Bogor, Gontornews — Sebuah lahan di Desa Cileungsi, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, yang dulu hanyalah semak belukar, kini berubah menjadi sebuah pesantren bertingkat yang memancarkan cahaya ilmu. Perjalanan pendirinya tidak dimulai dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan dan tekad yang kuat.
Drs KH Yadi Suryadi merupakan tokoh utama di balik berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Koposari, Cileungsi, Bogor. Dengan penuh keikhlasan, sang kiai telah mengubah tempat sunyi tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam hingga saat ini.
Perjalanan KH Yadi tidaklah dimulai dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan dan tekad yang kuat. “Dulu tempat ini hanya hutan dan tanah kosong. Kami bangun dari nol, dengan niat semata-mata untuk mencetak generasi yang cinta ilmu,” kenang KH Yadi dengan nada lembut.
Awalnya, pengajian hanya berlangsung di rumah papan sederhana dengan tikar dan papan tulis seadanya. Namun, semangat belajar yang tumbuh di hati masyarakat membuat langkah kecil itu berubah menjadi gerakan besar. Kini, Ponpes Darussalam Koposari menjadi tempat bernaung bagi ratusan santri dari berbagai daerah, menimba ilmu, dan meneladani semangat perjuangan pendirinya.
Di balik kisah perjuangan KH Yadi, terdapat inspirasi dari tokoh-tokoh yang lebih dulu menanamkan nilai perjuangan di tanah itu. Salah satunya adalah Nurjamal, putra dari Nenek Juwarsih, yang dikenal masyarakat sebagai sosok dermawan dan berjiwa sosial tinggi. Ia turut menjadi saksi bagaimana pondok ini perlahan berdiri serta ikut membantu dari sisi tenaga, doa, dan dukungan moral.
Tiga sosok lintas generasi (Nenek Juwarsih, Bapak Nurjamal, dan KH Yadi Suryadi), meski tidak dalam garis keluarga langsung, tapi mereka memiliki satu kesamaan semangat untuk menegakkan syiar Islam dengan cara yang sederhana, namun penuh makna. “Kami hanya punya niat dan keyakinan, sisanya Allah yang menyempurnakan,” tekan KH Yadi Suryadi.
Perjuangan Tak Pernah Padam
Bagi KH Yadi, perjuangan membangun pesantren bukan hanya tentang mendirikan gedung, tetapi membangun manusia. Dalam aksi dakwahnya, ia pun turun langsung ke lapangan, mengajar anak-anak mengaji, membantu warga yang sakit, bahkan menginisiasi kegiatan sosial demi mempererat hubungan pesantren dengan masyarakat sekitar.
“Dakwah itu bukan hanya ucapan, tapi keteladanan. Kalau kita hadir untuk masyarakat, maka ajakan kita akan didengar,” ucapnya penuh keyakinan.
Kini, Ponpes Darussalam Koposari telah menjadi wadah pembinaan akhlak dan ilmu yang hidup di tengah masyarakat. Santri-santri diajarkan untuk tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga berperan aktif dalam kegiatan sosial. Program pesantren seperti Santri Berbagi dan Darussalam Peduli, menjadi wujud nyata dari nilai pengabdian yang ditanamkan oleh KH Yadi.
Dalam setiap pengajian, ia selalu menekankan akan pentingnya keikhlasan dalam beramal. “Ilmu tanpa amal adalah hampa dan amal tanpa niat adalah sia-sia,” pesannya yang sering diulang di hadapan para santri.
Kesederhanaan dan keteguhan KH Yadi membuatnya dihormati bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai panutan masyarakat. Ia selalu percaya bahwa dakwah sejati tidak harus besar di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah. “Jangan takut memulai dari kecil! Karena dari gubuk yang sunyi pun, bisa lahir peradaban yang bersinar,” pesan kiai penuh karisma.
Memberikan makna perjuangan, kepada Majalah Gontor Kiai Yadi menegaskan, “Jangan kau pikirkan pengorbanan, matangkan terus perjuangan!” Artinya, lanjut sang kiai, untuk selalu maju dan fokus ke depan, tanpa melihat kanan dan kiri. [Irfan Fadhillah]





















