Pendahuluan: Disorientasi Pendidikan Nasional
Pendidikan nasional Indonesia telah mengalami perjalanan panjang yang diwarnai oleh ketidakpastian orientasi. Sejak kemerdekaan hingga hari ini, Indonesia telah berganti kurikulum setidaknya sepuluh kali—dari Kurikulum 1947 hingga Kurikulum Merdeka—sebuah fenomena yang oleh para pengamat sering disebut sebagai “ganti menteri, ganti kurikulum.” Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan mencerminkan kebingungan fundamental tentang apa sebenarnya tujuan pendidikan nasional.
Tarik-menarik ideologis terus terjadi: apakah pendidikan harus berorientasi pada pembentukan karakter bangsa, penyiapan tenaga kerja terampil, atau pencapaian standar akademik internasional? Dokumen-dokumen kebijakan pendidikan sering kali menyebutkan semua tujuan ini secara bersamaan tanpa prioritas yang jelas, menghasilkan implementasi yang tercerai-berai di lapangan.
Di tengah kegamangan ini, sebuah institusi pendidikan indigenous justru menunjukkan ketahanan luar biasa. Pondok pesantren, yang telah ada sejak abad ke-15, tidak hanya bertahan tetapi berkembang pesat. Indonesia kini memiliki lebih dari 30.000 pesantren dengan jutaan santri. Bagaimana mungkin institusi “tradisional” ini mampu bertahan berabad-abad sementara sistem pendidikan modern terus mencari jati diri?
Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui kerangka konseptual Golden Circle yang diperkenalkan Simon Sinek.
Kerangka Golden Circle: Memulai dari “Why”
Simon Sinek dalam konsep Golden Circle menjelaskan bahwa organisasi atau gerakan yang bertahan lama dan mampu menginspirasi selalu beroperasi dari dalam ke luar—dimulai dari WHY, kemudian HOW, dan terakhir WHAT. WHY adalah purpose, alasan eksistensial mengapa sesuatu ada. HOW adalah proses, nilai-nilai, dan cara-cara distingtif dalam mewujudkan WHY. WHAT adalah manifestasi konkret berupa produk atau layanan yang dihasilkan.
Kebanyakan organisasi, menurut Sinek, beroperasi terbalik: mereka sangat jelas tentang WHAT yang mereka produksi, cukup jelas tentang HOW cara mereka bekerja, namun kabur tentang WHY mereka ada. Organisasi semacam ini mudah goyah ketika lingkungan berubah karena tidak memiliki jangkar eksistensial.
Pendidikan nasional Indonesia, dalam perspektif ini, mengalami krisis WHY. Berbagai perubahan kurikulum lebih banyak berkutat pada WHAT (mata pelajaran apa yang diajarkan) dan HOW (metode pembelajaran seperti apa yang digunakan) tanpa kejelasan mendalam tentang WHY—untuk apa sebenarnya pendidikan Indonesia diselenggarakan dan manusia seperti apa yang hendak dilahirkan.
Pesantren dan Kejelasan WHY
Pesantren, sebaliknya, lahir dan bertahan karena kejelasan WHY yang mengakar. Misi fundamental pesantren adalah tafaqquh fi al-din—pendalaman pemahaman agama—yang bersumber dari perintah al-Qur’an dan dioperasionalisasikan dalam pembentukan manusia yang ‘alim (berilmu), ‘amil (mengamalkan ilmu), dan muballigh (menyebarkan kebaikan). WHY ini bukan konstruksi politis yang bisa diubah oleh pergantian rezim; ia adalah panggilan teologis yang diyakini sebagai kewajiban abadi.
Kejelasan WHY inilah yang menjadikan pesantren memiliki daya tahan luar biasa. Ketika pemerintah kolonial menekan, pesantren bertahan. Ketika modernisasi menggempur, pesantren beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Ketika pandemi melanda, pesantren menemukan cara untuk tetap beroperasi. Semua tantangan tersebut dapat dihadapi karena ada keyakinan eksistensial yang tidak tergoyahkan tentang mengapa institusi ini harus ada.
