DR Endang Suherman, MPdI
Depok, Gontornews — Globalisasi merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan bagi setiap pihak, termasuk madrasah. Agar dapat terus bersaing, penting dilakukan modernisasi sistem penyelenggaran pendidikan di madrasah.
Dalam disertasi yang dibimbing langsung oleh Prof Dr Abuddin Nata, MA dan Dr Endin Mujahidin, M Si, Endang Suherman menambahkan, “Kalau ingin memenangkan persaingan dalam masyarakat global ini, kita harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.”
Berbicara soal SDM yang berkualitas, maka disinilah kita harus benar-benar menyadari peran strategis sebuah institusi pendidikan. Karena, sebuah institusi pendidikan diyakini sebagai tempat yang paling tepat untuk membina, menempa, dan membentuk sebuah generasi masa depan yang berkualitas.
Diakui bahwa secara umum kualitas madrasah memang masih jauh dari harapan. Secara sederhana bisa dilihat dari rendahnya minat para orang tua untuk menyerahkan masa depan pendidikan anak-anaknya ke madrasah.
Menurut pria kelahiran Bogor, 1 Juni 1966 ini, salah satu penyebab utamanya adalah karena memang secara kualitatif banyak madrasah yang tidak bisa bersaing dari sekolah umum.
Ada memang madrasah yang cukup berkualitas, bahkan mungkin lebih baik dari sekolah umum, tetapi tetap saja jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah madrasah secara keseluruhan.
Harus disadari bahwa globalisasi sendiri memberikan peluang sekaligus tantangan dan bahkan ancaman terhadap siapapun, apapun, dan lembaga (pendidikan) manapun, termasuk madrasah.
Lebih jauh lagi, Madrasah, sebagai institusi pendidikan yang menisbahkan diri dengan Islam bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa ajaran Islam bisa menjadi solusi dalam menjawab berbagai permasalahan yang terjadi hari ini dan sampai kapanpun.
Dengan demikian, kata kunci yang mesti dilakukan oleh madrasah adalah melakukan modernisasi sistem penyelenggaran pendidikan di madrasah. Karena modernisasi adalah suatu hal yang inheren dengan arus globalisasi itu sendiri.
“Madrasah tidak bisa bertahan dengan pola lama, dengan pola ‘manajemen surau’ yang terkesan ‘asal jadi’ dan kurang visioner,” ujar Dr Endang. Madrasah juga tidak boleh mengisolasi diri dari setiap perkembangan yang begitu cepat yang terjadi di luar dirinya.
“Madrasah pola manajemennya harus disesuaikan dengan manajemen moderen,” tegas ayah dari tiga anak ini. Dalam konteks ini, madrasah harus dengan cepat melakukan evaluasi internal, menyusun berbagai program strategis untuk memperbaiki diri.
Penguatan posisi madrasah dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) diharapkan menumbuhkan kepercayaan diri madrasah sebagai institusi pendidikan agama Islam.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan formal dibawah tanggung jawab Kementerian Agama dengan penetapan melalui peraturan perundangan, tidak saja masuk dalam sub Sistem Pendidikan Nasional tetapi telah berintegrasi ke dalam Sistem Pendidikan Nasional.
Penetapan kebijakan teknis yang digariskan oleh Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, mengemukakan sebagai berikut: Pertama, peningkatan mutu semua jenis dan jenjang pendidikan pada perguruan agama Islam sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan.
Kedua, pembinaan Madrasah negeri diusahakan untuk menjadi contoh (model) bagi madrasah swasta terutama dalam soal mutu.
Ketiga, pembinaan madrasah swasta diarahkan agar sistem pendidikannya selaras dengan sistem pendidikan nasional. Mutunya sama dengan madrasah negeri.
Keempat, pembinaan pondok pesantren diarahkan di samping memantapkan sistem pendidikannya juga ditingkatkan perannya dalam pembangunan.
Berdasarkan kebijakan di atas, strategi dan program pun kerap dipersiapkan dengan terus dievaluasi, baik dari segi pelaksanaan maupun implikasinya yang mungkin akan timbul dari kebijakan tersebut.
“Untuk membawa madrasah kearah yang lebih baik, maka perlu diusahakan perbaiki sistem yang selama ini diterapkan oleh madrasah,” jawab Endang.
Karena sistem yang ada akan menghasilkan hasil yang ada. Dan untuk mendapatkan atau menghasilkan hasil yang berbeda maka sistem harus diubah.
Dengan kata lain, jika selama ini apa yang telah diterapkan oleh madrasah ternyata membawa hasil yang tidak memuaskan, maka sistem tersebut tidak seharusnya dipertahankan, paling tidak perlu dimodifikasi atau ditingkatkan.
Berkaitan dengan tantangan dan masa depan madrasah, pria jebolan magister Universitas Ibnu Kholdun tahun 2011 tersebut menawarkan beberapa langkah operasional demi mewujudkan impian para pengelola madrasah, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, munculnya persoalan-persoalan di madrasah pada intinya adalah disebabkan kurangnya financial yang dimiliki. Dukungan financial yang memadai akan menjadikan madrasah lebih leluasa merancang kegiatan-kegiatan yang bisa memacu perkembangan sebuah madrasah.
Kedua, menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan lembaga pendidikan.
Ketiga, melakukan studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih maju. Keempat, mengikutsertakan tenaga pengajar setiap ada seminar kependidikan, dan sebagainya.
“Semoga dengan adanya pembahasan ini, masa depan madrasah di Indonesia dapat semakin maju, berkembang, dan berkualitas,” pungkasnya. <Edithya Miranti>.
Biografi Penulis
N a m a : DR Endang Suherman, M Pd I
Tempat Tgl Lahir : Bogor, 1 Juni 1966
Agama : Islam
Istri : Kusuma Indah, S.Ag
Anak : Tiga
Pendidikan : MI Tunas Islam Bojong Limus, 1981
MTSN Kota Bogor , 1984
PGAN Kota Bogor, 1987
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1992
Pasca Sarjana UIKA Bogor (S2), 2007
Pasca Sarjana UIKA Bogor (S3), 2011
Pekerjaan : PNS Kementrian Agama Kota Bogor
Riwayat Pekerjaan : Dayah Moderen Terpadu Subulusalam Kab. Singkil Aceh Selatan 1992-1994
SMAN 2 Bogor 2005 – sekarang
UIKA Bogor PGMI 2011 – 2013
MTs Al-Fikri (Kepsek)
PKBM Matahari (Pengelola)



















