yang dinamakan kiai, ajengan, tuan guru, tengku, syeikh, dan sebutan lainnya bagi segolongan alim ulama.
Dalam struktur masyarakat Indonesia, fungsi para ulama yang cukup signifikan yaitu sebagai leader bagi umat, memberikan pengarahan dan bimbingan, serta menjawab permasalahan masyarakat.
Dengan begitu, pengertian ulama kurang lebih sama dengan pengertian seorang cendekiawan, yakni seseorang yang tidak hanya dituntut untuk memiliki kapasitas keilmuan yang mendalam. Namun juga harus memiliki keseriusan terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan.
Nah, guna meneruskan perjuangan para ulama diperlukan ketahanan sistem pendidikan akhlak dan agama generasi muda yang berawal dari rumah, sekolah, lalu lingkungan.
Dra Fadhilah Suralaga MSi, wakil dekan bidang Pendidikan Fakultas Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kepada Gontornews.com mengatakan, “Pendidikan dasar keagamaan seorang anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang telah ditanamkan para orangtua semenjak anak kecil.” Dan lagi-lagi jangan sampai salah dalam memilih pasangan hidup karena semua bisa berpengaruh kepada masa depan keluarga.
Berikut salah satu profil ulama besar Indonesia yang menarik untuk dicermati, Imam Nawawi Al Batani Al Jawi.
Profil Imam Nawawi Al Bantani Al Jawi
Imam Nawawi Al Bantani adalah salah seorang guru besar pesantren yang sempat dijuluki sebagai Imam Al Haramain di Timur Tengah bersama dengan Imam At Tirmisi. Bukan hanya nama dan gelarnya yang telah dikenal banyak orang, tapi beberapa karya mereka berdua yang semuanya berbahasa Arab juga telah dijadikan konsumsi para santri di Jawa dan di penjuru dunia.
Warisan utama mereka pada dunia pesantren terlihat jelas pada keikhlasan dan dedikasinya selama di Mekkah dan Madinah dalam mentransfer ilmu pengetahuan sekaligus mendidik para pendiri pesantren di beberapa negara.
Mekkah dan Madinah memang telah sejak lama dijadikan pusat pembelajaran ilmu pengetahuan Islam oleh banyak sarjana Muslim Jawa atau ulama yang telah berskala Internasional. Setelah melalui proses ini, barulah mereka mulai menyebarluaskan ilmu yang didapat ke Nusantara melalui para pelajar dari Malaka-Indonesia.
Salah satu sarjana Muslim Jawa yang berhasil menggali ilmu dan kemudian menjadi guru besar terkenal di Mekkah dan Madinah, serta digelari sebagai Sayyidul Ulama Hijaz pada abad 19 ialah Imam Nawawi.
Syeikh Muhammad bin Umar Nawawi Al Bantani Al Jawi atau Imam Nawawi dilahirkan di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten, 1815. Sejak berumur 15 tahun ia telah pergi ke Mekkah, meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di daerah Syi’ab Ali hingga wafat pada tahun 1897 dan dimakamkan di Ma’la.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 tahun lamanya untuk belajar dan menulis, antara tahun 1860-1870, di tempat yang sama ia juga mengisi kegiatannya dengan mengajar materi perkuliahan. Kiprah penulis buku Marah Labid, sebuah kitab tafsir berbahasa Arab yang cukup besar ini memang sudah tidak diragukan lagi di dunia pendidikan.
Terlebih kontribusi besarnya akan pertumbuhan dan perkembangan tipikal ulama Sunni Jawa, yakni para kiai berikut santrinya. Salah seorang murid kesayangan yang turut sukses menjadi seorang guru sufi ternama (1926) juga seorang pendiri pesantren tradisional Tebuireng di Jawa Timur (1889) adalah Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), salah satu pendiri organisasi umat Muslim terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU).
Selanjutnya, bentuk kontribusi Nawawi yang masih dimanfaatkan hingga kini adalah wujud kitab-kitab karangannya yang telah dijadikan bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand, serta negara-negara di Timur Tengah lainnya. [Edithya Miranti]



