Kesamaan WHAT: Manifestasi Universal Misi Pesantren
Jika kita amati ribuan pesantren di Indonesia—dari Lirboyo di Jawa Timur hingga Gontor di Ponorogo, dari Tebuireng di Jombang hingga pesantren-pesantren di Sumatera dan Kalimantan—kita akan menemukan kesamaan mendasar dalam WHAT yang mereka hasilkan.
Semua pesantren pada dasarnya menghasilkan output yang serupa: santri yang memiliki pemahaman keagamaan, kemampuan membaca dan memahami teks-teks klasik Islam, kebiasaan ibadah yang teratur, dan karakter yang dibentuk melalui kehidupan komunal. Santri dari berbagai pesantren dapat saling mengenali “bahasa” yang sama—baik dalam pengertian literal (kemampuan membaca kitab kuning) maupun figuratif (nilai-nilai dan adab yang dihayati).
Kesamaan WHAT ini konsekuensi logis dari kesamaan WHY. Karena semua pesantren bertitik tolak dari misi yang sama—tafaqquh fi al-din dan pembentukan kader Muslim yang utuh—maka produk akhir yang dihasilkan pun memiliki karakteristik universal.
Variasi HOW: Sumber Keunikan dan Kekayaan
Namun, jika WHY dan WHAT relatif sama, bagaimana kita menjelaskan keragaman luar biasa dalam dunia pesantren Indonesia? Jawabannya terletak pada tataran HOW—proses, metode, nilai-nilai operasional, dan tradisi distingtif yang dikembangkan masing-masing pesantren dalam mewujudkan misi mereka.
Inilah titik tempat kreativitas dan keunikan masing-masing pesantren termanifestasi. Pesantren Lirboyo memilih HOW berupa pembelajaran kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan yang intensif, mempertahankan tradisi salafiyah murni. Pesantren Tebuireng mengembangkan HOW yang mengintegrasikan pendidikan formal modern dengan tradisi pesantren. Pesantren Gontor menciptakan HOW yang sangat distingtif melalui sistem Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah dengan penekanan pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris secara aktif.
Variasi HOW ini bukan penyimpangan dari misi, melainkan ekspresi kreatif dalam mencapai tujuan yang sama. Setiap pesantren, dengan konteks historis, geografis, dan sosiologisnya yang unik, mengembangkan cara-cara khas yang dianggap paling efektif untuk mewujudkan WHY mereka. Hasilnya ekosistem pesantren yang kaya dan beragam, masing-masing dengan “warna” dan “madzhab” pendidikannya sendiri, namun tetap berbagi fundamen yang sama.
Gontor sebagai Studi Kasus: Artikulasi HOW melalui Tritunggal Kurikulum.
Pondok Modern Darussalam Gontor memberikan ilustrasi sangat baik tentang bagaimana artikulasi HOW yang jelas dan sistematis dapat menjadi pembeda sekaligus kekuatan institusional. Gontor mengembangkan konsep tritunggal kurikulum—intra-curricular, co-curricular, dan extra-curricular—yang terintegrasi secara holistik.
Dimensi Intra-Kurikuler di Gontor termanifestasi dalam Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), sistem pendidikan formal enam tahun yang memadukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu umum. Yang distingtif penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar, bukan sekadar mata pelajaran. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan Gontor bahwa bahasa merupakan “mahkota pesantren” dan pintu gerbang menuju khazanah keilmuan global.
Dimensi Ko-Kurikuler mencakup aktivitas-aktivitas yang secara langsung mendukung dan memperkuat kurikulum formal. Muhadharah (latihan pidato) misalnya, bukan sekadar kegiatan sampingan tetapi wahana penerapan kemampuan berbahasa yang dipelajari di kelas. Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) menjadi laboratorium kepemimpinan, tempat teori-teori manajemen dan kepemimpinan Islam yang dipelajari di kelas diuji dalam praktik nyata. Kegiatan ko-kurikuler ini menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan kemampuan praktis.
