15
Tonton Selengkapnya
30 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Sunday, 7 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Kebhinekaan dan Multikulturalisme Adakah Relasinya dengan Surga dan Neraka ?

Oleh: Ahmad Sastra, Cendikiawan Muslim

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
28 April 2019
in Kolom
0
Kebhinekaan dan Multikulturalisme Adakah Relasinya dengan Surga dan Neraka ?

Muncul di media sosial seorang anak belasan tahun menghadap membelakangi kamera seraya memperlihatkan kaos biru yang dipakainya, bertuliskan : kalo surga milik kaummu, biarkan kami di neraka dengan kebhinekaan. Terlepas dari hanya sebuah tulisan, remaja itu mencoba menghubungkan istilah kebhinekaan dengan surga dan neraka. Benarkah demikian?

Mungkin remaja itu hanya emosional belaka, tidak memahami tulisan di kaosnya dalam sudut pandang intelektual atau spiritual. Mungkin remaja itu baru minum racun pemikiran liberal, sehingga tak sadar diri yang berujung pada ucapan ngawur. Remaja itu tidak bisa membedakan antara pluralitas dan pluralisme, antara multikultural dan multikulturalisme. Remaja itu mungkin belum belajar tentang modernisme, neomodernisme dan postmodernisme.

Istilah pluralitas atau multikultural memiliki kandungan sifat keragaman yang didasarkan oleh realitas sosiologis. Keragaman sosiologis adalah sebuah keniscayaan seperti perbedaan warna kulit, suku bangsa, bahasa, jenis kelamin dan agama. Sementara akhiran isme dalam istilah pluralisme atau multikulturalisme adalah suatu aliran postmodernisme yang berdimensi teologis dan ideologis yang diharamkan oleh Islam.

Pluralisme dengan multikulturalisme adalah setali mata uang, keduanya sama-sama aliran pemikiran Barat yang diharamkan Islam. Isme-isme lain yang diharamkan oleh Islam adalah komunisme, kapitalisme, feminisme, ateisme, nasionalisme, permisivisme, liberalisme, sekulerisme, kolonialisme, imperialisme, hedonisme, sinkretisme, dan yang sejenisnya. Isme-isme yang bermakna aliran ideologis dan teologis menyelahi ajaran Islam.

BACA JUGA

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Struktur dan Kultur

Mengenal Gareth Morgan di Balik Metafora Organisme Pesantren

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Mendidik Manusia, Bukan Mesin

MUI sendiri pada tahun 2005 telah mengeluarkan fatwa haram atas paham sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama. Fatwa ini ditetapkan di Jakarta, 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M, sebagai hasil Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia yang ditandatangani oleh Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa, Sekretaris Drs. Hasanuddin, M.Ag dan ketua K.H. Ma’ruf Amin.

MUI mengambil dalil dari Al Qur’an untuk menjadi pijakan fatwa keharaman sekulerisme, pluralisme dan liberalisme agama. Bagaimana mungkin MUI mengharamkan golput disisi lain, sementara hasil pemilu demokrasi justru sekulerisme, liberalisme dan pluralisme yang telah diharamkan juga. Ada banyak ayat Al Qur’an yang dijadikan pijakan fatwa paham sepilis ini, diantaranya adalah :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85). “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”. (QS. Ali Imran [3]: 19)

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. al-Kafirun [109] : 6). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.(QS. al-Ahzab [33]: 36).

Dalam fatwa MUI 2005 yang dimaksud pluralisme agama adalah suatu paham yang meng-ajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yangg bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata. Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

MUI dalam fatwanya lantas menegaskan bahwa Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Umat Islam haram mengikuti paham pluralism, sekularisme dan liberalisme agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.

Multukulturalisme merupakan istilah lain dari Pluralisme yang sudah jelas jelas di fatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), satu isi tapi di bentuk dengan pakaiaan berbeda. ”Kata multikulturalisme ini digunakan kelompok liberal sebagai usaha untuk tetap menyesatkan umat Islam yang mulai mengerti sesatnya pluralisme dan pernah difatwakan sesat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ditolak ormas-ormas Islam”.

“Sekarang ada istilah baru namanya multikulturalisme, celakanya multikulturalisme ini sudah masuk ke kurikulum pendidikan agama Islam dari SD, SMP hingga SMA,” jelasnya dalam Majelis Qiyamqu, di Jakarta Selatan belum lama ini. Inti dan substansi dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai satu kesatuan. Tanpa membedakan perbedaan budaya, etnik, gender, bahasa bahkan agama.

Jika pluralitas adalah merepresentasikan adanya kemajemukan, maka multikultural adalah penegasan bahwa dengan semua perbedaan itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Perlu kita pahami bahwa multikulturalisme bukanlah hanya sebagai wacana, tetapi merupakan sebuah ideologi. Yaitu ideologi yang dikembangkan melalui bangunan perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut diramu sehingga menghasilkan teori bahwa tidak ada klaim kebenaran (truth claim) dan superior diantara golongan.

Karena menurut paham ini kebenaran itu relatif dan manusia tidak dapat meraih kebenaran yang absolut. Sedangkan menurut Islam kebenaran absolut dapat diraih manusia melalui wahyu, akal, dan panca indera. Selain itu Allah juga mengutus Rasulullah SAW untuk menunjukan kebenaran tersebut, sehingga keragu-raguan terhadap kebenaran Islam dapat dihilangkan.

