Irbil, Gontornews — PBB mengatakan, lebih dari 10 ribu warga Irak telah meninggalkan rumah mereka sejak awal serangan yang dilakukan pasukan Irak untuk merebut kembali Mosul dari ISIS bulan ini. Angka itu hanya sebagian kecil dari arus pengungsi yang sesungguhnya.
“Ketika pertempuran semakin dekat ke daerah yang lebih padat penduduk, kami mulai melihat semakin banyak keluarga yang melarikan diri dari lokasi pertempuran,” ujar Stefanie Dekker dari Al Jazeera, melaporkan dari Erbil di Irak utara.
“Setidaknya 1.000 orang dievakuasi oleh pasukan kontraterorisme Irak dari desa-desa mereka,” tambah Dekker.
“Mereka ketakutan dan gemetaran, mereka terjebak dalam baku tembak.”
Untuk sementara mereka dievakuasi ke kamp-kamp pengungsian yang terdekat. “Ada koridor kemanusiaan untuk mengelola ribuan pengungsi,” kata Dekker.
Menurutnya, banyak orang yang melakukan perjalanan menakutkan ini dengan berjalan kaki. Tapi, meskipun jumlah pengungsi Irak telah meningkat pesat selama dua hari terakhir, namun tidak ada tanda-tanda akan terjadi eksodus yang lebih besar.
Sementara para relawan tengah berupaya membangun kamp-kamp di sebuah daerah yang luas di pinggiran Mosul.
Perlawanan yang kuat dari ISIS telah membuat pertempuran berjalan lambat dan berbahaya, namun pasukan Peshmerga Irak dan Kurdi telah merebut kembali 90 desa.
Pasukan Irak pada hari Kamis (27/10) merebut kembali Kota Rutba di Irak barat, di mana milisi Syiah dilaporkan menelantarkan secara paksa 60 keluarga yang mereka tuduh bekerjasama dengan ISIS.
Sementara itu, Peshmerga telah mengonsentrasikan serangan mereka di timur laut, di Kota Bashiqa. Pasukan koalisi pimpinan AS telah mendukung mereka dengan serangan udara.
Menteri Pertahanan AS, Ash Carter, mengatakan pada hari Rabu bahwa meskipun peperangan berlangsung lambat, namun tidak ada rencana untuk menambah pasukan. [Rusdiono Mukri]





