Dimensi Ekstra-Kurikuler memberikan ruang bagi pengembangan minat, bakat, dan potensi individual santri di luar kerangka akademik formal. Pramuka yang dijadikan wajib di Gontor bukan sekadar kegiatan rekreatif, melainkan wahana pembentukan karakter melalui pengalaman langsung. Berbagai unit kegiatan—dari olahraga hingga kesenian, dari jurnalistik hingga keterampilan vokasional—memastikan bahwa setiap santri memiliki kesempatan menemukan dan mengembangkan potensi uniknya.
Integrasi ketiga dimensi ini menciptakan total education environment. Seluruh waktu santri—24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun—menjadi momentum pendidikan. Tidak ada dikotomi antara “waktu belajar” dan “waktu luang”; semuanya pembelajaran dalam bentuk yang berbeda. Inilah HOW yang sangat khas Gontor, dan yang membedakannya dari pesantren-pesantren lain meskipun mereka berbagi WHY dan menghasilkan WHAT yang serupa.
Panca Jiwa dan Motto: Artikulasi Nilai sebagai Komponen HOW
Yang membuat HOW Gontor semakin distingtif yaitu artikulasi eksplisit nilai-nilai yang mendasari seluruh proses pendidikan. Panca Jiwa—keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan—bukanlah slogan kosong, melainkan prinsip-prinsip operasional yang membentuk setiap aspek kehidupan pesantren.
Keikhlasan menentukan bagaimana hubungan kiai-santri dibangun: bukan transaksional, melainkan pengabdian. Kesederhanaan membentuk gaya hidup di pesantren: tidak ada diferensiasi berdasarkan latar belakang ekonomi. Berdikari mendorong santri untuk tidak bergantung pada orang lain dan pada akhirnya memampukan pesantren untuk mandiri secara institusional. Ukhuwah Islamiyah menciptakan solidaritas yang melampaui sekat etnis, daerah, atau status sosial. Kebebasan memberikan ruang bagi pemikiran kritis dan kemandirian intelektual.
Nilai-nilai ini, yang diartikulasikan dalam motto “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas,” membentuk distinctive character lulusan Gontor yang dapat dikenali bahkan dalam keragaman profesi dan kiprah mereka pascapesantren.
Otokritik: Tantangan Relevansi dan Imperatif Pembaruan HOW
Meskipun pesantren telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, kejujuran intelektual menuntut kita untuk juga mengakui bahwa tidak semua pesantren berhasil menavigasi perubahan zaman dengan sama baiknya. Kejelasan WHY memang menjadi jangkar eksistensial, namun ia tidak secara otomatis menjamin relevansi dan efektivitas institusional. Di sinilah otokritik menjadi niscaya.
Jebakan Romantisme Tradisi
Sebagian pesantren terjebak dalam apa yang bisa disebut “romantisme tradisi”—keyakinan bahwa mempertahankan HOW yang sama persis dengan masa lalu merupakan bentuk kesetiaan tertinggi terhadap WHY. Padahal, yang perlu dijaga adalah substansi misi, bukan fosil metode.
Ketika sebuah pesantren menolak mengintegrasikan teknologi digital dalam pembelajaran bukan karena pertimbangan pedagogis yang matang, melainkan sekadar karena “dulu tidak begitu,” maka yang terjadi bukanlah pelestarian tradisi, melainkan stagnasi.
Penting untuk membedakan antara tradisi yang hidup dan tradisi yang membeku. Tradisi yang hidup terus bergerak, beradaptasi, dan menemukan ekspresi baru tanpa kehilangan ruh. Tradisi yang membeku menyembah bentuk sembari kehilangan makna.
