Gontornews — KH Saifuddin Amsir, salah seorang ulama Betawi yang kharismatik. Nama lengkapnya Saifuddin bin Amsir Naiman al-Batawiy adalah salah seorang ulama yang sangat berpengaruh di Jakarta. Beberapa karya yang telah diraciknya dari pelbagai literatur klasik karangan para sarjana masa lalu merupakan bukti kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimiliki KH Saifuddin Amsir.
Abuya–demikian masyarakat Betawi menyapanya—merupakan sosok yang low profile. Tak jarang, santri yang menyertainya merasa akrab. Namun, ketika sedang mengajar atau di atas mimbar, kharismanya sungguh terasa. Kiai Amsir mampu menarik perhatian publik, lantaran kemapuan retorika dan argumentasinya sangat logis dan enak dicerna.
Selama hidupnya, Kiai Saifuddin istiqamah menggawangi berbagai majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jakarta. Praktis hari-harinya penuh jadwal pengajian di majlis ta’lim yang berada di berbagai pelosok Ibukota ini.
Saifuddin kecil, lahir di Jakarta pada 31 Januari 1955. Ia tumbuh dan besar di sebuah keluarga sederhana. Ayahnya, Haji Amsir Naiman, adalah seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya: Kebon Manggis, Matraman. Sedangkan ibunya, Hajjah Nur’ain, seorang ibu rumah tangga yang secara penuh ketulusan dan dedikasi tinggi mengabdikan dirinya untuk mengurus anak dan keluarga.
Sejak kecil, putra kelima dari sepuluh bersaudara ini sudah diajari sifat-sifat yang menjadi teladan bagi dirinya kelak. Tidak ada kompromi bagi suatu pelanggaran yang telah ditetapkan ayahnya. Bersama sembilan orang saudaranya, ia dibiasakan untuk menunaikan shalat berjamaah dan mengaji al-Qur’an.
Keinginan kuatnya dalam menimba ilmu-ilmu agama sudah terpatri kuat sedari kecil. Menyadari dirinya bukan berasal dari keluarga ulama dan juga bukan dari kalangan yang berada, Saifuddin kecil menyiasatinya untuk berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orangtuanya. Ia berusaha menutupi biaya kebutuhan pendidikannya sendiri, bahkan sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Berkat ketekunannya dalam belajar, ia pun selalu mendapat beasiswa dari sekolah. Kegigihannya dalam terus mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak maupun berguru kepada para ulama terkemuka di masa mudanya, telah menjadikan dirinya sebagai salah seorang ulama Jakarta yang cukup populer dan disegani saat ini.
Selain mengaji kepada kedua orangtuanya, ia juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya belajar, ia juga senang membaca buku-buku bacaan. Sewaktu duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, ia mulai banyak berguru kepada beberapa ulama di berbagai wilayah Jakarta.
Di antara ulama yang tercatat sebagai gurunya adalah KH Abdullah Syafi’i, KH Muhammad Syafi’i Hadzami Kebayoran Lama, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Kepada para guru tersebut, ia mempelajari pelbagai cabang ilmu keislaman. Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah, di antara kitab yang ia khatamkan di hadapan gurunya itu adalah kitab Minhaj al-Thalibin (karya Imam al-Nawawi) dan kitab Bughyat al-Mustarsyidin (karya Habib Abdurrahman Al-Masyhur).
Dari waktu ke waktu dalam menempuh pendidikan formalnya itu, ia selalu menorehkan prestasi yang gemilang. Sewaktu lulus aliyah, misalnya, ia tercatat sebagai lulusan aliyah dengan nilai terbaik se-Jakarta. Setelah pendidikan formalnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah usai ia lewati, ia menjadi mahasiswa di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dan mendapat gelar sarjana muda di kampus KH Abdullah Syafi’i tersebut.
Pada 1982, ia mendaftarkan diri pada Jurusan Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Jakarta-red) saat jurusan itu baru dibuka oleh Rektor IAIN Prof DR Harun Nasution, M.A. Karena berbagai prestasi yang telah dicapai sebelumnya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang diterima di IAIN tanpa melalui tes masuk. Ia juga tercatat sebagai lulusan IAIN terbaik.
Setelah tidak mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kiai Saifuddin masih menikmati belantara ilmu pengetahuan berbasis kitab kuning (al-kutub al-turats) karya para sarjana masa lalu. Dari aneka macam kitab tersebut kemudian diringkas dan di-tahqiq menjadi sebuah karya agar bermanfaat bagi sekitar.
Karyanya yang telah dicetak antara lain: 1) Tafsir Jawāhir al-Qur’ān (empat jilid), 2) Majmū’ al-Furū’ wa al-Masāil (tiga jilid), dan 3) al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan. Karya yang disebut terakhir ini merupakan karya besar Kiai Saifuddin yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.
Dalam menyusun karyanya, ia memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif. Al-Ghazali telah menginspirasi dalam penulisan karyanya, Kiai Saifuddin mengatakan pemikiran brilian al-Ghazali tak hanya menjadi rujukan para sarjana muslim, namun juga sarjana non muslim.
Kiai Saifudin seorang Mustasyar PBNU masa khidmah 2015-2020. Pada periode-periode sebelumnya, ia selalu tercatat di Syuriyah PBNU. Diusianya yang ke-63, KH Saifuddin Amsir meninggal dunia pada Kamis, 19 Juli 2018 dini hari sekitar pukul 01.30. Semoga Allah berikan kelapangan kuburnya, diterima amalnya dan diampuni dosanya. [Fathurroji]






















