Oleh: Ustadz Cecep Sobar Rochmat
Wakil Pengasuh Pondok Modern Darusssalam Gontor Kampus 13 Ittihadul Ummah, Poso, Sulawesi Tengah, dan Kandidat Doktor Institut Agama Islam Negeri, Palu
Rasulullah SAW bersabda, โHendaklah engkau mengenal Allah pada waktu lapang, pasti Allah mengenalmu pada waktu susah. Ketahuilah apa-apa yang telah meleset (tidak mengenai) darimu, ia tidak akan mengenaimu. Dan apa-apa yang menimpamu, tidak akan meleset darimu. Ketahuilah, sesungguhnya beserta kemenangan ada kesabaran, sesungguhnya beserta kesenangan ada kesusahan, dan beserta kesulitan ada kemudahan.โ (HR Bukhari dan Muslim)
Rumah tangga bagaikan bahtera yang berlayar di laut lepas. Memang, angin yang tertiup tidak akan selalu sepoi-sepoi nan bersahabat. Terkadang, angin kencang dan badai datang bersanding dengan gulungan ombak yang menderu. Akan tetapi, bahtera rumah tangga harus tetap kokoh dan kemudi harus tetap menuju ke arah tujuan.
Semangat dan sikap optimis harus terus terpelihara. Samudera yang luas dan ganas tidak akan menjadi penghalang selama semangat hidup tetap menyala. Sikap putus asa dan sikap pesimis adalah musuh terbesar dalam bahtera rumah tangga. Pasalnya, tidak ada masalah yang datang tanpa ada penyelesaiannya seperti halnya tidak ada penyakit tanpa adanya obat yang menyertainya.
Para ilmuwan menemukan bahwa beberapa perubahan nyata pada otak memungkinkan seseorang memberi indikator untuk membedakan dan memisahkan antara pribadi optimis dan pribadi pesimis. Sebagaimana diketahui, beberapa orang memiliki reaksi yang sama sekali berbeda terhadap satu peristiwa, kejadian-kejadian maupun tindakan yang sama. Ada yang merespon negatif dan ada pula yang positif.
Tim kajian ilmiah dari Universitas Stanford Amerika Serikat melakukan penelitian dalam masalah ini. Mereka berpendapat bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk membedakan pribadi humoris-optimis dengan pribadi sedih-pesimis.
Dalam studi yang melibatkan sekelompok wanita dengan kisaran umur 19-42 tahun itu, para peneliti membagi kelompok wanita menjadi dua. Para peneliti menampilkan dua kelompok dari beberapa foto adegan yang menyenangkan, seperti acara ulang tahun, dan foto-foto peristiwa suram dan menyedihkan seperti peristiwa-peristiwa di rumah sakit.
Saat foto-foto tersebut ditampilkan, para ilmuwan mengukur aktivitas otak para responden. Tim peneliti mencatat bahwa wanita yang optimis merespon lebih kuat foto-foto yang membahagiakan dibanding dengan wanita yang cemas dan pesimis. Sebaliknya, dalam benak wanita pesimis, tim peneliti mendeteksi bahwa mereka justru menampilkan kejadian-kejadian suram dan menyedihkan di kala diperlihatkan foto-foto tentang peristiwa di rumah sakit.
Ketua tim peneliti, Dr John Gabrielle mengatakan bahwa respon otak tergantung dengan sifat pribadi seseorang. โRespon otak terhadap adegan yang ditampilkan sangat tergantung pada sifat pribadi setiap wanita. Hanya saja, eksperimen ini tidak membuktikan apakah jika penyebab optimis dan pesimis adalah kelemahan dan kurangnya aktivitas otak atau hanya sekedar perubahan fisiologi lainnya,” ujarnya.
Namun, Dr Gabrielle mengatakan bahwa penjelasan lebih lanjut tentang kegiatan otak dan karakter arsitekturnya dapat berguna dalam mengobati penyakit mental, seperti depresi. Sampai sekarang, belum diketahui apakah subjek itu terkait dengan ketentuan genetik sebelumnya ataukah itu bagian dari proses pendidikan dan penyesuaian sosial.
Oleh karena itu, otak berada dalam keadaan stabil dan nyaman ketika manusia optimis. Para psikolog menegaskan bahwa stabilitas fungsi otak sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental seseorang. Para peneliti menyarankan optimisme sebagai metode penting untuk mengobati banyak penyakit mental.
Bahkan, ada banyak penelitian yang menegaskan bahwa orang yang optimis jauh lebih sehat dibandingkan orang yang pesimis. Dengan demikian bahwa optimisme adalah obat untuk banyak penyakit yang tak tersembuhkan. Barangkali hal yang paling penting adalah ketika dalam keadaan optimis, sistem kekebalan tubuh bekerja dengan kondisi lebih baik.
Kita semua tahu bahwa Rasulullah SAW memandang hidup ini dengan penuh optimis. Bagaimana pula optimisme beliau begitu menakjubkan dan memerintahkan para sahabatnya agar menjadi orang yang optimis. Bahkan, ketika dalam situasi paling sulit dalam hidupnya beliau mengajarkan kita bagaimana mengatasi kecemasan dan ketakutan hanya dengan satu kalimat saja.
Setiap kita pasti ingat tentang kisah hijrah Rasulullah SAW dan Abubakar RA meninggalkan Mekkah, kemudian keduanya masuk ke dalam gua, orang-orang musyrik mencarinya. Maut senantiasa menghantui jika saja salah seorang musyrik melihat keduanya. Akan tetapi, kasih sayang dan penjagaan Allah SWT lebih besar dan lebih kuat dibandingkan tipu daya orang-orang musyrik.
Pada situasi sulit ini, Abubakar menoleh kepada Rasulullah SAW seraya berkata, โWahai Rasulullah, seandainya salah satu dari mereka melihat kepada dua telapak kakinya (ke bawah) pasti mereka akan melihat kita,โ Abubakar melanjutkan ucapannya,ย โWahai Rasulullah, sungguh aku tidak menghawatirkan diriku, namun aku khawatir akan dirimu,โ inilah situasi puncak kecemasan dan ketakutan. Lantas bagaimana Rasulullah SAW mengatasi situasi ini?
Sungguh kalimat yang menakjubkan. โJangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.โ Kalimat ini harus senantiasa diingat oleh setiap mukmin ketika menghadapi situasi yang sulit. Seperti inilah yang dilakukan oleh para nabi. Di antara mereka adalah nabi Yaโqub AS ketika diuji dengan kehilangan putranya. Apa yang beliau lakukan? Bagaimana beliau mengatasi kecemasan dan kesedihan ini? Apakah beliau pesimis, marah, dan emosi? Perhatikan pa yang beliau ucapkan kepada anak-anaknya berikut:
โHai anak-anakku, pergilah kamu. Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.โ (QS Yusuf:87)
Mari kita renungkan bagaimana al-Qurโan mengajak kepada kita untuk selalu bersikap optimis dalam hidup dan penuh harap akan rahmat dari Allah swt. Wallฤhu a’lam bi al-แนฃawฤb.





