Kesenjangan Kompetensi dalam Menghadapi Kompleksitas Modern
Lulusan pesantren, dengan segala kekuatan karakternya, kerap menghadapi kesenjangan kompetensi ketika memasuki dunia profesional modern. Kemampuan berpikir analitis-kritis, literasi digital, keterampilan riset, dan penguasaan metodologi ilmiah kontemporer sering kali tidak mendapat porsi memadai dalam kurikulum pesantren konvensional.
Ini bukan soal meninggalkan kajian kitab kuning atau mengurangi intensitas ibadah—keduanya elemen esensial dari HOW yang telah teruji. Ini soal menambahkan lapisan kompetensi baru yang dibutuhkan agar santri tidak hanya shalih secara spiritual, tetapi juga kompeten secara profesional dan kontributif secara sosial.
Pembaruan HOW: Antara Keberanian dan Kearifan
Lantas, bagaimana pesantren dapat memperbarui HOW-nya tanpa tercerabut dari WHY? Beberapa prinsip dapat menjadi panduan.
Pertama, bedakan antara prinsip dan praktik. Prinsip kesederhanaan, misalnya, merupakan nilai abadi yang harus dipertahankan. Namun praktik kesederhanaan pada abad ke-21 tidak harus identik dengan praktik kesederhanaan abad ke-19. Santri dapat menggunakan laptop untuk riset tanpa melanggar prinsip kesederhanaan, selama tidak jatuh pada konsumtivisme dan ketergantungan teknologi.
Kedua, adopsi selektif dan kritis terhadap inovasi. Tidak semua yang baru itu baik, tetapi tidak semua yang lama itu terbaik. Pesantren perlu mengembangkan kapasitas untuk mengevaluasi inovasi—baik pedagogis, teknologis, maupun manajerial—berdasarkan kesesuaiannya dengan WHY, bukan sekadar menolak karena asing atau menerima karena populer.
Ketiga, kembangkan bilingual competence—kemampuan untuk “berbicara” dalam dua bahasa: bahasa tradisi pesantren dan bahasa dunia modern. Santri perlu mampu mengkaji Ihya’ Ulumiddin sekaligus memahami artificial intelligence, mendalami ushul fiqh sekaligus menguasai metodologi penelitian kontemporer. Bukan untuk mencampuradukkan, melainkan untuk menjembatani dan menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam konteks kekinian.
Keempat, perkuat dimensi problem-solving dalam pendidikan. Misi tafaqquh fi al-din pada hakikatnya merupakan misi untuk memahami agama agar dapat menjadi solusi bagi kehidupan. Jika pesantren hanya menghasilkan lulusan yang tahu tentang agama tetapi tidak mampu menerapkan pengetahuan itu untuk menjawab problem kontemporer—dari krisis lingkungan hingga disrupsi ekonomi digital—maka misi tersebut baru tercapai setengah jalan.
Keberanian untuk Berubah, Kejujuran untuk Evaluasi
Pembaruan HOW membutuhkan dua hal yang tidak mudah: keberanian untuk berubah dan kejujuran untuk mengevaluasi. Banyak pesantren yang enggan berubah karena takut dikritik “tidak salaf” atau “kebarat-baratan.” Banyak pula yang sudah berubah tetapi tidak jujur mengevaluasi apakah perubahan itu sungguh membawa perbaikan atau justru pengerdilan.
Gontor, dalam sejarahnya, pernah dianggap “terlalu modern” oleh pesantren-pesantren tradisional. Namun waktu membuktikan bahwa Gontor tidak kehilangan ruh kepesantrenannya; ia justru memperluas jangkauan dan dampak misi pesantren ke wilayah-wilayah baru. Keberanian para pendirinya untuk memperbarui HOW, sambil teguh pada WHY, merupakan teladan yang patut direnungkan.
Kritik terhadap Diri Sendiri sebagai Tanda Kedewasaan
Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri merupakan tanda kedewasaan institusional. Pesantren yang sehat yaitu pesantren yang berani bertanya: “Apakah cara-cara kami masih efektif untuk mewujudkan misi kami? Apakah lulusan kami benar-benar siap menghadapi dunia yang mereka masuki? Di mana kelemahan kami, dan bagaimana memperbaikinya?”
