Jakarta, Gontornews — Sejumlah pemimpin dunia Islam mengutuk aksi penembakan brutal yang dilakukan oleh seorang yang disebut-sebut berkewarganegaraan Australia di Masjid Al-Noor di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3) waktu setempat.
Pria pemilik akun Twitter bernama Brenton Tarrant itu juga mengunggah sebuah manifesto setebal 87 halaman yang berisi pendapatnya yang antiimigran, antimuslim serta menjelaskan alasan di balik aksi biadabnya tersebut.
Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, misalnya, menyebut bahwa tindakan tersebut sebagai tindakan teror yang mengingatkan masyarakat dunia tentang Islamophobia pascaserangan 11 September di menara kembar pada tahun 2001 silam.
“Saya menyayangkan serangan teror yang meningkat akibat Islamophobia pascaaksi 11/9. Sebanyak 1,3 miliar Muslim secara kolektif disalahkan atas segala tindakan teror yang dilakukan,” ungkap Imran Khan dalam akun media sosialnya sebagaimana dilansir Reuters.
Pendapat mengutuk lainnya diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, yang mengatakan bahwa aksi yang menewaskan 30 orang jamaah shalat Jumat tersebut disengaja untuk memperburuk perjuangan politik kelompok Muslim.
“Tidak hanya pelakunya, tetapi, juga para polisi dan media yang menyulut peningkatan Islamophobia serta kebencian terhadap Islam di Barat,” ungkap Cavusoglu dalam akun Twitter nya.
Universitas Islam terkemuka di dunia, Al-Azhar University Kairo juga mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan indikator berbahaya yang berpotensi meningkatkan pidato kebencian, xenophobia serta penyebaran Islamophobia.
“Kami memperingaktan bahwa serangan itu merupakan indikator berbahaya dari sebuah konsekuensi mengerikan dari meningkatnya pidato kebencian, xenophobia serta penyebaran Islamophobia.”
Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, mengonfirmasi bahwa ada enam orang warga negara Indonesia (WNI) yang berada di salah satu masjid tersebut dengan 3 orang berhasil melarikan diri sedang 3 lainnya belum diketahui keberadaannya.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, juga mengonfirmasi bahwa Pemerintah Indonesia, secara resmi, mengutuk aksi penembakan tersebut karena terjadi ketika sejumlah jamaah tengah melaksanakan ibadah shalat Jumat.
“Indonesia mengutuk keras aksi penembakan tersebut karena dilakukan di tempat ibadah sementara ibadah shalat Jumat tengah berlangsung,” pungkas Retno Marsudi. [Mohamad Deny Irawan]
