Menurut sejarahnya multikulturalisme lahir di Amerika sebagai perwujudan dari posmodernisme. Multikulturalisme adalah varian teori perbedaan (West,1998;Collins; Lemert,1993) yang mengambil ide dari gagasan posmodernisme bahwa perbedaan manusia secara analitis lebih penting ketimbang kesamaan mereka (Spivak, 1988;, Butler, 1990).

Oleh karena itu, kenyataan yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah multikulturalisme. Begitupun kewajiban yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah kewajiban untuk menghormati hak-hak untuk berbeda secara budaya (the right of cultural diversity). Lebih lagi, postmodernisme yang sangat menggarisbawahi sekat-sekat yang ditimbulkan oleh incommensurability pun sama sekali tidak menganjurkan “benturan peradaban” (Huntington/Ruslani, 2000: 597). Sebaliknya yang dianjurkan ialah “toleransi” dalam bentuk norma “non-cruelty” antar manusia dan dengan demikian juga antar kebudayaan dan peradaban (Rorty, 1989: 189-198).

Multikulturalisme menganggap bahwa semua budaya dan agama adalah sama, tidak ada yang lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Kita pun diminta terbang ke atas dititik netral agama, sehingga kita bisa melihat dengan jelas masing-masing agama dengan melepaskan ikatan kita terhadap suatu agama tertentu dan melihatnya secara universal. Kemudian kita bisa mengambil apa-apa yang kita rasa sesuai dari setiap agama. Jika kita berfikir seperti itu, kita akan ragu dan cenderung skeptis terhadap ajaran Islam yang selama ini kita anut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paham ini bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam.

Pendukung multikulturalisme juga beranggapan bahwa menikah berbeda agama adalah sah. Ini dibuktikan dengan dibolehkannya kawin campur antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim, begitu juga sebaliknya. Padahal Islam melarang pernikahan beda agama. Begitu juga Islam memandang ada perbuatan baik dan buruk, dosa dan pahala, amal sholeh dan maksiat. Jika perbuatan baik dan buruk dianggap sama dan sederajat, maka buat apa kita berbuat baik ?.

Saat ini, multikulturalisme menjadi salah satu isu yang ingin dimasukan dalam dunia pendidikan. Sebab, multikulturalisme dianggap perlu untuk dikembangkan. Karena Indonesia memiliki kekayaan kultur, tradisi, dan lingkungan geografis serta demografis yang beragam. Mengingat pendidikan menempati posisi yang sangat vital. Maka diharapkan paham seperti ini dapat dicegah, sehingga tidak akan menciptakan generasi yang membingungkan dan ragu-ragu terhadap agama Islam itu sendiri. Inilah bahaya paham multikulturalisme, dan paham ini sebenarnya adalah kepanjangan dari ide pluralisme yang pada saat sekarang ini banyak ditentang oleh masyarakat. Propaganda agar masyarakat menerima LGBT sebagai realitas sosial adalah salah satu ajaran multikulturalisme. Bahkan di Amerika, LGBT adalah legal dan dilindungi oleh undang-undang negara.

Di koran Republika (12/2/2016) hlm. 9 pada judul “Dubes AS Dukung LGBT” terdapat berita : “Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia menegaskan dukungannya terhadap pernikahan sejenis di kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake bahkan mendesak Pemerintah Indonesia mengambil sikap serupa.”

Aqidah Islam sebenarnya telah dengan tegas memisahkan antara perilaku dan realitas yang didasarkan oleh keimanan dan kekufuran. Keduanya adalah dua hal yang berbeda, yang pertama bisa bisa mengantarkan kepada surga dan yang lainnya bisa mengantarkan kepada neraka. Islam memandang yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, diantara keduanya adalah subhat.

Kebhinekaan adalah keniscayaan sosial, sementara menyamakan seluruh keragaman sebagai satu kebenaran adalah kemungkaran. Islam menghargai perbedaan agama, tapi tidak mengakui kebenarannya. Sebab hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Adapun pluralisme dan multikulturalisme adalah ajaran yang menyalahi Islam yang artinya adalah sebuah kemungkaran.

Sementara masalah surga dan neraka, maka sebagaimana janji Allah, siapa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka surgalah tempat akhirnya nanti. Sementara manusia yang kafir, zolim, fasik, musyrik adalah neraka tempatnya. Keduanya tidak ada hubungannya dengan kebhinekaan. Perbedaan suku, bahasa, warna kulit, dan jenis kelamin asalkan beriman dan bertaqwa, maka akan mendapat surga. Sementara jika kafir, meski sama warna kulit, suku bangsa dan bahasa, maka tetap akan masuk neraka.

Jadi secara esensi, redaksi yang tertulis di kaos itu adalah kesalahan berganda. Seandainya remaja itu rela masuk neraka hanya karena gagal paham semoga segera menyadarinya. Jika perkatannya itu adalah sengaja karena mabok pemikiran liberal, maka remaja itu perlu diselamatkan agar bertobat. Sebab tanpa sadar, dia sedang terjerumus kepada kekafiran epistemologi, lebih bahaya lagi jika sampai kafir teologi (murtad).

Tags: KebhinekaanMultikulturalismeNerakaSurga
Share117Tweet73Send
Previous Post

Terlambat, Malaysia Tak Bisa Lagi Lepas dari Perangkap RRC

Next Post

Propaganda LGBT dan Diabolisme Intelektual

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

6 June 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

31 May 2026
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

4 June 2026
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

0
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

0
BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

0
BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

0
BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

6 June 2026
BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

6 June 2026
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

6 June 2026
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

5 June 2026
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

5 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result