Pripyat, Gontornews — Bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia pembangkit listrik tenaga nuklir mungkin mengenal Chernobyl. Salah satu Pembangkit listrik Chernobyl yang berdiri di Pripyat Ukraina (dulu Uni Soviet) meledak pada tahun 1986 dan menyebabkan radiasi nuklir yang luar biasa.
Akibat ledakan tersebut, sekitar 5 persen radioaktif menyebar luas di atmosfer dan ke mana arah angin bertiup. Ratusan karyawan Chernobyl yang bekerja saat insiden terjadi meninggal di tempat. Sedangkan 28 orang karyawan lain mati akibat terkena radiasi nuklir akibat ledakan di Chernobyl. Akibatnya, wilayah Chernobyl ditutup dengan alasan keamanan.
Namun, perlahan tapi pasti, banyak peneliti yang menemukan bahwa tidak semua makhluk hidup di Chernobyl terpapar radiasi nuklir. Buktinya, ada sejumlah varietas tanaman yang tidak pernah benar-benar mati di daerah dengan paparan radioaktif teraktif tersebut dan ‘kembali hidup’ setelah tiga tahun.
Science Alert mengonfirmasi jika fenomena tersebut disebabkan oleh tidak stabilnya bahan radioaktif di Chernobyl. Jika seseorang terpapar radioaktif dalam dosis tinggi maka itu akan menghancurkan struktur seluler serta menghasilkan bahan kimia reaktif yang menyerang mesin sel.
Sebaliknya, jika terpapar radioaktif dalam dosis rendah akan memutasi cara fungsi sel sehingga menyebabkan kanker dan berkembang biak secara tidak terkendali dan menyebar ke bagian-bagian tubuh yang lain.
Kini, Chernobyl berubah dengan banyaknya hewan dan tanaman yang hidup di sekitar wilayah tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin, jika sumber daya alam di sekitar Chernobyl memadai, kehidupan yang lebih baik akan kembali seperti sedia kala.
Yang terpenting, adalah bahwa radiasi Chernobyl tidak separah seperti yang pernah dibicarakan dunia. Sebaliknya, Chernobyl bahkan bisa menjadi tempat pelestarian alam terbesar di Eropa meski siklus kehidupan berada di ruang yang sangat sempit. [Mohamad Deny Irawan]




















