Beberapa minggu yang lalu, pagelaran Asian Games ke-18 resmi digelar di Jakarta dan Palembang. Dalam sesi pembukaan acara yang ditampilkan di Gelora Bung Karno tersebut, panitia memberikan beberapa konsep kekayaan alam dan keberagaman budaya Indonesia seperti tarian-tarian daerah dalam pertunjukan kolosal, busana bernuansa Garuda, sampai lantunan lagu-lagu daerah oleh musisi nasional.
Selaku tuan rumah, Indonesia harus mampu memberikan pelayanan terbaik bagi 45 kontingen yang akan berlabuh. Kesan yang baik itulah yang akan menarik perhatian dunia sehingga akan menguntungkan Indonesia dalam segi ekonomi, politik, dan, pariwisata pada kemudian hari.
Bagi sebagian besar panitia, pemerintah, bahkan rakyat Indonesia menganggap bahwa perhelatan Shilaturahmi akbar ini hanya sebatas ajang unjuk gigi identitas negara secara fisik saja.
Hipotesa feedback dari pelaksanaan acara dengan pendanaan Rp 7,2 triliun tersebut, berkutat pada meningkatnya daya tarik dunia Internasional pada kuliner, destinasi wisata, dan mode berirama lokal saja. Padahal pada momen langkah ini, Indonesia dapat melakukan pelayanan lebih kepada tamu melalui perilaku terpuji yang telah menjadi kearifan lokal tersendiri.
Rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim, pasti sangat mengingat sabda rasulnya bahwa
menyantuni tamu merupakan ibadah besar yang dapat menghapus dosa sang pemilik rumah. Hal tersebut sudah mendarah daging bagi sebagian besar suku sehingga telah menjadi suatu kode etik tersendiri bagi mereka. Bahkan dalam konsep distribusi zakat, musafir memiliki tempat yang agung walaupun secara finansial mereka sebenarnya
sudah bisa bertahan secara mandiri. Memberikan pertunjukan akhlaq karimah yang beranjak dari budaya daerah inilah yang sebenarnya secara metafisik memiliki manfaat yang lebih besar dikarenakan negara-negara Asia memang sudah dilabeli dengan hal itu.
Dalam data yang diambil dalam The Legatum Prosperity Index 2016, Indonesia disebut sebagai negara paling ramah peringkat 1 Asia dan 14 dunia dengan skor 61,88 di bawah Selandia Baru di peringkat 1 dunia dengan skor 68,95. Hal ini seharusnya
dapat dimanfaatkan sebagai modal sosial yang sangat besar demi kemajuan dan perkembangan Indonesia secara utuh. Tidak dengan mengesampingkan aspek pariwisata, kuliner, dan kekayaan lokal lainnya, kesopanan Indonesia seharusnya menjadi produk unggulan yang bisa dipamerkan dalam perhelatan akbar multieven 4 tahunan ini.
Pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia secara umum, seharusnya menekankan pertunjukan karakter ini melalui perlombaan yang di ikuti segenap punggawa kontingen tim nasional. Secara singkatnya, pertunjukan tersebut dapat disingkat sebagai semboyan 5S yang sering digaungkan oleh AA Gym di berbagai sesi ceramahnya. Senyum, sapa, salam, sopan, dan santun, hendaknya menjadi kode etik khusus untuk semua elemen yang berhubungan dengan Asian Games terutama selama masa kompetisi.
Senyum, sapa, salam, sopan, dan santun, hendaknya menjadi kode etik khusus untuk semua elemen yang berhubungan dengan Asian Games terutama selama masa kompetisi.
Masih lekat ingatan kita tentang timnas sepakbola U-12 yang mencium tangan wasit pertandingan pada Danone Cup 2017 lalu yang telah menyedot banyak perhatian dunia. Kultur tersebut terkesan unik bagi sebagian besar peserta apalagi kompetisi tersebut diadakan di kota New Jersey Amerika Serikat. Satu penampilan akhlaq karimah satu tim saja sudah dapat memberikan pentas apik bagi dunia yang haus akan praktikum penanaman karakter.
Bayangkan apa yang akan terjadi jika semua elemen di bumi pertiwi ini melakukannya secara serempak untuk menyemarakkan bulan sibuk nasional ini. Pasti martabat bangsa akan terangkat dan akan menjadi buah bibir yang baik bai seluruh tamu dan masyarakat dunia. Dan kemudian, berkah Allah akan turun menghujani seluruh pelosok Nusantara. []






















