Rabat, Gontornews — Ratusan guru honorer di Maroko melakukan demonstrasi di depan Kantor kementerian Pendidikan Maroko di Rabat, Rabu (10/4). Para guru menuntut pemerintah untu memberikan jaminan pekerjaan berupa status pegawai negeri agar mereka mendapatkan tunjangan pegawai, keamanan dalam pengajar, pensiun serta fasilitas pindah tugas ke daerah lain.
Sebelumnya, sebagaimana dilansir Reuters, sekitar 10.000 guru honorer melakukan demonstrasi serupa di depan gedung Parlemen Maroko. Namun, polisi terpaksa harus menggunakan meriam air untuk ‘mengusir’ para demonstran.
Namun, pertanyaan konfrontatif disampaikan oleh Menteri Pendidikan Maroko, Said Amzazi, yang mengatakan akan memecat guru-guru yang meninggalkan kewajiban mengajarnya. Ia berdalih bahwa akibat demonstrasi tersebut, sekitar 7 persen dari total 7 juta siswa Maroko meninggalkan kelas.
Sekitar 55.000 dari tota 240.000 guru telah diberikan status pegawai negeri oleh Pemerintah sejak tahun 2016. Secara khusus, pengangkatan pegawai tersebut dimaksudkan untuk mengisi formasi guru di daerah pedesaan.
Pada tahun 2019, Pemerintah Maroko telah menaikkan anggaran negara di sektor pendidikan di angka 7 Miliar Dollar AS atau sekitar 99 Trilun Rupiah* dari yang sebelumnya hanya 561 juta Dollar AS atau setara 7,93 Triliun Rupiah pada tahun 2018 silam. Pemerintah Maroko sendiri tengah berupaya keras untuk meningkatkan akses pendidikan serta infrastrukturnya ke daerah-daerah yang sulit terjangkau. [Mohamad Deny Irawan]
*Kurs 1 Dollar AS = Rp 14.183,-






















