Bogor, Gontornews — Di tengah arus zaman yang kian jauh dari nilai-nilai al-Qur’an, muncul sosok yang berjuang menyalakan kembali lentera iman dari sebuah kampung di Cileungsi, Bogor. Dialah KH Salman Al-Farisi Lc, Pendiri Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Tanwiirul Qulub, yang berdiri di Kampung Kaum RT 03, RW 02, Desa Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dengan tekad dan kesabaran, ia membangun pesantren ini dari nol, berbekal cinta kepada al-Qur’an dan semangat dakwah yang tak pernah padam.
Perjalanan hidup Abah Salman (begitu ia disapa) bermula pada tahun 1992 ketika mondok di Pondok Pesantren Ilmu al-Qur’an (PPIQ) Ciomas, sebuah pesantren tahfizh dan kitab. Setelah itu, Abah melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Demak dan Rembang, Jawa Tengah, untuk memperdalam hafalan serta tafsir al-Qur’an. Hingga akhirnya menimba ilmu ke Madura dan Magelang guna memperluas wawasan keislamannya.
Selama 15 tahun hidupnya dihabiskan di pesantren. Sebuah perjalanan panjang menempanya menjadi pribadi yang sabar, tawadhu, dan istiqamah. Setelah menikah pada tahun 2007, Abah Salman pun mantap memilih jalur dakwah dan pendidikan sebagai jalan pengabdian.
Bagi Abah Salman, dakwah merupakan panggilan hidup untuk menuntun manusia menuju cahaya petunjuk. Ia berpegang pada tiga prinsip utama: memberikan petunjuk bagi manusia (huda linnas), memberi arah kehidupan, dan menebarkan keberkahan melalui al-Qur’an. “Saya ingin masyarakat sekitar hidup bercahaya dengan al-Qur’an,” tuturnya penuh keyakinan.
Perjuangan yang Tak Kenal Lelah
Cita-cita itu mulai diwujudkan pada tahun 2012, ketika Abah Salman merintis Ponpes Tanwiirul Qulub. Kala itu, bangunan yang ada sangat sederhana dan hanya tiga santri yang bersamanya membantu pembangunan pondok. Sebelum menjadi pesantren, tempat tersebut hanyalah majelis ta’lim kecil.
Lokasi di Cileungsi dipilih bukan tanpa alasan, selain mengikuti jejak Rasulullah SAW yang berdakwah di tempat kelahirannya, Abah Salman juga terinspirasi oleh pesan sang nenek yang berujar, “Jadikan rumah ini untuk ibadah.” Kalimat sederhana itu menjadi cambuk spiritual yang menguatkan langkahnya untuk menjadikan rumah warisan keluarga sebagai pusat dakwah.
Namun, perjalanan itu tidak mulus. Pada awal perintisan, masyarakat sekitar sempat meragukan kemampuan dan niatnya karena keterbatasan ekonomi. Tapi, Abah Salman tetap teguh. Ia hanya bersandar pada doa dan keyakinan.
Hingga suatu hari, seorang guru datang berkunjung dan berkata lirih, “Tempat ini sudah ada buahnya.” Ucapan itu menjadi penyemangat yang meneguhkan hatinya untuk terus melangkah. Dari sanalah cahaya Tanwiirul Qulub mulai menyala, menerangi hati para santri dan masyarakat sekitar.
Abah Salman mengakui, perjuangan ini tidak lepas dari dukungan keluarga. “Orang yang paling membantu, ibu dan istri saya,” ujarnya haru. Ia menegaskan bahwa pesantren ini tidak dibangun dengan bantuan lembaga mana pun, melainkan buah dari ketulusan dan perjuangan keluarga yang yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.
Kini, Tanwiirul Qulub bukan sekadar tempat menghafal al-Qur’an, tetapi juga wadah pembinaan akhlak dan pendidikan kehidupan Qur’ani. Dalam setiap kesempatan, Abah Salman selalu berpesan kepada para pemuda, “Jangan hidup dengan halusinasi, tapi hiduplah dengan inspirasi.” Sementara untuk santri, ia menegaskan, “Hiduplah dengan shalat dan Qur’an. Jika keduanya sinkron, keberkahan bukan hanya harapan, tapi kenyataan dalam kehidupan.”
Dari rumah sederhana di Cileungsi, Abah Salman menyalakan Tanwiirul Qulub, cahaya hati yang lahir dari keteguhan, cinta, dan pengabdian kepada al-Qur’an. [Irfan]





















