Gontornews — Karangsambung, demikian nama desanya. Ia merupakan salah satu dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Kadipaten. Di Desa Karangsambung terdapat sebuah masjid bersejarah bagi umat Islam, namanya Masjid Jami Darussalam.
Sekitar Abad 14 Sunan Gunung Djati diperintahkan oleh Sultan Demak untuk menyebarluaskan agama Islam di Pulau Jawa bagian barat sambil mendamaikan masyarakat yang sedang berseteru pada saat itu dikarenakan perebutan batas wilayah.
Berkat usaha para pembantu Sunan Gunung Djati masyarakat yang berseteru bisa didamaikan, maka daerah-daerah tersebut disatukan menjadi Karangsambung yang mempunyai arti Karang artinya halaman, Sambung artinya disatukan, jadi Karangsambung berarti halaman yang disatukan.
Setelah warga masyarakat bersatu, maka para pembantu Sunan Gunung Djati membuat tempat ibadah berupa masjid yang sekarang bernama Masjid Jami Darussalam.
Masjid Jami Darussalam Majalengka ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Majalengka. Kabarnya masjid tersebut pernah disinggahi oleh H Agus Salim dan HOS Cokroaminoto.
Anak buah Sunan Gunung Djati yang membangun masjid tersebut di antaranya adalah Ki Gedeng Pancuh, Ki Gedeng Curug Landung, Ki Gedeng Magelung, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Sawit, Ki Gedeng Keked, Ki Gedeng Bango Dua dan Ki Gedeng Hanjatan.
Seperti dalam keterangan marbot Masjid Jami Darussalam, Diat (60) seperti dilansir situs pikiran-rakyat, masjid ini sudah mengalami tiga kali revovasi namun tidak menghilangkan bentuk aslinya. Renovasi pertama tahun 1975, kedua tahun 1982 dan dilanjutkan tahun 2003. Masjid tersebut kini diperlebar ke arah samping 10 meter dan ke depan 8 meter.
Awal pembangunan masjid ini hanya berukuran 10×12 meter. Di bagian tengah terdapat empat tiang kurang lebih setinggi 9 meter sebagai penyangga bangunan. Tiang di bagian bawah konon terbuat dari batu karang yang disambung-sambungkan setinggi kurang lebih 3 meter. Tiang disambung dengan kayu jati berbentuk persegi 2×2 meter.
Masjid ini memiliki mihrab yang sebelah kanan dan kiri terdapat ruangan berukuran 2×3 meter. Ruangan tersebut dipergunakan sebagai tempat penyimpanan peralatan audio dan lainnya sedangkan ruang samping kanan dipergunakan sebagai tempat penyimpanan seluruh perabotan perang peninggalan anak buah Sunan Gunung Djati yang sebagian di antaranya masih utuh seperti tombak, keris, kursi Ki Gedeng Sawit.
Peninggalan yang masih tersisa dan asli lainnya adalah bedug kayu jati berdiameter 80 cm dengan panjang 1 m. Selama ini, pemerintah desa setempat hanya mengganti kulit bedug setiap tiga tahun sekali.
Menurut Diat, bedug dibuat kembar tiga dari satu pohon jati. Satu bedug disimpan di masjid Gunung Djati yang terbuat dari pangkal jati, satu bedug di Banten dan satu lagi di Karangsambung.
Selain membuat sebuah masjid, para pembantu Sunan Gunung Djati juga membuat peralatan-peralatan diantaranya adalah kursi yang dibuat oleh Ki Gedeng Sawit untuk duduk memberikan ceramah keagamaan.
Selain itu juga membuat perabot alat perang, diantaranya tumbak, keris, pedang, meriam. Begitu juga perabot rumah tangga seperti piring dan gelas yang dibuat dari bahan kramik. [Fathurroji]





















