Jakarta, Gontornews — Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Suharsono, mengatakan secara umum terumbu karang yang terdapat di Indonesia bagian selatan dan barat berada dalam keadaan jelek.
Lebih lanjut, Suharsono menilai bahwa kondisi tersebut disebabkan meningkatnya suhu air laut di Samudera Hindia yang mengakibatkan karang mengalami fenomena pemutihan atau bleaching pada tahun 2016.
Sebagaimana diketahuai, luas wilayah terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5 juta hektare yang tersebar di 1.067 titik.
“Dari total 1.067 titik terumbu karang, sebanyak 386 titik terumbu karang berkatogeri jelek, 366 titik terumbu karang berkategori cukup, 245 titik terumbu karang berkategori baik dan 70 titik lainnya berkategori sangat baik,” ungkap Suharsono sebagaimana dilansir Lipi.go.id.
Suharsono lantas menjelaskan bahwa kondisi karang di Indonesia relatif tidak mengalami perubahan signifikan meski di belahan bumi lain, seperti wilayah terumbu karang terluas di dunia yakni Great Barrier Reef di Australia, mengalami kerusakan parah akibat perubahan iklim.
Sebaliknya, ketimbang menyalahkan kondisi alam, Suharsono lebih melihat bahwa kerusakan terumbu karang di Indonesia lebih disebabkan oleh kerusakan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia.
“Faktor antrhopogenik dinilai lebih banyak mempengaruhi kondisi karang di Indonesia saat ini. Karena pertambahan jumlah penduduk telah menyebabkan kebutuhan hasil laut dan pemanfaatan daerah pesisir meningkat dan hal tersebut dapat mengancam ekosistem (bawah laut).”
“Untuk menjaga keseimbangan ekosistem diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem terumbu karang untuk keberlangsungan hidup biota laut,” pungkas Suharsono. [Mohamad Deny Irawan]






















