Jakarta, Gontornews — Positif thinking, optimis dan all out dalam berjuang. Demikian karakter yang melekat dalam diri KH Mad Rodja Sukarta dalam memimpin Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor Jawa Barat. Meski usianya sudah tidak muda lagi, kiai berusia 69 tahun ini semangatnya tak rapuh dimakan usia.
Keistiqomahan beliau yang sangat tinggi dalam berjuang di jalur pesantren itu bahkan diakui oleh putranya. “Gairah menghidupkan Islam selalu terpatri dalam hati beliau. Meski badan tak lagi muda semangatnya mengalahkan yang muda,” ungkap salah satu putra KH Mad Rodja Sukarta, Ustadz Averus kepada Majalah Gontor.
Kepada Majalah Gontor, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor KH Mad Rodja Sukarta mengatakan, baginya berdakwah merupakan profesi yang paling bergengsi, karena urusannya langsung dengan Allah. “Pejuang itu transaksinya langsung kepada Allah karena berurusan dengan balasan di akhirat”jelasnya.
Karena itu tantangan-tantangan yang dihadapinya selalu dijadikannya sebagai amunisi untuk terus berjuang “Karena tantangan yang kita hadapi itu sebenarnya tidak seberat apa yang dirasakan para ulama dahulu. Para pendahulu kita sebagaimana yang kita baca di buku-buku, patut kita tiru. Tapi kalau tantangan dijadikan hambatan, itu malah kita bisa kehilangan cara dalam mencari solusi,”ujarnya.
Baginya, maju atau tidaknya umat Islam adalah karena umat Islam sendiri. “Yang membuat kita tidak maju itukan diri sendiri dan kemajuan Islam, kemajuan pendidikan Islam ada di tangan umat Islam itu sendiri. Jika kita bersabar mengelola pesantren insyaallah cepat atau lambat akan lahir sebuah komunitas yang mandiri bukan ketergantungan,” ucapnya.
Seiring waktu berjalan, pesantren yang diresmikan sejak 1988 ini terus mengalami perkembangan. Berkat kerja keras dan keyakinan, rumah prostitusi berhasil disulap fungsinya menjadi asrama putri. “Di sekitar ini, dulu, tempat prostitusi. Karena cita-cita kuat, dan yakin kepada Allah, lima unit rumah prostitusi yang ada di situ kita beli. Alhamdulillah sekarang yang tadinya itu rumah prostitusi sekarang jadi pesantren putri,” kenangnya.
Selain itu pesantren yang dirintis sejak 1987 kini telah menjadi tempat bagi ribuan santri menuntut ilmu. “Masa perintisan (1987) kita buka TPA. Waktu itu saya masih pulang balik Darun Najah ke sini. Tahun 1988 kita baru terima santri. 20 santri ketika itu. Hari ini santri kita Alhamdulillah sudah 1.568 santri,” ungkapnya.
Untuk diketahui sejarah berdirinya Pondok Pesantren Darul Muttaqien terkait erat dengan pemberian tanah wakaf seluas 1,8 ha oleh mantan wartawan senior Kantor Berita Antara, H Mohamad Nahar (alm.) kepada KH Sholeh Iskandar (alm) ketua BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se Indonesia) pada tahun 1987.
Banyak tokoh dan para ulama yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi founding father lahirnya Darul Muttaqien. Di antaranya adalah KH Sholeh Iskandar (Ketua BKSPPI), KH Rosyad Nurdin (MUI Jawa Barat), KH. TB. Hasan Basri (BKSPPI Bogor) dan KH Abdul Manaf Mukhayyar (Pesantren Darunnajah Jakarta).
Tahun1988 Pondok Pesantren Darul Muttaqien kemudian resmi didirikan, dengan KH Mad Rodja Sukarta yang diberi amanah untuk menjadi pimpinan. Hingga saat ini kegiatan pendidikan yang diselenggarakan Pondok Pesantren Darul Muttaqien meliputi : TK Islam, SD Islam Terpadu, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SMP Islam Terpadu, Pesantren Salafiyah, TPA serta madrasah Diniyah. [Muhammad Khaerul Muttaqien]




















