Jakarta, Gontornews -— Surah al-Maidah ayat 51 terus menjadi pembahasan di beberapa tempat. Kali ini Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Jakarta membahas ayat tersebut dalam tema “Penistaan Agama: Perspektif Tafsir dan Hukum.”
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Yunahar Ilyas yang menjadi nara sumber acara tersebut menjelaskan tafsir Surah al-Maidah ayat 51 dengan mengambil kisah dari Khalifah Umar bin Khaththab RA.
Ia mengawali penjelasan dengan kata ‘awliya’ dalam surah Al-Ma’idah ayat 51, yang diakui memang banyak memiliki arti, bisa berarti teman setia, penolong, pelindung, dan juga bisa berarti pemimpin atau diartikan sebagai kekasih.
“Tergantung tempatnya di mana dan konteksnya bagaimana,” papar Kiai Yunahar dihadapan jamaah Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Jakarta. Jumat (11/11) malam.
Menurut Yunahar, ketika Amirul Mukminin (khalifah) Umar bin Al-Khathab memanggil Gubernur Abu Musa Al-Asy’ari untuk melaporkan pemasukan dan pengeluaran dalam suatu catatan lengkap. Umar menerima hasil laporan yang ditulis oleh sekretarisnya itu. Umar bin Al-Khathab merasa kagum atas laporan tersebut dan meminta Abu Musa untuk menghadapkan sekretaris itu kepadanya di masjid.
Seketika itu Abu Musa Al-Asy’ari menolak permintaan Umar Bin Khattab dan mengatakan bahwa ia tidak mungkin membawa sekretarisnya masuk ke dalam masjid. Lalu Umar Bin Khattab bertanya, “Apakah dia sedang junub?” Abu Musa Al-Asy’ari menjawab, “Tidak, dia adalah seorang Nasrani.”
Kemudian, lanjut Kiai Yunahar, Umar Bin Khathab memukul paha Abu Musa Al-Asy’ari dan mengatakan apa yang dilakukannya melanggar Surah Al-Maidah ayat 51.
“Jadi untuk akuntan saja Umar Bin Khathab tidak membolehkan apalagi jadi gubernur, apalagi jadi presiden (pemimpin), apakah yang ada di televisi itu lebih pintar dari pada Umar Bin Khattab?” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.
Terkait pengangkatan seorang pemimpin dari seorang Yahudi atau nasrasni, Kiai Yunahar mengingatkan cara Munasabah Al-Qur’an yaitu mengaitkan satu ayat dengan ayat lainnya yang berhubungan. Kiai Yunahar merujuk Surah al-Maidah ayat 52, jika ada umat Muslim yang setia kepada orang-orang kafir karena ia khawatir jika tidak didukung dia yang rugi – jika orang kafir itu tidak menang dan ia yang merasa rugi – Allah mengatakan orang-orang ini adalah orang yang munafik. [Ahmad Muhajir]