Otokritik ini bukan pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan bentuk tertinggi dari kesetiaan—kesetiaan yang tidak buta, yang berani melihat kekurangan demi perbaikan, yang mencintai institusi bukan dengan memujanya tetapi dengan terus menyempurnakannya.
Dengan demikian, pesantren dapat terus maju—relevan dengan zaman, kompetitif dalam kualitas, kontributif bagi peradaban—tanpa kehilangan identitas dan jati diri yang telah membuatnya bertahan berabad-abad. WHY tetap menjadi kompas, WHAT tetap menjadi tujuan, namun HOW terus berevolusi mengikuti tuntutan zaman dan kebutuhan umat.
Implikasi bagi Pengembangan Pesantren
Analisis Golden Circle ini memberikan beberapa insight penting bagi pengembangan pesantren.
Pertama, setiap pesantren perlu memastikan bahwa WHY mereka tetap jelas, dihayati bersama, dan menjadi rujukan setiap keputusan institusional. Erosi WHY—misalnya karena pragmatisme ekonomi atau tekanan pasar—akan mengancam kelangsungan jangka panjang.
Kedua, kesamaan WHY dan WHAT bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang mempersatukan pesantren sebagai sebuah gerakan. Solidaritas antar-pesantren dapat dibangun di atas fundamen bersama ini.
Ketiga, variasi HOW harus dilihat sebagai kekayaan, bukan ancaman. Setiap pesantren bebas dan bahkan didorong untuk mengembangkan HOW yang paling sesuai dengan konteks dan keunggulan mereka, selama tetap setia pada WHY yang sama.
Keempat, artikulasi HOW yang eksplisit dan sistematis—sebagaimana ditunjukkan Gontor dengan konsep Panca Jiwa, tritunggal kurikulum, dan motto-nya—membantu institusi mempertahankan konsistensi lintas generasi dan memudahkan komunikasi identitas kepada stakeholder.
Penutup: Pelajaran bagi Pendidikan Nasional
Ketahanan pesantren selama berabad-abad menawarkan pelajaran berharga bagi pendidikan nasional yang masih mencari orientasi. Bukan metode pengajaran atau struktur kurikulum yang paling menentukan keberlanjutan sebuah sistem pendidikan, melainkan kejelasan tentang WHY—tujuan eksistensial yang diyakini bersama dan menjadi kompas dalam setiap perubahan.
Pendidikan nasional perlu menemukan kembali atau merumuskan ulang WHY-nya dengan cara yang dapat dihayati bersama oleh seluruh pemangku kepentingan. Selama WHY masih kabur atau sekadar menjadi retorika dokumen kebijakan, perubahan-perubahan di tataran HOW dan WHAT akan terus terasa seperti langkah tanpa arah—sibuk bergerak namun tidak tahu menuju ke mana.
Pesantren, dengan segala keterbatasannya, telah menunjukkan bahwa organisasi yang dimulai dari WHY yang jelas mampu bertahan melampaui perubahan zaman, beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, dan terus menginspirasi generasi demi generasi. Itulah esensi dari apa yang Simon Sinek sebut sebagai kekuatan organisasi yang “start with why.”
Namun, pesantren juga perlu terus mengingatkan dirinya sendiri: kejelasan WHY saja tidak cukup. Diperlukan keberanian untuk terus memperbarui HOW agar misi abadi dapat terwujud dalam konteks yang terus berubah. Hanya dengan keseimbangan antara kesetiaan pada WHY dan fleksibilitas dalam HOW, pesantren akan tetap menjadi institusi yang relevan, transformatif, dan—yang terpenting—tetap setia pada panggilannya untuk membentuk manusia yang utuh. Wallahu a’lam bi al-shawab. []




















