Dalam sebuah organisasi antara anggota harus ada kesamaan visi dan misi untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu diperlukan rekayasa momen yang di dalamnya diisi dengan pengarahan-pengarahan dalam rangka menciptakan harmonisasi antaranggota, harmonisasi program antarbagian di dalamnya dan menciptakan iklim serta atmosfer kerja yang benar, baik, dan kondusif. Karena gangguan dalam hal-hal tersebut dapat mengakibatkan menurunnya etos kerja, hilangnya filosofis kerja, goyahnya iklim kerja, dan terganggunya motivasi kerja, yang pada akhirnya menghilangkan harmonisasi antarpersonal yang ada di lingkungannya.
Hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi hal-hal tersebut di atas, perlu penyamaan persepsi pola pikir, sikap, dan tingkah laku. Pola pikir yang seharusnya dibangun dalam sebuah organisasi yaitu bahwa kepentingan umum atau orang banyak di atas kepentingan individu. Pola pikir semacam ini akan melahirkan jiwa perjuangan, sikap berkorban, semangat bergerak dan menggerakkan, berjuang dan memperjuangkan, hidup dan menghidupi, yang akhirnya menjadi manusia yang paling baik, yaitu manusia yang lebih bermanfaat untuk orang lain, خير الناس انفعهم للناس sebaik-baik manusia yaitu yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dari sinilah kaliber seseorang bisa dinilai, sebab nilai seseorang setingkat dengan kebaikan yang dia perbuat untuk orang lain, قيمة المرء بقدر ما يحسنه kaliber sesorang diukur dengan banyaknya kebaikan yang diperbuatnya untuk orang lain, dan di sini pula akan tampak satu orang tapi harganya seribu atau sebaliknya, والناس الف منهم كواحد# وواحد كالالف ان امر عني manusia itu bisa jadi jumlahnya seribu, akan tapi nilainya satu atau sebaliknya satu tapi harganya seribu tergantung seberapa besar perhatiannya terhadap kepentingan umum atau kepentingan orang lain.
Selanjutnya persamaan sikap. Di sini tidak hanya diartikan sikap yang berupa moral, tapi lebih kepada bagaimana menyikapi tugas-tugas yang diembannya dalam organisasi, lembaga, atau instansi. Dalam menyikapi tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban anggota organisasi bisa terbagi ke dalam tiga kelompok, ada yang hanya ikut kebesaran organisasi, ada yang mencari kebesaran melalui organisasi tersebut, dan ada yang berniat ikut memberikan kontribusi dalam rangka membesarkan organisasi. Hal tersebut barangkali sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah ayat al-Qur’an, ثم اورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق باذن الله ذلك هو الفضل الكبير yang artinya: “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS Fatir: 32)
Kalau dalam bahasa Jawa ada golongan yang nunut kamukten, golek kamukten, dan gawe kamukten. Sebuah organisasi dengan sejumlah anggotanya yang tentunya memiliki tujuan yang akan dicapai Bersama, laksana sebuah kendaraan yang dikemudikan oleh pimpinan sebagai pengemudinya dan akan berjalan menuju suatu tempat bersama penumpangnya. Di antara penumpang ada yang ketika masuk kendaraan, duduk langsung tidur, ada sebagian penumpang yang selalu mengomel mengomentari kendaraan yang ditumpanginya, jalan yang dilewati, bahkan supir yang mengemudikan, padahal dia sendiri baru pertama naik mobil dan melewati jalan tersebut dan tidak pernah mengemudikan mobil, ada juga sebagian penumpang yang berusaha membantu lancarnya perjalanan, membantu mengingatkan supir, menunjukkan jalan dan lain sebagainya. Ketiga tipe penumpang pada akhirnya sampai juga di tujuan. Akan tetapi kualitasnya bertingkat-tingkat dengan kesan yang berbeda-beda. Begitulah gambaran orang atau anggota dalam sebuah organisasi.
Yang ketiga persamaan tingkah laku, yang di sini bukan hanya tingkah laku yang baik dalam berorganisasi, tapi bagaimana seseorang bisa menempatkan dirinya sesuai dengan tugas, peran, dan fungsinya sebagaimana struktur yang disepakati dan kultur yang sudah menjadi tradisi. Hal ini sangat penting untuk terjalinnya harmonisasi dan terciptanya iklim organisasi yang kondusif, siapa mengerjakan apa, dan bertanggungjawab kepada siapa?
Manakala tiga hal tersebut bisa disamakan, maka akan tercipta disiplin pola pikir, disiplin sikap, dan disiplin tingkah laku. Ketika disiplin ditegakkan berarti anggota organisasi merupakan manusia yang mampu menjaga kehormatannya, karena disiplin merupakan harga diri dan kehormatan, manakala seseorang memegangnya berarti telah menjaga harga diri dan kehormatannya, dan itu kunci keberhasilan sebuah organisasi, sebab tidak ada kemajuan apapun tanpa disiplin yang ditegakkan.
Dengan proses-proses di atas diharapkan terbangunnya karakter dasar dan karakter unggul pada diri seseorang yang dapat mengantarkan dia menjadi manusia baik, karakter tidak egois, jujur, dan disiplin, dan menjadi perilaku sehari-hari. Ketiga karakter tersebut harus ada dan tidak bisa ditawar-tawar, ini prinsip dasar. Salah satu tidak dipenuhi, gagallah dia. Orang egois pasti merusak sistem, orang tidak jujur akan menghancurkan kepercayaan, orang tidak disiplin mengakibatkan rentetan kelambatan yang merusak sistem.
Siapa yang belum memiliki ‘karakter dasar’, jangan bercita-cita maju, bina diri saja tidak bisa apalagi hendak menjadi manusia unggulan. Bagi yang ‘karakter dasar’-nya terdidik, itu modal untuk maju dan unggul. Namun, itu belum cukup. Ia harus memenuhi ‘karakter unggul’ yang juga mesti dilatih menjadi perilaku sehari-hari.
Setidaknya ada tujuh nilai pembentuk karakter unggul, yaitu: ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh.
Keberadaan dua karakter dalam diri seseorang akan mengantarnya menjadi manusia yang baik, maju, dan unggul. Hanya saja, keduanya tidak datang begitu saja. Perlu dilatih, karena tanpa latihan yang keras, gigih, dan pantang menyerah, mustahil seseorang akan mencapainya.
Disiplin dalam berorganisasi merupakan sebuah keharusan, bahkan disiplin harusnya dimiliki tiap orang. Siapa yang disiplin, pekerjaan cenderung beres. Disiplin menjadi bagian penting rapinya pekerjaaan, tertatanya jadwal serta menjadi cikal bakal lancarnya pekerjaan lain. Karena disiplin memperlihatkan kualitas seseorang. Satu disiplin akan lahirkan kedisiplinan yang lain. Tidak disiplin itu tanda kemalasan.
Barangkali ada orang tidak disiplin, biarlah ketidakdisiplinannya untuk dirinya sendiri. Tetapi begitu berada di suatu lembaga, organisasi, atau institusi, ketidakdisiplinannya merusak sistem. Karena tidak disiplin memberi kontribusi rusaknya tatanan, aturan, dan sistem. Tim butuh kedisiplinan untuk memenangkan pertandingan. Perusahaan butuh kedisiplinan agar mekanisme bisa berjalan normal. Pasukan butuh kedisiplinan agar tidak dibantai lawan. Ketika diwawancarai, Mahathir Mohammad mengatakan, “Bangsa yang tidak disiplin, jangan bercita-cita bisa maju.”
Wallahu a’lam. []






















